Friday, July 28, 2017

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu



Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam memainkan politik di dunia internasional, menjadi spirit baru bagi negara-negara Asia dan Afrika di masa lalu untuk merdeka. Kawan maupun lawan dibuat segan oleh pandangan-pandangannya. 

Mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela punya kekaguman terhadap Presiden pertama Indonesia Soekarno. Di mata Mandela, Soekarno adalah tokoh yang membakar semangatnya memperjuangkan rakyat Afrika Selatan.
Mandela merasa sangat terinspirasi dan terbakar semangatnya kala mendengar pidato Presiden Soekarno di konferensi Asia Afrika tahun 1955. Pidato itulah yang membakar perjuangannya memerdekakan rakyat Afrika Selatan.


Foto Bung Karno di dinding ruang tamu

Sederet pujian dan anugrah disematkan pada Bung Karno dalam berbagai manifestasi.  Diantaranya; Jalan Ahmad Soekarno (Mesir), Jalan Sukarno (Maroko), Jalan Sukarno (Pakistan), Masjid Biru Sukarno (St Petersburgh), Perangko Sukarno (Kuba).

Sebagai anak bangsa yang menghargai jasa para pendahulu atau pahlawan sudah selayaknya pula kita untuk mengetahui sepak terjang beliau bahkan meneruskan apa yang di cita-citakannya untuk dunia, khususnya Indonesia.
Berbicara tentang Bung Karno, tentunya banyak sekali yang cerita tentang beliau dari mulai zaman pergerakan, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia hingga akhir hayat beliau.  Tak habis-habis rasanya untuk menceritakan itu semua.

Dalam cita-cita beliau hingga membawa Indonesia Merdeka tentunya tak sedikit cerita tentang bagaimana gigihnya perjuangan yang dilakukan.
Sebagai contoh, betapa pihak penjajah saat itu mencoba meruntuhkan semangat perjuangan bangsa Indonesia dengan cara memenjarakan dan mengasingkan Bung Karno karena dianggap berbahaya oleh pihak penjajah.  Dengan cara mengasingkan, mengisolir Sukarno dari dunia luar pihak Belanda berharap semangat perjuangan Sukarno akan luntur.


Ranjang Bung Karno dan Ibu Inggit

Salah satu tempat diasingkannya Bung karno adalah Bengkulu pada tahun 1938 hingga 1942.  Rumah tempat diasingkannya Bung Karno adalah milik seorang Tionghoa yang disewa oleh Belanda.  Beliau dipindahkan ke Bengkulu dari pengasingannya di Ende.
Semangat perjuangan Bung Karno kembali berkobar.  Beliau memotivasi pemuda-pemuda Bengkulu untuk bebas dari penjajahan, meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi.
Salah satu cara pergerakan yang dilakukan Bung Karno pada masa itu melalui suatu perkumpulan pertunjukan yang bernama Monte Carlo.  Disitulah kesempatannya untuk bertemu para pemuda.  Lewat Monte Carlo pulalah Sukarno bisa mengunjungi sekolah-sekolah yang mmberi kesempatan padanya untuk menyebarkan nilai-nilai cinta tanah air dan kemerdekaan.

Di kota ini juga Bung Karno bertemu dengan Fatmawati yang kemudian menjadi istri ketiganya.  Saat berada di Bengkulu, beliau masih dengan istri ke duanya, Ibu Inggit yang pada saat diasingkan di Ende juga ikut menemani beserta anak angkatnya Ratna Djuami.
Bersama Ibu Fatmawati, Bung Karno dikarunia 5 orang anak dalam 12 tahun pernikahan mereka sebelum akhirnya berpisah.
Di rumah inilah kisah cinta Sukarno dan Fatmawait bersemi.  Adalah Hassan Din, tokoh Muhammmadiyah asal Bengkulu yang bertamu ke rumah Bung Karno beserta keluarganya.  Saat itulah pertama kali Bung Karno melihat gadis yang membuatnya jatuh cinta.Di rumah yang terletak di jantung Kota Bengkulu itu pula lah akhirnya Fatmawati menumpang dan menjadi sahabat Ratna Djuami, Teman satu sekolah dan tidur di kamar yang sama Ratna yang akhirnya menjadi ibu tirinya.

Kini rumah pengasingan yang mempunyai 2 kamar tidur, 1 kamar tidur tamu, 1 kamar kerja, 1 ruang tamu itu menjadi salah satu objek wisata di Bengkulu.


Teman-teman blogger di ruang kerja Bung Karno



Rafflesia Arnoldii, Si Cawan Hantu Dari Bengkulu




Apa yang ada di benak kamu kalau disebut kata “Bengkulu”? begitu pertanyan saya pada beberapa teman.  Jawabannya berbeda-beda, ada yang menjawab Sumatra, Melayu, hingga Tempoyak.  Ada sih yang menjawab Rafflesia, itupun karena memang sempat “googling” sesaat sebelum ke Bengkulu.
Hari itu adalah hari pertama saya menginjak tanah Bengkulu, daerah yang juga mempunyai tadisi budaya tabut yang diperingati setiap 1 sampai 10 Muharam.

Bersama dengan sekitar 30-an lebih travel blogger yang berasal dari berbagai kota, kami meninggalkan Bandara Fatmawati Soekarno untuk menuju ke daerah Curup yang merupakan ibukota kabupaten Rejang Lebong.  Kami berada di Bengkulu atas undangan dari Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu.

Di dalam bus setelah menyampaikan kata-kata sambutan, Mike sang guide mengingatkan kami bahwa kami akan melalui jalan berkelok-kelok yang dinamakan kelok Sembilan..  Dari namanya saja sudah terbayang jalanan yang berkelok-kelok seperti kelok 44 yang ada di Sumatra Barat.  Dan jangan tertipu oleh sebutannya yang sembilan, dari yang sudah kami lalui jalanan yang berliku-liku dengan tikungan tajam itu kalo dihitung-hitung bisa sekitar puluhan kelokan.

Selang sekitar 50 menitan setelah meninggalkan bandara, tiba-tiba saja bus yang kami tumpangi berhenti di pinggir jalan.  Mas Nody yang juga guide kami di hari itu, menyampaikan bahwa mereka mendapat informasi bahwa ada bunga Rafflesia yang sedang mekar di sekitar sini.  “Kita dapat informasi disini ada bunga Rafflesia yang sedang mekar nih.  Tampaknya in I hari keberuntungan kita” ujarnya.  Dan saat kami satu persatu turun dari bus, Nampak dipinggir jalan ada spanduk yang bertuliskan “Rafflesia Mekar” yang ditambahi dengan gambar bunga rafflesia seadanya. 
Tak semua orang yang datang ke Bengkulu bisa melihat secara langsung bunga ini ketika sedang mekar.  Bahkan ada yang mengaku orang Bengkulu, tapi belum pernah melihat bunga raksasa ini secara langsung.




Menurut info memang dari masyarakat lokal lah biasanya informasi dimana dan kapan bunga Rafflesia itu sedang mekar, atas usaha mereka biasanya pengunjung akan memberi semacam “sumbangan” sukarela sebagai timbal baliknya.

Jalan tanah setapak dan menurun harus kami lalui untuk menuju spot dimana bunga rafflesia yang sedang mekar.  Secara berbaris kami menjejakkan kaki di tanah yang untungnya tidak licin.  “Untungnya tidak hujan, kalo iya bisa agak susah nih jalannya” ujar mas Nody.  Saat itu kami berada di Hutan Lindung Liku Sembilan, kawasan Tabah Penanjung.
Saya berjalan di belakang fahmi, teman saya.  Sedangkan paling depan adalah warga lokal yang akan menuntun kami menuju dimana bunga Rafflesia berada.  Selang 10 menit berjalan, sampailah kami melihat bunga yang bagi sebagian orang masih di kira sama dengan bunga bangkai.  Satu persatu teman-teman bergantian memfoto atau berfoto bunga langka itu, seraya mengaguminya.

Padma Raksasa atau dalam bahasa latinnya disebut Rafflesia Arnoldii merupakan tumbuhan parasit yang terkenal karena memiliki bunga berujuran yang sangat besar.  Yang kami lihat disana saat itu, berdiameter sekitar 60 cm.
Bunga yang tidak memiliki daun ini, penamaannya tak lepas dari sejarah penemuannya pertama kali pada tahun 1818 di hutan tropis Bengkulu, disekitar Sungai Manna, kabupaten Bengkulu Selatan.  Seorang pemandu lokal yang berkerja untuk Dr, Joseph Arnold yang menemukan bunga ini pertama kali.  Dr. Joseph Arnold sendiri ikut dalam suatu ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.  Dari sinilah asal penamaan bunga raksasa tersebut.

Tumbuhan endemik di Pulau Sumatra ini sebenarnya sudah mempunyai nama dari masyarakat lokal.  Konon, suku Bengkulu yang menemukan bunga ini sebelum adanya ekspedisi yang dipimpin oleh Sir Stamford tadi, menamakan bunga ini sebagai bunga sekedei atau bokor setan dan sebagaian lagi menyebutnya ibeun sekedei atau cawan hantu.

Setelah semua orang mendapatkan waktu untuk melihat dan berfoto secara dekat bunga yang hanya mekar selama tujuh hari ini, kami pun harus kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Curup.





Thursday, July 27, 2017

Mengintip Kakaktua di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti

Bukit Laybola
“Selamat pagi ?” ujar saya menyapa seseorang yang sedang duduk di teras rumah Raja Prailiu.  “Selamat Pagi” ba;asnya sambil tersenyum.  “Om Melky ya ?” lanjut saya dan ia pun mengangguk.  Saya lalu memperkenalkan istri dan anak saya.
Dua hari sebelumnya saya sudah sempat berbicara dengan om Melky namun belum bertemu langsung.  Om Melky lah yang akan mengantarkan kami untuk ke Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.
Tak lama kemudian, Mama Eta sang tuan rumah keluar lalu menyuruh kami untuk menyantap sarapan pagi sebelum meninggalkan Kampung Prailiu.

Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti yang akan kami kunjungi merupakan perwakilan semua tipe hutan di Pulau Sumba, termasuk hutan elfin yang jarang terdapat dan memiliki keanekaragaman jenis bernilai cukup tinggi terutama yang terdapat pada ketinggian 800 meter dari permukaan laut.
Gunung Wanggameti (1225 mdpl) yang masuk dalam wilayah Taman Nasional adalah titik tertinggi di Pulau Sumba, salah satu provinsi di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti merupakan bagian tak terpisahkan dari lingkungan sekitarnya dimana keduanya terjadi interaksi yang saling mempengaruhi. Oleh karena itu kelestarian yang menjadi prinsip pengelolaan kawasan konservasi harus mencakup tiga aspek yakni kelestarian ekologi, kelestarian ekonomi, dan kelestarian sosial budaya. 
Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti kera ekor panjang (Macaca fascicularis fascicularis), babi hutan,biawak, ular sanca Timor, dan ayam hutan. Selain itu, merupakan populasi utama burung walik rawamanu, punai Sumba dan berbagai jenis burung lainnya seperti gemak Sumba, kakatua cempaka, nuri, sikatan Sumba, kepodang-sungu Sumba, dan madu Sumba.  Kakaktua menjadi ikon dari Taman Nasional yang dijadikan Taman Nasional pada tahun 1998. 


Pintu masuk taman nasional Laiwangi Wanggameti

Pada awalnya ada 2 Taman Nasional di Pulau Sumba, namun pada tahun 2016 kedua taman nasional tersebut yaitu Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti disatukan dengan luas mencapai 90.142 hektar yang mencakup wilayah Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur.  Taman Nasional Laiwangi Wanggameti yang kami datangi ini berada di wilayah Sumba Timur.

Sekitar 45 menit berkendara dari Kota Waingapu sampailah kami di pertigaan KM. 45 meninggalkan jalan utama.  Jalanan masih beraspal namun sudah mulai mengecil.  Dengan kontur yang berkelok-kelok dan menanjak.  Terlihat om Melky sudah terbiasa dengan jalur ini dikarenakan dia adalah salah satu karyawan dari Kantor Balai Taman Nasional Matalawa (Manupeu Tana Daru dan Laiwangi Wanggameti), kendaraan yang kami gunakan pun merupakan bantuan dari Kantor Balai.

“ini dia pertigaan Tanimbang” ujar om Melky sesaat dia menghentikan mobil.  Rupanya dia mau membeli air minum dan rokok.  Saya pun turun ikut berbelanja.
Perjalanan berlanjut, tapi kini jalanan mulai medan tanah dan batu-batuan.  Makanya untuk ke taman nasional Laiwangi Wanggameti dibutuhkan kendaraan berpenggerak 4 roda (4 wheel drive) seperti yang kami gunakan.  Apalagi di akhir bulan maret ini, curah hujan masih lumayan tinggi.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, sampailah kami di Kantor Resort Praingkareha di Wudi pandak.  Kami disambut oleh Apollos dan satu orang lagi yang saat itu bertugas di kantor resort.  Begitu menurunkan barang kami memutuskan untuk segera menuju Laputi. 
Di Laputi kami pergi ke Danau Laputi, danau yang airnya sangat jernih berwarna biru kehijauan akibat pantulan sinar matahari yang mengenai dasar danau.  Teman-teman yang disana sempat bercerita tentang legenda Apu, yang berarti nenek.  Ada kepercayaan di nmsyarakat Sumba percaya bahwa Apu adalah nenek moyang mereka.  Disana kami sempat melihat beberapa ekor Apu.  “kalian beruntung bisa ketemu dengan Apu” ujar om Melky.


Danau Laputi

Perjalanan kami lanjutkan ke air terjun Laputi yang airnya mengalir ke danau tadi.  Pemandangan indah, air terjun yang bertingkat-tingkat terpampang didepan mata.
Disana kami memuaskan berenang di ari yang lumayan dingin, sekaligus menghilangkan keringat kami setelah trekking tadi.  Hari semakin sore, kamipun kembali ke kantor resort dimana kami akan bermalam.


Air Terjun Laputi

Bermain air

Jam 05 pagi kami sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Bukit Laybola.  Untuk menuju puncak bukit kami harus trekking selama sekitar 1 jam saja.  “Disini salah satu tempat pengamatan burung” ujar Apollos sambil mengunakan teropong (binacullar) nya. Kami pun diberikan kesempatan untuk melihat pemandangan sekitar dengan binacullar secara bergantian.  “Kelihatan pak burung-burungnya diatas pohon”, ujar Azzam.
Saat itu kami beruntung masih dapat melihat beberapa ekor burung yang berada di pohon-pohon tinggi meskipun dari kejauhan, seperti mengintip-intip. 


Trekking

Azzam mengintip Kakaktua

Matahari mulai meninggi, kami pun memutuskan untuk turun.  Selang beberapa puluh meter berjalan, awan yang mulai menggelap, diikuti oleh turunnya hujan.  Semua orang segera memakai jas hujan masing-masing untuk melanjutkan perjalanan.  Kami sempat berhenti di salah satu sungai kecil di dalam hutan. 

Sampai kembali di kantor resort, kami masih mempunyai waktu untuk mandi, membersihkan diri sebelum makan siang. Setelah pamit dan berterima kasih pada 2 petugas taman nasional yang sudah membantu selama disana, kami harus meninggalkan Taman Nasional ini untuk melanjutkan perjalanan ke Sumba Barat.


Di depan Kantor Resort

Wednesday, July 26, 2017

Danau Weekuri, Laguna Tersembunyi Di Tanah Sumba

Danau Weekuri dari atas tebing

“Kalau gitu nanti kita bungkus nasi saja untuk makan siang disana” ujar saya ketika mengetahui bahwa untuk mencapai Danau Weekuri dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.  Nasi padang dengan pilihan lauk pauk yang masing-masing sudah terbungkus rapih, perjalanan berlanjut.

Udara Sumba yang lumayan panas siang hari itu menemani perjalanan kami.  Niko bertutur tentang Danau Weekuri, dimana dia sudah beberapa kali mengantarkan tamunya kesana.  Memang akses menuju Danau Weekuri ini terbilang cukup terpencil di wilayah selatan, Sumba Barat Daya membuat tempat ini seperti tersembunyi.

Weekuri sendiri berasal dari bahasa Sumba, yakni wee artinya air dan kuri artinya parutan atau percikan. Weekuri artinya air hasil parutan karang yang menerobos ke daratan, kemudian membentuk danau.  Dan ternyata benar, ketika kami tiba disana tampak pemandangan danau berwarna toska yang memukau.

Danau Weekuri adalah danau air payau berbentuk laguna yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.  Tebing karang dengan tinggi sekitar 30 meter menjadi dinding alami yang memisahkan ombak besar dari laut dengan danau ini.




Menurut orang lokal yang saya temui saat ngopi, pada hari sabtu, minggu atau hari libur tempat ini ramai oleh orang-orang yang datang dengan berbagai tujuan.  Ada yang datang untuk mandi/berenang, memancing, sekedar bersantai menikmati keindahan danau dan panorama alam sekitarnya. Sedangkan pada hari-hari lain, tempat ini sepi oleh pengunjung.  Seperti hari ini, karena ini bukan hari libur, saat kami disana hanya ada 2 orang asing yang sudah berada lebih dahulu.  Sekitar sejam kami disana, mereka pun tampak meninggalkan tempat itu.  Tinggal lah kami bertiga sebagai pengunjung. 


Bak Kolam renang pribadi (1)
Bak kolam renang pribadi (2)

Namun hal tersebut tak berpengaruh pada kami, karena tak butuh waktu lama, kami berbaur bersama anak-anak lokal.  Berenang, menyelam dan loncat bersama-sama dari tempat tinggi yang memang sudah disiapkan.


Tempat untuk loncat

Menyelam

Waktu terasa berlalu begitu cepat saat saya mengajak Azzam untuk segera keluar dari dalam danau untuk segera beres-beres karena kita harus kembali ke kota.
“Nanti disana, kita jangan terlalu kesorean, karena tempatnya yang terpencil dan jalanan yang belum ada penerangan juga”.  Ingat saya akan pesan Niko.

Dengan sedikit berat hati karena merasa belum puas menikmati Danau Weekuri, kami pun meninggalkan tempat itu dengan dilepas oleh anak-anak yang sejak tadi bermain bersama kami.


Kampung Adat Praijing, Sumba Barat



Tiba di Waikabubak, sore itu setelah mencoba beberapa hotel yang full, akhirnya kami menginap di Hotel Pelita.  Memang saya tidak melakukan booking terlebih dahulu untuk menginap di kota ini.
Sesuai janji dengan Niko, supir rental yang akan menemani kami hari itu jam 8 pagi kami meninggalkan hotel. 

Setelah bertanya dan mendapat masukan dari Niko, kami memutuskan untuk berkunjung ke salah satu kampung adat di sumba barat, Kampung Adat Praijing terletak di Desa tebara, Kecamatan Waikabubak.  Di kampung ini terdapat 38 rumah tradisional khas Sumba.
Rumah adat Sumba biasa disebut Uma Bokulu atau Uma Mbatangu.  Uma Bokulu berarti rumah besar, dan Uma Mbatangu berarti rumah menara.  Rumah yang ada di Kampung Adat Praijing benbentuk rumah panggung dan memiliki atap yang menjulang tinggi seperti menara.


Atap rumah yang menjulang tinggi

Ketika kami tiba disana, Niko langsung meminta permisi kepada penduduk lalu mempersilahkan kami untuk berkeliling kampung.
Suasana kampung tampak lumayan sepi, karena di pagi hari para masyarakat pergi ke ladang atau sawah mereka.

Rumah-rumah di kampung ini dibangun dengan kayu yang beratap rumbia dan terdapat beberapa kuburan batu megalitik disekitar rumah warga.
Kampung adat ini terletak di tempat yang agak tinggi. Konon, di masa lampau ketika masih sering terjadi perang adat maka kampung didirikan didaerah perbukitan demi alasan keamanan. 






Kami singgah di dua rumah penduduk yang kebetulan mereka sedang bersantai di teras rumahnya.  Di teras rumah, kami saling menanyakan pertanyaan-pertanyaan, hingga sang ibu sempat bercerita tentang anaknya yang sedang merantau di Bali.


Azzam memperhatikan Julian yang sedang menenun

Di salah satu rumah lainnya, kami juga sempat mampir karena melihat seorang ibu dan anaknya yang sedang menenun kain.  Julian anaknya yang berumur 11 tahun sangat bangga karena selama ini telah berhasil menghasilkan 3 kain tenun, cerita sang ibu.
Setelah mengucapkan terima kasih dan menyampaikan salam perpisahan, kami pun berpamitan.




Tuesday, July 18, 2017

Pantai Di Sumba Timur, Puru kambera Dan Walakiri

Purukambera, Pantai Berpasir Putih Nan Lembut


Pantai berpasir putih lembut

Sejauh mata memandang tampak terlihat padang savana yang luas dan di beberapa bagian akn terlihat lautan yang membentang.  Kuda-kuda liar yang sedang merumput mencari makan, membuat kami berhenti beberapa kali dan turun dari mobil untuk mencoba mendekati mereka.  Cukup jauh jarak yang harus kita batasi dengan kuda-kuda itu, karena begitu kita sedikit mendekat, maka mereka akan berlari menjauh.


Kuda liar 

Saya dan Azzam akhirnya mengambil tempat di bak terbuka mobil.  Cuaca Sumba yang lumayan terik, tak begitu kami rasakan, terbayarkan oleh pemandangan sekitar, langit biru dan lukisan awan putih menggumpal.  Apalagi dengan berada di bak terbuka, hempasan angin sangat membantu mendinginkan.
Seperti itulah perjalanan kami menuju pantai purukambera di hari kedua di Sumba.

Deretan pohon cemara seolah menyambut kedatangan kami di pantai purukambera.  Ada satu rombongan keluarga yang sudah ada terlebih dahulu disana.  Tampaknya ada yang sedang memasak makanan dan beberapa lainnya bermain di pantai.  Kami membawa bekal untuk makan siang kami disana, karena memang tidak ada warung atau rumah makan di sekutar sana.


Berpose :)

Begitu turun dari mobil, Azzam membuka baju nya, sudah tak sabar ingin bermain dan menyeburkan diri di pantai yang pasirnya lembut dan berwarna putih ini.
Seolah belum puas bermain di pantai purukambera, Azzam pun berujar “Yaaahhh…kok kita udahan?” ketika saya mengajaknya untuk menyudahi tatkala dia masih asik bermain pasir.  “Kan tadi kita udah sepakat, gak terlalu lama disini, karena kita masih akan ke pantai lainnya” ujar saya mengingatkannya.
Dia pun akhirnya setuju mehyudahi kegiatannya setelah minta tambahan waktu sekitar 10 menit.

Di tengah jalan menuju pantai walakiri, kami sempat berhenti dan mendaki ke salah satu bukit yang menurut mata kami cukup menarik untuk didaki.


Bukit di puru kambera


Mangrove Menari Di Walakiri


Sunset yang mendung

Perjalanan pun berlanjut.  Pantai Walakiri menjadi tujuan kami selanjutnya.  Pantai ini menjadi cukup terkenal di dunia sosial media, dengan mangrove sebagai ikon nya, yang katanya bagaikan pohon menari. 

Tak berbeda dengan pantai purukambera, pasir di pantai ini pun berwarna putih.  Ketika kami sampai disana, air sedang surut, hingga tampak terbentang luas hamparan pasir putih yang menjorok beberapa puluh meter menuju lautan.
Kondisi di pantai walakiri saat itu cukup ramai oleh wisatawan lokal, dan beberapa dari mancanegara. 
Meskipun sudah ramai dikunjungi orang, tak tampak ada warung atau penjaja makanan/minuman di pantai ini.

Kami melihat orang-orang yang berada di pantai menunjuk-nunjuk kebawah, membungkukkan diri, berjalan seperti mengendap-endap, bahkan ada yang sambil duduk-duduk di pasir.  Ketika kami turun kesana, ternyata bintang laut yang jumlahnya sangat banyak menjadi keunikan tersendiri bagi orang-orang yang melihatnya.  Karena jumlahnya yang sangat banyak dan warnanya nyaris sama dengan pasir, maka orang-orang harus berhati-hati melangkah, menghindari agar tak hewan laut yang berbentuk seperti bintang itu tak terinjak.


Bintang laut

Nah, salah satu yang membuat orang-orang tertarik ke pantai ini adalah juga adalah pohon mangrove yang seperti sedang menari tadi.  Belasan orang sudah tampak berada disekitar mangrove untuk mengabadikannya lewat foto.  Begitu yang saya dengar.

Namun ketika hari semakin sore, awan dilangit mendung dan disusul dengan hujan.  Maka untuk mendapatkan foto mangrove dengan latar belakang sunset (matahari terbenam) pun musnah yang mungkin membuat beberapa orang kecewa karenanya.


Kami pun berlari kecil menuju mobil untuk menghindari agar tak basah kuyup oleh hujan dan memutuskan kembali ke prailiu.


Mengagumi bintang laut

Monday, July 17, 2017

Bukit Wairinding. Bukit Kapur Yang Mempesona

Bukit Wairinding

Di hari pertama kami di tanah Sumba tepatnya di Sumba Timur, kami sudah merencanakan untuk menghabiskan sore hari di bukit wairinding.

Dengan berkendara mobil selama sekitar setengah jam, sampailah kami di bukit wairinding yang menurut orang disana semakin terkenal setelah adanya film pendekar tongkat emas, yang mengambil lokasi ini sebagai salah satu spot syutingnya  disana.

Jalan aspal yang mulus dan berkelok-kelok kita lewati dari mulai pusat kota Waingapu hingga bukit wairinding.  Dengan menggunakan mobil, sekitar setengah jam perjalanan, sampailah kami di lokasi yang kami tuju.  Mobil diparkirakan dipinggir jalan raya lalu kami mulai mendaki perbukitan kapur di Sumba ini.  Tadi, sebelum sampai di tujuan kami sempat berhenti sejenak.  Om supir yang membawa kami, menunjukkan satu bukit yang  biasa disebut oleh orang lokal "sleeping giant" atau raksasa tidur.


Sleeping Giant

Begitu sampai puncak bukit, terhampar pemandangan yang memanjakan mata.  Lanskap wairinding yang berbukit-bukit dengan hamparan savana yang sangat luas.  Kami datang kesana di bulan april 2017, sehingga hamparan rumput masih berwarna hijau karena masih masuk dalam musim penghujan.  Namun jika kita datang pada musim kemarau yakni antara bulan juli hingga oktober, makan savana disana akan berwarna kuning kecoklatan.  2 warna dengan sensasi yang berbeda tentunya.


Berdua...

Saat kami sampai disana ada sekitar 6 orang yang sedang berfoto-foto mencari gaya dan background yang pas. 
Tak berapa lama, mungkin sudah mendapatkan foto yang diinginkan,  mereka pun meninggalkan bukit wairinding.  Tinggalllah kami bertiga, saya, istri dan anak menikmati pemandangan yang terus menerus mempesona kami selama disana.


Menikmati suguhan alam

Kemudian tak tau dari mana asalnya dan kapan datangnya, ada 2 anak perempuan kecil sudah ada disana.  Kamipun menghampiri mereka lalu bercakap-cakap dan tertawa bersama.  Ternyata mereka adalah salah satu  penduduk yang tinggal disekitar perbukitan wairinding.


Bersama anak-anak setempat

Matahari mulai membenamkan diri, dan awan pun tak lagi cerah.  Kami memutuskan untuk kembali ke kota Waingapu.



Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...