Monday, November 21, 2011

Predator Dari Pulau Rinca


Sang Ora

 
Orang Manggarai menyebutnya Ora dalam bahasa mereka.  Hewan jenis kadal terbesar di dunia ini lebih suka hidup di dataran rendah sebagai tempat berlindung dan sabana untuk mencari makan.

Kadal besar dan gemuk ini adalah hewan predator dan juga pemakan bangkai.  Karena tubuhnya yang besar, hewan ini sering disebut juga Dragon. Predator ini adalah hewan penyendiri, dia hanya akan berkumpul ketika saat makan dan berkembang biak.
Dalam urusan berkembang biak selain hasil perkawinan normal antara jantan dan betina, Komodo betina juga dapat melahirkan anak tanpa harus dibuahi oleh pejantan atau disebut juga dengan partenogenesis.

Komodo adalah salah satu hewan langka yang harus jaga kepunahan nya.
Maka dengan tujuan melindungi dan menjaga populasinya, Taman Nasional Komodo diresmikan menjadi Taman Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1980.

Di kawasan Taman Nasional Komodo, NTT yang luas daratan nya sekitar 170,000 hektar, salah satu pulau yang menjadi habitat asli Komodo adalah Pulau Rinca, salah satu dari 3 pulau terbesar di kawasan TN Komodo.
Menurut hasil survey terakhir, populasi hewan ini di Pulau Rinca tinggal sekitar 1300-an ekor.  Jika tidak dijaga, jumlah ini akan berkurang dikarenakan adanya perburuan liar ataupun berkurangnya jumlah mangsanya, salah satunya rusa yang juga merupakan target para pemburu liar.

Dari Pos KPLP Loh Buaya, kami pun disambut  oleh pemandu yang bersenjatakan kayu bercabang dua diujungnya, yang biasa disebut magic stick.  Perburuan pun dimulai !
Setelah trekking beberapa puluh meter menuju Pos Ranger ,  saya  yang berjalan paling belakang melihat ada Komodo yang sedang berjalan sendirian, segera saya memanggil teman-teman yang berjarak 100 meter di depan  untuk kembali agar dapat melihat Komodo itu dari dekat.

Tiba di Pos Ranger kami pun mendapatkan briefing singkat mengenai trek yang akan dilalui, termasuk hal-hal yang tidak boleh dilakukan.  Lalu perburuan dilanjutkan.  Memasuki kawasan hutan, terlihat ada tali-tali yang berfungsi sebagai pembatas di sisi jalur yang dilalui.  Menurut pemandu, batas itu sengaja di buat sebagai pembatas untuk kawasan sarang bertelur komodo betina.

“Ketika menjaga telurnya, sang induk Komodo akan terus menerus berada di sarang nya selama 3 bulan, dan bisa tanpa memakan apapun”  ujar pemandu kami.  Tak heran jika ada yang mendekati sarangnya, mereka sang induk akan menjadi sangat agresif.  Sebagai catatan hewan ini dapat berlari hingga kecepatan 16-20 km/jam. 
Maka dari itu ketika berkunjung ke sana maka kita mesti waspada.  Jika ada komodo yang mengejar, tips nya adalah berlarilah secara zig-zag ketika dikejar komodo, karena mereka sulit untuk berlari berbelok-belok.
Memanjat Pohon salah satu cara lainnya untuk menghindari dari kejaran komodo.  Namun tidak berlaku jika kita dikejar oleh komodo yang masih kecil, karena mereka akan bisa memanjat pohon.

Predator ini mempunyai masa mengeram selama 8 sampai 9 bulan sebelum akhirnya telur nya menetas. Telurnya yang kira-kira seukuran telur kura-kura akan menghasilkan bayi komodo sepanjang sekitar 30 cm.
Hal-hal Itulah beberapa dari point penting yang disampaikan kepada kami pada waktu briefing singkat oleh pemandu.  Termasuk soal batas tali tadi sengaja dibuat untuk memperingatkan pengunjung.

Sedang asyik-asyik nya berjalan sambil mengobrol, tiba-tina kami dikagetkan oleh 2 ekor komodo yang sedang bertarung, ternyata ada seekor komodo yang mencoba memasuki sarang komodo lainnya yang sedang bertelur.  Kamipun tersontak kaget dan sontak menghentikan langkah.  Hingga akhirnya salah satu dari komodo tersebut menjauh mengalah, maka langkah pun kami teruskan.
Suatu suguhan yang menarik dan jarang terjadi, tanpa rekayasa tentunya.

Di suatu tempat lain yang kami lalui terlihat ada kubangan tempat dimana biasanya kerbau berkumpul.  Selain kerbau yang menjadi mangsa komodo, monyet dan rusa juga dapat ditemui disana.  Di Pos Ranger,  kami melihat beberapa sisa-sia tengkorak kepala hewan-hewan korban sang Ora yang sengaja dipajang.

Ukuran hewan ini ada yang beratnya mencapai hingga lebih dari 120 kg dan berukuran lebih dari 3 meter. Sedangkan untuk membedakan jenis kelamin komodo, dapat terlihat jelas dari ukuran tubuhnya.  Ciri yang paling terlihat jelas adalah komodo jantan tubuhnya jauh lebih besar dari betina.

Akhirnya kami pun sampai kembali ke tempat awal kami masuk setelah perjalanan mengitari pulau yang memakan waktu sekitar 1,5 jam.
Sebuah pengalaman yang menakjubkan berkesempatan melihat predator dari pulau Rinca dari dekat.

Bersandar di Pulau Rinca
 
Pintu Masuk Loh Buaya

Berjemur

Menghadang di Tengah Perjalanan
 
Sisa-sisa Korban Komodo


Monday, November 14, 2011

Caci. Satu Lawan Satu

Melompat...Memecut



Hujan deras yang mengguyur  Kampung Melo, Nusa Tenggara Timur di akhir oktober itu tak menghentikan mereka untuk memulai acaranya.  Para kaum perempuan pun mulai memainkan alat musik seperti gendang dan gamelan untuk meniringi permainan/tarian Caci yang akan segera dimulai.

Menurut Pak Joseph, tetua yang saya temui bahwa awalnya tarian caci ini adalah tarian/permainan yang dilakukan para pejuang perang untuk merayakan dan mengenang perang. Tarian ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih di lestarikan hingga saat ini.

Makna dari Tarian ini sendiri adalah rasa kepahlawanan ataupun keperkasaan pria Manggarai, untuk menampilkan sisi heroisme mereka.
Namun dewasa ini, tarian ini berkembang dilakukan juga pada saat upacara-upacara seperti untuk mensyukuri hasil panen, pentasbihan seorang imam, penyambutan tamu, dan lain-lain.

Kata Caci itu sendiri berasal dari Ca berarti satu, Ci berarti uji.  Jadi Caci itu bisa bermakna ujian satu lawan satu.  Pertarungan antara dua orang pria, satu lawan satu, saling pecut secara bergantian.  Suatu lambang Keberanian.

Dalam kesempatan kunjungan kali ini, saya mendapat kehormatan untuk memulai permainan caci ini.  Dengan dibekali pecut, saya pun melompat menyerang seorang pemuda yang berpakaian dan bersenjatakan lengkap sudah bersiap untuk menangkis serangan saya.  Suatu pengalaman baru dan sangat menarik bagi saya pribadi.

Biasanya larik atau pecut yang digunakan dalam permainan/tarian caci terbuat dari kulit kerbau yang telah dikeringkan, begitu juga dengan perisai untuk menangkis pukulan sang lawan juga terbuat dari kulit sapi.
Sedangkan pakaian yang digunakan adalah pakaian perang, dengan dada dibiarkan terbuka dan bagian kepala memakai semacam topeng yang menutupi muka.

Beberapa orang disekitar memberikan dukungan dengan tari-tarian dan nyanyian sambil menunggu giliran mereka, saat dua orang lainnya tengah bertanding. 
Rasa persaudaraan dan keakraban sangat terasa, karena si penyerang pun menyanyikan lagu-lagu dan menari nari sebelum memulai penyerangan.

Sementara itu ada orang-orang yang bertugas memberikan tuak, minuman khas yang selalu ada saat acara ini dilakukan kepada si pemain caci tadi.  Tuak ini tak lebih dari sekedar untuk membangkitkan semangat.  Apalagi dalam cuaca hujan seperti ini cukup lumayan untuk menghangatkan tubuh.

Tadi saya dan teman-teman pun sudah merasakan minuman tuak ini, ketika kami datang dan disambut di Kampung Melo ini.

Menari sebelum Menyerang

Penyerang dan Penangkis

Saling berhadapan

Saya berkesempatan bermain Caci. Foto oleh Ipung

Friday, November 11, 2011

Dari Sabolo Ke Seraya Kecil

Merapat Di Sabolo


Kapal bermesin 6 silinder itu membawa kami di pagi yang cerah menuju Pulau Sabolo, salah satu pulau di Kepulauan Komodo. 

Kapal bermotor ini mempunyai 6 kamar yang tiap kamarnya bisa diisi oleh 2 orang.  Yang mengejutkan atau diluar dugaan saya sebelumnya adalah selain dilengkapi fasilitas tv di geladak atas,  kapal ini juga berpendingin udara di tiap kamarnya.

Fadaelo, kapal yang kami tumpangi ini di kemudikan oleh Fadli seorang kapten keturunan Bugis dibantu oleh 2 orang anak buah kapal nya. 
Ya, Labuan Bajo selain didiami suku-suku dari Flores banyak terdapat keturunan dari suku Bugis.  Mengenai ini, ada sejarah panjang dimasa lalu, kenapa akhirnya orang dari suku Bugis cukup banyak mendiami daerah Labuan Bajo.

Setelah perjalanan sekitar kurang lebih 1 jam dari pelabuhan Labuan Bajo sampailah kami di Pulau Sabolo termasuk salah satu pulau kecil diantara gugusan pulau di kawasan TN Komodo.  Mata pun disuguhkan indahnya gradasi warna laut sekitar.
Namun pulau seluas kurang lebih 20 hektar ini merupakan pulau yang tidak berpenghuni. 

Pasirnya yang berwarna putih bersih dan menjadi salah satu tempat wisata snorkeling.
Jangkar kapal pun dilepas sekitar beberapa puluh meter dari pinggir pantai.
Kami pun tak sabar untuk menyeburkan diri.  Sebagian teman-teman pun mulai ber snorkeling agak ke tengah dan sebagian lagi berenang menuju pantai pulau kecil lainnya disekitaran.

Di pantai pulau ini, bisa kita temui pasirnya yang bercampur butiran-butiran merah, sama seperti yang terdapat di Pantai Merah (Pink Beach).  Ditemui juga pecahan-pecahan karang berwarna merah dari yang sebesar biji rambutan hingga yang berdiameter 5 cm.

Indah nya karang-karang dan beraneka jenis ikan-ikan di bawah laut membuat kami tak henti-hentinya berdecak kagum saat bersnorkeling. Kalau saja kami tak harus melanjutkan perjalanan ke tempat lain, pasti kami masih betah berlama-lama disana.

The Fadaelo

Setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit dari Pulau Sabolo, sampailah kami di Pulau Seraya.
Lalu dengan menggunakan perahu kecil berpenumpang maksimal 6 orang kami pun menuju ke tepi pantai.

Pulau Seraya Kecil ini letaknya di sebelah utara Labuan Bajo.  Lebarnya hanya sekitar 200 meter dengan panjang kira-kira 1,3 kilometer.  Bedanya dengan pulau yang sebelumnya kami kunjungi, pulau Sabolo, terdapat penduduk mendiami pulau ini walau hanya berjumlah tak terlalu banyak.

Pantainya yang putih, lautnya yang tenang dan karang nya yang indah menjadi tempat yang tepat untuk berenang maupun untuk snorkeling.

Di Pulau ini terdapat bungalow-bungalow yang disewakan untuk menginap, juga tersedia restoran untuk tempat makan dan minum bagi para pengunjung.

Saya dan beberapa teman langsung saja menyeburkan diri untuk berenang , dan ada juga yang ber snorkeling. Tidak terlalu lama disana kami pun harus kembali ke pelabuhan Labuan Bajo menjemput 4 orang teman kami yang baru tiba dari Denpasar untuk bergabung melanjutkan perjalanan mengeksplor ke pulau-pulau lainnya.

Pantai Di Seraya Kecil

Seraya Kecil Dari Jauh

Thursday, November 10, 2011

Merapat Di Pulau Yang Terbakar



Dari cerita seorang teman yang pernah ke pulau ini, maka saya pun tertarik untuk menyaksikan keunikan nya secara langsung.  “Gak semua tukang perahu tau tempat ini, De”. Begitu kata teman saya, Tegar tentang sebuah pulau karang di perairan Labuan Bajo ketika saya menceritakan bahwa saya berniat ke sana.  Akhirnya kesempatan itu datang juga.

Sebutan orang lokal untuk pulau karang itu adalah Nisa Purung yang berarti pulau yang terbakar. Sedangkan orang asing yang sempat singgah kesana menyebutnya Strawbery Sundae.

Ya, mungkin karena warnanya yang merah menyala, maka mereka menamainya seperti itu.

Berbekal dari informasi teman tersebut, saya pun menanyakan tentang pulau ini ke guide kami, Pak Mikael. Saya menuturkan informasi yang saya dapat dari seorang teman mengenai tempat ini. “wah, saya pun belum pernah mendengar tempat ini sebelumnya’ begitu kata Pak Mikael.

Tak lama kemudian Pak Mikael membawakan peta kawasan Taman Nasional Komodo. “Baik, nanti coba saya bicarakan dengan kapten kapal untuk mencapai lokasi ini, biar kita bisa kesana”, ujar Pak Mikael.  Sepertinya dari informasi yang saya sebutkan sebelumnya bahwa letak pulau ini dekat dengan Selat Molo dan Pulau Rinca.

Kemungkinan karena letaknya yang berada dekat dengan selat, mengakibatkan arus yang cukup sulit sehingga tak banyak perahu atau kapal apalagi yang berukuran kecil melewati tempat itu.  Bahkan menurut pak Mikael, setiap tahunnya pasti ada kapal atau perahu yang menjadi ‘korban’ di sekitar selat Molo.

Setelah perjalanan sekitar 2 jam dari pelabuhan Labuan Bajo, pulau itu pun mulai terlihat.  Lalu dengan menaiki perahu kecil dari Kapal yang di sauhkan beberapa puluh meter dari pulau, kami pun mulai memasuki pulau itu.

Tangan dan kaki kami banyak mendapat ‘hadiah’ kecil dari tumbuhan semak yang berduri di pulau berbentuk bukit tersebut.  Namun, rombongan perahu kedua bisa sampai di pulai itu tanpa goresan sedikitpun, ternyata pulau tersebut bisa dimasuki lewat sisi satunya lagi tanpa harus menembus tumbuhan berduri tadi.

Ketika berada diatas pulau karang itu, selain penuh decak kagum atas keajaiban ini,  kami pun sempat bertanya-tanya sendiri, proses apa yang pernah terjadi disini, hingga menyebabkan timbulnya karang unik ini beserta dengan segala pola diatas nya.  Namun semua itu belum lah bisa terjawab di saat itu.

Sebagai orang lokal yang berprofesi sebagai pemandu wisata, pak Mikael berterima kasih karena sudah diarahkan ke tempat ini. “Mungkin nanti bisa saya tawarkan kepada wisatawan yang tertarik untuk berkunjung kesini” ujarnya.

Saya pun merasa beruntung dan berterima kasih sudah dapat melihat satu lagi dari sekian banyak keajaiban alam di negeri Indonesia ini.




  


 



Cunca Rami



Cunca Rami Yang Indah



Jalan yang berkelok-kelok dan naik turun menuju air terjun Cunca Rami di Labuan Bajo, mengingatkan saya ketika perjalanan menuju Danau Maninjau di Sumatera Barat atau Danau Toba di Sumatera Utara.
Membuat isi perut turut di guncang dan perasaan mual tak terelak kan tentunya.

Setelah memakan waktu selama sekitar 45 menit perjalanan dengan mobil, kami pun tiba di Desa Wae Lolos.  Trekking menuju air terjun Cunca Rami pun dimulai dari jalan setapak yang berada di pinggir jalan utama.

Suguhan pemandangan indah dan udara segar menemani sepanjang perjalanan.  Mata pun dimanjakan oleh hijau nya pepohonan, memberikan kesan teduh dan sejuk. Pohon kemiri mendominasi trekking menuruni bukit kali ini.  Hamparan sawah yang hijau dan kerbau pembajak pun turut menemani perjalanan kami.

Berada di kawasan hutan Mbeling, Cunca Rami merupakan salah satu tujuan wisata bagi turis lokal maupun mancanegara dari beberapa air terjun yang terdapat di Labuan Bajo.  Selain karena debit airnya yang cukup besar, kolam atau danau yang tercipta di bawahnya menjadi daya tarik tersendiri untuk merasakan betapa nikmatnya udara dan air disana.

Berada di ketinggian 1200mdpl, air terjun dengan ketinggian sekitar 40 meter ini sudah kelihatan diantara bukit dan pepohonan hijau beberapa ratus meter dalam perjalanan menuju kesana.

Begitu tiba disana, kami pun tak sabar dan segera menyeburkan diri ke dalam ‘kolam renang alami’ tersebut.  Airnya yang sangat dingin membuat tak bisa berlama-lama berenang di dalamnya. 
Setelah beberapa meter berenang, harus menepi ke pinggiran dulu untuk sekedar menghalau dingin lalu  kemudian nyebur lagi.

Saya pun mencoba untuk berdiri dibawah guyuran air terjun yang besar itu dan serasa mendapat pijatan alami dari airnya. Sempat juga merayap di tebing vertikal di belakang air terjun ini, mendapati lubang semacam goa namun tidak saya teruskan untuk melihat lebih dalam lagi.

Puas berenang dan menghirup udara segar disana, kami pun harus mengisi perut  sebelum melanjutkan perjalanan menanjak menuju tempat semula yang memakan waktu sekitar 30 menit.  Ini saatnya untuk rela meninggalkan Cunca Rami yang eksotis.

Dari beberapa air terjun yang sudah saya kunjungi di daerah lainnya di Indonesia, Cunca Rami adalah salah satu air terjun yang cukup tinggi dan mempunyai debit air yang cukup besar.

 
Trekking Menuju Cunca Rami

Sawah Dan Pepohonan Kemiri di Hutan Mbelling

Kolam Renang Alami





Wednesday, November 9, 2011

Labuan Bajo


Bandara Komodo


Pesawat ATR akhirnya membawa kami sampai di Bandara Komodo, Labuan Bajo setelah sempat delay beberapa lama di Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Empat orang teman kami harus rela tinggal di Denpasar untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya menuju Labuan Bajo. Kondisi ini dikarenakan penuhnya kursi penerbangan yang meskipun sudah dicoba untuk dipesan jauh-jauh hari.  Jadilah hari itu hanya 7 orang dari kami yang meneruskan perjalanan pada hari yang sama.

Labuan bajo, merupakan ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Sebagai pintu gerbang bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Pulau Komodo, Pulau Rinca dan pulau-pulau lainnya di sekitar Labuan Bajo.
Sudah banyak tersedia penginapan disana, mulai dari kelas melati hingga hotel berbintang.

Labuan bajo dapat diakses melalui udara dan laut dari Denpasar atau Kupang.  Ada juga ferry dari Sumbawa sedangkan akses darat dapat melalui Ende dan Maumere.
Masyarakat disana juga beragam suku pendatang, diantaranya Sulawesi, Jawa, Bali dan Padang.  Bahkan Kabarnya orang Sulawesi atau tepatnya Nelayan Bugis sudah ada disana sejak lama dan juga menurut cerita merekalah yang memberi nama untuk kota Labuan bajo ini.

Setibanya di pelabuhan Labuan Bajo, kami langsung menuju restoran karena memang perut sudah harus diisi.  Kejutan pun datang.  Menu yang dipesan mungkin biasa cumi, ikan makarel dan kari ayam.  Namun porsinya yang besar akhirnya membuat perut kami terasa penuh.

Selesai menyelesaikan urusan perut, kami pun check-in di Hotel Boutique Hills tak jauh dari restoran tadi.  Menariknya, letak hotel ini tepat berada di depan pelabuhan Labuan Bajo. Waw, kami mendapatkan pemandangan yang indah dari hotel yang letaknya diatas, karena kontur tanah perbukitan di daerah ini.
Dari atas dapat terlihat juga beberapa pulau kecil, diantaranya adalah Pulau Monyet.

Sehabis menyegarkan tubuh dengan mandi di hotel kami pun melanjutkan perjalanan ke Panorama Hotel.  Menurut Pak Mikael guide kami, dari hotel Panorama tersebut kami bisa mendapatkan pemandangan Sunset yang menakjubkan.

Benar saja, begitu matahari membenamkan sinarnya, kami mendapatkan suguhan pemandangan yang indah. Ada beberapa kapal yang berlabuh menambah keindahan pemandangan disana bak lukisan seorang maestro.

Tentu saja momen ini tidak kami sia-sia kan begitu saja.  Sambil menyeruput kopi dan makanan ringan, kami pun mulai mengabadikan Sunset sore itu dalam kamera-kamera kami.


Makarel Hot Plate

Pelabuhan Labuan Bajo


Senja di Labuan Bajo

Selamat Pagi Labuan Bajo


Thursday, October 13, 2011

Ke Puncak Para Dewa

Foto Oleh: Nouf Zahrah Anastasia

‘Mas, mau ke naek ya ?’ tiba-tiba aja ada orang nanya ke gw.  Ini badan padahal baru aja di istirahatin bentar karena gw dan tasya baru nyampe dari terminal bis Purabaya, Surabaya.

Rupanya disana sudah ada sekitar 6 orang  yang datang sebelum kami menunggu jip charteran untuk ke ranu pane.  Jip tersebut belum mau mengangkut mereka karena merasa masih kurang jumlah orangnya.

Akhirnya ditambah gw dan tasya, akhirnya kami ber delapan sepakat mencharter jip tersebut untuk mencapai Desa ranu pane, sebagai pos pintu masuk pendakian gunung Semeru.
Menumpang jip dari tumpang ke ranu pane merupakan pengalaman tersendiri, soalnya jip Toyota hard top yg terbuka itu  itu bisa diisi sekitar 10 orang ditambah ransel-ransel. Sebagai alternatif bisa juga menggunakan atau menumpang truk sayuran .

Perjalanan dari desa tumpang ke pos ranu pane memakan waktu sekitar 2 jam.  Melewati perkebunan, jalanan mulai berkelok-kelok, campuran antara aspal, beton dan tanah berdebu. kiri kanan jurang, tanah pertanian yang berada di tebing dan dari kejauhan terlihat semeru yang sesekali batuk menyajikan pemandangan yang indah.

Tiba di desa Ranu Pane, yg terletak di ketinggian 2200 mdpl gw dan tasya langsung mencari penginapan untuk istriahat kami malam ini, sebelum memulai pendakian keesokan harinya.
Pak Tasrip pemilik, Tasrip Homestay menyambut kami dengan senyumnya.  Beliau bercerita panjang lebar mengenai desa ranu pane, gunung semeru dan cerita-cerita para pendaki yang mampir di Homestay nya.

Keren juga, di Tasrip Homestay ada semacam buku tamu yang diisi oleh para pendaki yang pernah mampir kesana.  Sengaja dipisahkan buku terpisah untuk para pendaki dari mancanegara beserta kata-kata kenangan dari mereka.
Pagi harinya, kami pun memulai pemanasan sebelum pendakian dimulai.  Sesuai kesepakatan, kami  akan menggunakan jasa porter.  Kebetulan Mas Ingot, pria ‘jawa’ berdarah batak yang akan membantu kami selama perjalanan adalah menantu dari Pak Tasrip.

Sekitar pukul 8 pagi kami memulai pendakian menuju Ranu Kumbolo yg melewati jalanan aspal, hingga jalan setapak, melewati pinggir bukit yang bergelombang dan berkelok.  Melewati Waturejeg, batu yang sangat besar, jalan yang kami lewati makin menyempit dan longsor di beberapa area.  Juga banyaknya pohon tumbang, membuat rasa malas untuk melewatinya atau terpaksa merangkak.

Namun setelah berjalan sekitar 10 kilometer yang ditempuh dalam waktu 4 jam, rasa lelah itu pun terbayar dengan pemandangan indah Padang Sabana yang menakjubkan.  Kedamaian terasa ketika melihat tenangnya Danau Ranu Kumbolo yg terletak di ketinggian 2400 mdpl.
Selain menikmati keindahan danau ini, para pendaki juga dapat memancing ikan biasanya mas atau mujair.

Kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam di pinggi danau Ranu Kumbolo.  Bagi pendaki yang ingin bermalam disini, bisa juga menginap di pos yg berbentuk bangunan bergenteng.
Hingga malam tiba, tak terasa udara semakin dingin.  Hingga puncaknya alat pengukur suhu menunjukkan – (minus) 2 derajat, rumput diluar tenda terlihat Kristal-kristal es.
Malam itu tidurpun jadi hanya beberapa jam saja, karena harus melawan dingin yang begitu menusuk tulang.
Matahari pagi yg menyapa akhirnya menghangatkan tubuh kami setelah semalamam berjibaku dengan hawa dingin.

Setelah sarapan kami meneruskan perjalanan ke oro oro ombo dan di depan mata sudah menanti bukit yang berkemiringan tak kurang dari 45 derajat, yang sering disebut Tanjakan Cinta. Ada mitos yang beredar di kalangan pendaki tentang asal muasal julukan tersebut. Menurut beberapa sumber mitos ini lahir dari kisah tragedi dua sejoli yang sudah bertunangan saat mendaki tanjakan tersebut.  Mitos yang beredar, nama tanjakan cinta ini tercipta karena ada pasangan yang sudah tunangan saat naik ke bukit tersebut lalu sang wanita pingsan dan terguling ke bawah, menyebabkan ia tewas.

Dari Ranu Kumbolo ke oro oro ombo hanya memakan waktu 15 sampai 30 menit, namun cukup menguras tenaga mendaki dengat tingkat kemiringan yg curam.
Oro oro ombo merupakan bekas rawa yg ditumbuhi rumput. Menariknya kita akan berjalan diantara rumput-rumput yang tingginya melebihi orang dewasa. Keren !
Dari oro oro ombo kami memasuki area hutan, berjalan diantara pohon  cemara yang kokoh.  Jalur menuju Kalimati tidak terlalu menanjak. Berjalan sekitar 4 jam kamipun sampai di pos Kalimati.
Dari Kalimati kami sudah dapat melihat Puncak Para Dewa, Puncak Mahameru.

Di Kalimati, yg berketinggian 2700 mdpl ada bangunan pos bagi para pendaki.  Biasanya beberapa pendaki memilih untuk mendirikan tenda disini sebelum summit attack ke puncak Semeru. Oh ya, perlu diingat cukup sulit menemukan air di kalimati untuk bekal esok hari.  Untungnya kami punya mas ingot yang sudah tau harus kemana mencari air.

Kami memutuskan untuk tidak menginap di kalimati, namun meneruskan perjalanan ke arcopodo dan menginap disana agar perjalanan ke puncak Mahameru lebih pendek.
Alhamdulillah, bermalam di arcopodo ‘ajaibnya’ tidak sedingin ketika kami menginap di Ranu Kumbolo, gw pun gak ngerti kenapa.
Bangun jam 01 dinihari, lalu diawali dengan nge-teh dan makan roti, kami bertiga juga membawa bekal untuk perjalanan menuju puncak.

Perjalanan kali ini lebih menanjak. dengan menggunaka senter untuk membantu kami melihat jalan, sesekali terlihat batu peringatan orang-orang yang meninggal disana.  Kaki tetap harus melangkah !
Sekitar 1 jam lebih, kami pun tiba di Cemoro Tunggal, namun perjalanan menuju tampat ini sangat melelahkan karena medan pasir dan bebatuan.

Setelah melewati cemoro tunggal, medan semakin terasa berat karena jalur batu pasir.  Tidak hanya menguras tenaga tapi juga mental.  Selain itu juga harus melawan rasa kantuk dan hawa dingin.  Tak jarang kami harus berjalan merangkak, ikut menggunakan kedua tangan juga.
Akhirnya, sekitar jam 6 kurang, kami pun akhirnya tiba di Puncak Mahameru, 3676 mdpl. Setelah beberapa saat berada di puncak, kamipun memutuskan untuk turun.

Perjalanan turun kami harus lebuh hati-hati lagi, karena cenderung longsor dan gampang merosot.  Tiba di arcopodo, tempat kami meninggalkan tenda, lanjut dengan membereskan barang-barang untuk melanjutkan perjalanan.

Menuju perjalanan turun kami sekali lagi berkesempatan melihat keindahan Ranu Kumbolo sebelum akhirnya menuju Tasrip Homestay sebagai persinggahan terakhir menuju Jakarta.

Monday, October 10, 2011

Merasakan Tambelo, Menantang Nyali

Foto Oleh: Ayos Purwoaji

Bentuknya putih panjang berlendir. Ini bukan tipikal panganan yang biasa kita jumpai bukan? Apalagi ini dimakan langsung, tanpa dimasak terlebih dahulu sebelumnya. Tentu saja ini adalah sebuah tantangan yang mengasyikkan. Mencoba local taste dalam balutan kuliner ekstrim adalah sebuah pengalaman yang patut dicoba oleh setiap petualang.

Kami menemukan makanan ini sore hari, ketika berkunjung ke Pelabuhan Pomako. 
Penduduk lokal, orang-orang Kamoro yang lahir dan besar sebagai pelaut, suka membuka pasar kaget hasil laut di sekitar pelabuhan. Paling banyak adalah ikan kakap dan kepiting. Jika Anda tahu, kepitingnya adalah jenis bakau, mereka mencarinya di sela-sela akar hutan mangrove. Ukurannya gigantis, tiga kali lebih besar daripada ukuran kepiting normal.

Kami beranjak dari satu lapak ke lapak lain. Kami memotret hasil tangkapan mereka, hingga di meja paling ujung, kami mendapatkan sebuah makanan yang asing: putih panjang penuh lendir, ditempatkan dalam sebuah mangkok penuh air.  Muhammad Yamin, guide kami mengatakan,"Itu namanya tambelo, kalian harus coba!"


Menurut Yamin, tambelo adalah hewan laut yang hidup di batang-batang pohon bakau yang sudah mati. Tubuh hewan ini memang lunak, seperti keluarga ubur-ubur. Tapi memiliki kepala bulat dengan cangkang yang sangat keras. Mereka membuat lubang-lobang di kayu dengan cara mengebor, kepala yang serupa torpedo sangat membantu tambelo untuk melubangi batang lapuk. Panjang hewan ini sekitar 25 centimeter.


Tambelo ini seumur hidup tinggal di lubang kayu yang mereka buat, jadi meski tinggal di muara penuh lumpur, tubuhnya tetap bersih dan putih.


Selanjutnya Yamin terlibat tawar menawar serius dengan penjual. Satu mengkok mereka hargai 20.000 rupiah. Jumlahnya cukup banyak, jadilah kami hanya membeli setengah mangkok. 


Cara makannya cukup unik. Kami harus menelan langsung tanpa mengunyah tambelo terlebih dahulu. Tata cara makan 'langsung ditelan' seperti ini biasanya saya temui untuk kasus makanan yang menyembuhkan, seperti pil, empedu ular, atau kuning telur ayam kampung.


"Penduduk sini memang menggunakannya sebagai obat. Kalau ada penduduk sakit biasanya langsung mencari tambelo ini di batang-batang bakau," kata Yamin.


Saya dan Ayos tertarik untuk mencoba. Rasanya cukup aneh, anyir sekaligus gurih dan sedikit asin. Untung saja tidak amis dan berbau menyengat. Lendir dan tubuh pipihnya mudah masuk melewati kerongkongan, terasa adem seperti cincau dengan ukuran yang sangat panjang. Membuat kami sedikit bergidik setelah menyantapnya.


Setelah kami mencoba tambelo, seorang kontraktor asal Depok yang, Hendra, juga tertarik untuk mencoba. "Rasanya lumayan gurih, cukup bisa diterima lidah Jawa saya," kata Hendra sambil tertawa.


Tiba-tiba saja saya dan Ayos menjadi ketagihan. Sore itu, diselingi derai tawa dan taruhan tanpa uang untuk menantang keberanian, kami sudah habis tiga tambelo. Yamin lebih gila lagi, mungkin dia habis lima.

Jibama, Pasar Jamaika di Wamena


Sejak tiba di Wamena, kami tidak membuang waktu percuma.  Selesai check in di hotel Pilamo, kami langsung berangkat memulai city tour. Bang Herman, guide andalan kami di Wamena membawa saya dan Ayos berkunjung ke Pasar Jibama.

Pasar ini merupakan pasar tradisional terbesar di Wamena. Segala rupa barang dan kebutuhan ada. Mulai dari sayur mayur, madu, sagu, buah merah, dan berbagai bunga. Pasar Jibama ini seperti Jamaika kecil, semua warna campur aduk penuh kontras.


Beberapa hal yang membuat saya semakin mengira bahwa Pasar Jibama ini di Jamaika adalah banyaknya paduan warna rasta; merah kuning hijau, di segala sudut.
 Anak-anak kecil yang mengenakan kaos Bob Marley, perempuan yang membawa noken (tas yang ditautkan ke kepala) berwarna sama, atau beberapa pria yang mengenakan topi dengan corak sama, lengkap dengan bordiran daun cannabis di tengahnya.

Saya pun berkeliling di temani Bang Herman, sedangkan wajah Ayos mulai pucat.
 Tampaknya di satu sisi ia ingin memotret banyak hal, di sisi lain ia takut seluruh orang di pasar akan memintainya uang. Tapi Bang Herman memang guide pujaan, setelah dia bercakap-cakap dengan bahasa lokal, penduduk setempat tidak keberatan untuk difoto. Ayos pun gembira, dan ia mulai lupa diri, sibuk bermain dengan DSLR-nya.

Di sebuah ujung los pasar, saya menemukan seorang penjual papeda, makanan tradisional yang terbuat dari tepung sagu. Karena penasaran, saya pun membelinya satu mangkok. Don Hasman, dalam sebuah kesempatan pernah berkelakar,"Makanan khas Papua itu lem sagu!" Saya hanya tertawa saja mendengarnya. Tapi tentu saja Don Hasman benar, papeda ini sangat kenyal dan sedikit lengket di lidah.


Penjualnya bernama Ratna, asli Banyuwangi, Jawa Timur. Dia kemari karena ikut suami, sejak empat tahun yang lalu. Saya meminta papeda saya dicampur dengan kuah gule ayam, pilihan lain untuk teman papeda adalah gule ikan. Menurut saya keduanya sama saja.


Setelah saya mencoba papeda, sekarang giliran Ayos mencoba kuliner ekstrim lainnya; pinang. Bagi penduduk Papua, buah pinang adalah camilan yang enak, cara makannya langsung dikunyah, ditambah bunga sirih dan kapur, itu adalah kudapan paling umum yang bisa ditemui di seluruh Wamena. Setelah dikunyah beberapa lama, mulut akan menjadi merah, sama seperti orang tua di Jawa yang suka mengunyah sirih dengan padanan tembakau.


Saat pertama makan pinangnya, Ayos masih baik-baik saja. Tapi kondisi berubah setelah potongan bunga sirih dimasukkan ke dalam mulut, wajah ayos berubah menjadi merah. Perutnya meledak-ledak, ia ingin muntah. "Gimana rasanya, Yos?" tanya saya menggoda, Ayos hanya menggelengkan tangannya saja. Lalu
byor, Ayos memuntahkan seluruh isi mulutnya. "Rasanya gila!" kata mahasiswa angkatan tua ini sambil tertawa.
Pasar Jibama tidak saja menjual sayur, di sudut lain ada pula bagian pasar babi dan ikan.

Setelah dari Pasar Jibama, kami menuju Jembatan Wesaput. Jarak antara keduanya tidak jauh, hanya beberapa kali tikungan saja. Tidak ada yang istimewa dari jembatan ini kecuali bentuknya yang berupa jembatan gantung dengan struktur besi dan tali baja. Jika kita melintas di atasnya, maka jembatan ini akan bergerak naik turun. Cukup mengerikan buat orang yang
phobia terhadap air, apalagi di bawahnya mengalir Sungai Baliem dengan lebar tiga belas meter yang tampak dalam.

Sunday, October 9, 2011

Berpetualang Bukan Berlomba



Tanah gersang berpasir, sabana dengan tumbuhan berduri dan udara panas yang kering sangat ideal untuk menjajal fisik, psikologis, kemampuan berfikir dan bertindak cepat.
Ya, dipilihlah kawasan Karangtekok, Baluran, Jawatimur pada September 2002 itu sebagai tempat seleksi para petualang Marlboro Adventure Team.

Tahap seleksi itu berlangsung selama 3 hari, yang menguji kemampuan perorangan dan juga kemampuan dalam hal berkerjasama dengan orang lain dalam satu tim.
Mengendarai mobil jip di medan offroad, motor cross, sepeda gunung, mountain hiking, rappelling, mendayung perahu, berenang hingga disudahi dengan lari marathon.

Seolah offroader dan crosser handal para peserta ditantang untuk menanjaki terjalnya bebatuan di tebing.  Beberapa peserta harus jatuh dari motornya karena melayang tak terkendali, hingga cedera pun tak bisa dihindari beberapa peserta.

Bukan pekerjaan mudah. Begitu juga ketika harus bersepeda gunung, down hill tak jarang peserta harus memanggul atau mengangkat sepedanya ketika melewati perbukitan yang curam dan juga sungai yang berbatuan.
Setelah istirahat beberapa jam, maka sekitar pukul 10 malam masih harus dilakukan kegiatan tantangan malam hari, haling-rintang, wall climbing dan flying fox hingga selesai dini hari.  Lagi-lagi, cedera adalah bagian dari petualangan.

Keesokan harinya petualangan dilanjutkan, namun hari ini lebih menilai kerja sama dalam tim. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk menjalani kegiatan yang berjarak sekitar 25 kilometer, dibutuhkan kemampuan orienteering, skin diving, rowing dan rappelling.

Dalam hal orienteering, ketika suatu tim tidak bisa membaca peta, maka nyasar adalah resikonya ! beberapa kelompok bahkan harus mengangkat atau memanggul salah satu bagian dari sepeda teman nya, dikarenakan rusak.
Sepintas mirip akrobat sih !

Bersepeda di bawah teriknya matahari Baluran, kegiatan masih dilanjutkan dengan mendayung perahu ke tengah lautan untuk mencapai pantai Bama.
Karena tidak biasa dalam hal dayung mendayung dan juga kecangnya angi lautan, beberapa tim harus rela perahunya terbawa semakin jauh dari titik finish yang sudah ditentukan.  Pada kegiatan ini, tidak semua tim yang akhirnya dapat menuju titik finish tersebut.

Hari terakhir adalah gabungan antara kerjasama tim dan kemampuan perorangan. Pertama secara berkelompok yg tidak ditentukan, harus membuat rakit dari bambu dan ban dalam yang disediakan untuk menuju kapal yang berjarak sekitar 3 km.
Dari kapal tersebut, kemampuan perorangan pun mulai dijajal. Masing-masing peserta harus berenang menuju pantai sejauh 600 meter dan dilanjutkan dengan berlari sejauh kurang lebih 8 km.
Triatlon. Itu sudah !

Lelah mengayuh perahu dan berenang, keringat yang bercampu rair laut dan wajah merah yang terbakar matahari, merupakan gambaran dari para peserta.  Bulu kuduk pun berdiri dibuat oleh sengatan matahari.

Seperti Oase di padang pasir.  Ketika berlari beberapa lama, peserta disuguhkan buah segar (semangka, melon) dan juga minuman isotonik dingin sebagai penghilang dahaga.
Minuman yang paling menyegarkan didunia ! itu yang sayarasa saat itu.
Sambil mengatur nafas, saya cuma berdo’a agar tidak terkena heat-stroke, lalu jatuh pingsan dan tidak sampai di garis finish.  Dan…akhirnya garis yang dituju itu ada di depan mata. Berakhirlah acara seleksi selama 3 hari berturut-turut itu.

Pada malam harinya, dilakukan pengumuman 10 petualang terpilih yang akan melakuan petualangan berikutnya di Utah, Amerika Serikat dan saya adalah salah satunya.

Namun 65 orang lainnya yang hadir disana selama 3 hari disana, patut berbangga karena mereka telah terpilih dari kurang lebih 231.000 orang yang berasal dari 25 kota di seluruh Indonesia.
3 wanita terpilih ambil bagian dalam kegiatan ini, dan kebetulan pacar saya adalah salah satunya.
Malam itu adalah malam milik kami bersama, semua merayakan malam petualangan bersama-sama.  Tidak ada Menang-Kalah.

Karena pada dasarnya berpetualang bukan berlomba !








Pantai Amay-Harlen

Penginapan di pinggir pantai Amay

Sepi.Tenang.

Senja di Harlen
Amay Harlen
Pantai Amay terletak di daerah Depapre, sekitar 25 kilometer dari Sentani. Tidak terlalu jauh sebetulnya. Tapi jangan harap menuju pantai ini dengan mudah, jalanan tidak beraspal dan penuh lubang siap menyambut perjalanan Anda. Saya dan Ayos saja hampir putus asa, tapi apa daya, jalan pulang sama jauhnya dengan jalan menuju pantai. Jadi ya sudahlah terus saja.

Sepanjang perjalanan sebetulnya mendung sudah menggantung. Tapi tetap saja tidak turun hujan, kondisi cuaca seperti ini membuat mood kami mendadak muram.  Memang kami datang di bulan yang kemungkinan curah hujan nya tinggi, di bulan oktober tahun lalu.

Apalagi saat kami tiba di bibir pantai, hanya sedikit orang yang terlihat. Satu keluarga wisatawan mancanegara dan beberapa keluarga lokal. Padahal Pantai Amay memiliki pantai yang panjang, sedikit pengunjung otomatis menjadikan pantai ini terlihat lengang.

Ayos berusaha mengambil gambar, meski saya tahu tidak banyak gambar bagus yang bisa dihasilkan dari cuaca mendung seperti ini. Langit terlihat menjadi flat. Akhirnya setelah sedikit mengeksplor, kami duduk-duduk saja di sebuah beruga, lalu mengobrol tentang apa saja.

Karena dikejar waktu dan kami harus segera menuju Pantai Harlen, akhirnya kami bergegas mengepak barang bawaan dan pergi meninggalkan beruga. Tidak jauh kami berjalan, ada seorang nelayan tua menghampiri. Ternyata ia meminta biaya sewa beruga sebesar lima puluh ribu rupiah. Saya dan Ayos terkejut, kami duduk tidak lama. Mungkin baru sepuluh menit saja.

“Masak turis luar negeri bayar, kalian tidak. Sini, lima puluh ribu!” kata si Nelayan Tua sambil melontarkan kata-kata sarkas. Nominal itu tidak dapat ditawar, ia tetap meminta selembar uang bergambar I Gusti Ngurah Rai itu.

Karena tidak ingin ribut, akhirnya kami bayar saja sambil terus mengerutu. Kami ini petualang kelas ransel. Uang lima puluh ribu tentu saja sangat berarti bagi kami, nilai itu berarti adalah dua porsi nasi rendang di depot masakan Padang dekat hotel kami di Sentani. Tapi ya sudahlah.

Akhirnya kami menuju Pantai Harlen. Dari Pantai Amay sebetulnya dekat saja, tinggal mengarahkan mobil kea rah Pelabuhan Depapre, lantas menyewa boat untuk pergi pulang seharga 300.000 rupiah. Pantai ini bisa ditempuh selama 20 menit dengan boat. Sebetulnya ada jalan lain melalui darat, tapi pada sebuah titik Anda dipaksa trekking untuk mencapai pantai mungil ini.

Yang saya bayangkan pertama kali saat melihat pantai ini adalah pemandangan di Desa Komodo; arus pantai yang kalem, pemandangan bukit-bukit yang mengepung horizon, dan air yang jernih sehingga saya bisa melihat dasar laut.

Kami datang ketika matahari sudah jauh tergelincir ke barat. Pantai yang sangat bagus untuk snorkeling ini sangat sepi, seperti sebuah pantai pribadi. Kami bebas menjadi liar dan berlaku gila, semacam boys stuff yang tidak bisa kami lakukan sembarangan jika berada di tempat kerja.

Saya mencoba gantungan tarzan yang disediakan penduduk bagi wisatawan yang ingin menguji adrenalin. Posisi mulainya memang tidak keren, yaitu di atas pohon kelapa. Lalu saya memegang kayu di ujung tali dengan perasaan ngeri, saya takut kalau ternyata dasar pantainya dangkal sehingga jika saya jatuh bakal terasa.

Saya lantas melepas kaitan kaki pada batang kelapa. Tubuh saya terdorong kea rah laut dengan cepat. Gantungan tarzan ini membuat saya berayun-ayun beberapa centimeter di atas permukaan laut. Pada sebuah titik paling jauh lantas saya melepaskan pegangan dan tubuh saya terlempar ke arah laut. Byuur!

Pemandangan matahari terbenam di balik bukit adalah penutup yang sempurna untuk kunjungan kami ke Pantai Harlen hari itu. Diselingi air laut yang tenang dan mengambang kami menikmati pemandangan sunset sambil mengobrol dan menunggu jemputan yang membawa kami kembali ke Depapre.

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...