Sunday, October 9, 2011

Mendarat di Rantau Minang



Dalam area istana Pagaruyuang

Jam Gadang

Pengantin Minang
Malin Kundang

Istana Silinduang Bulan


Catatan perjalanan ke Tanah Minang yang pertama gua dengan mantan pacar, Januari 2008

BIM - Danau Singkarak - Istana Silinduang Bulan-Bukittinggi


Pantai Air Manis. Pantai ini berjarak kurang lebih sekitar 4 km di selatan Kota Padang dan dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menitdari bandara BIM. Di pantai inilah terdapat batu yang menyerupai manusia yang sedang bersujud. Dikenal dengan Batu Malin Kundang. Legenda yang di pelajari dari bangku sekolah dasar. Di sekitar batu tersebut terdapat pula batu batu pantai yang menyerupai bekas sebuah kapal.  Di sekitar pantai ada juga relief yang menceritakan legenda tersohor ini.


Danau Singkarak. Merupakan danau terbesar di Sumatera Barat. Sayang saat berkunjung kesana tampak danau tersebut tidak terawat, banyak sampah di sekitar danau, dan sangat.... sepi. Danau ini pun tidak memiliki fasilitas wisata yang dapat di andalkan selain keindahan danau itu sendiri. Terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan antara Solok dan Batusangkar. Jalan berliku-liku dengan suguhan pemandangan danau yang luas dan indah, yang didalamnya terdapat ikan yang menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat sekitar. Ikan Bilih namanya, cukup enak di asap dan di bumbu balado sebagai teman makan siang. 


Istana Pagaruyuang. Sebelum mencapai istana ini, kita bisa melihat pekuburan raja-raja Pagaruyung. Namun sayang istana ini telah terbakar beberapa waktu sebelum kami kesini. Yang tersisa hanya rumah gadang yang kecil dan tonggak atau tiang pancang pertama sebagai tanda akan dimulainya pembangunan ulang istana ini. 


Istana Silinduang Bulan. Tidak begitu Jauh dari lokasi istana Pagaruyung. Terdapat istana Silinduang Bulan. Dibangun sebagai pengganti istana lama yang terbakar di masa lalu. Menurut dari beberapa sumber yang kami dapat bahwa di dalam istana ini disimpan harta pusaka serta silsilah raja-raja Kerajaan Pagaruyung dari dulu hingga keturunannya sekarang.
Setelah mengambil beberapa foto di istana yang cantik ini, kita segera bertolak menuju Bukittinggi. Pilihan jatuh pada Hotel Galery yang letaknya persis di seberang hotel The Hills (dahulu Hotel Novotel), letaknya sangat dekat dengan pusat kota, Jam Gadang dan pusat jajanan, Pasar Atas. Strategis kan? 


Jam Gadang di malam hari. Selesai istirahat sebentar, kami pun gak sabar untuk segera ber putar-putar kota. Sekedar mampir dan menghabiskan malam di kota yang sejuk ini. Tentunya gak lupa foto foto di depan Jam Gadang yang malam itu diramaikan oleh banyak masyarakat yang ingin bersantai di sekitar jam. Puas foto-foto, kita makan sekoteng telur dan susu. Rp. 4000.- saja. Benar benar enak, dan mampu menghangatkan badan dari udara Bukit Tinggi yang sejuk.


Perjalanan hari selanjutnya kami tentukan untuk melihat Jam Gadang di pagi hari -Taman Panorama - Lubang Jepang - Benteng Fort de Kock - Kebun Binatang
Walaupun badan masih terasa lelah karena perjalanan di hari pertama kemarin, kami tetap bertekad bangun sepagi mungkin. Sayang rasanya kalau harus menghabiskan waktu terlalu lama di tempat tidur, sementara berbagai objek wisata telah menanti untuk di kunjungi. Kami pun segera mandi dan bergegas sarapan untuk kemudian memutuskan berjalan kaki berkeliling tempat wisata sekitar.


Jam Gadang di Pagi Hari. Waktu sudah menunjukkan pukul 9. Dari hotel Gallery hanya dibutuhkan waktu 5 menit untuk bisa sampai ke Jam Gadang dengan berjalan kaki. Di tempat ini, seperti biasa pengunjung memuaskan diri untuk berfoto. Dapat ditemui juga berbagai macam barang dagangan yang dijajakan. Yah, Monas lah bandingannya kalau di Jakarta, tapi dengan ukuran yang lebih kecil dari berbagai hal. Di sekitar Jam Gadang banyak tersedia bendi/dokar (kereta yang di tarik oleh kuda dengan pak kursir yang duduk di muka....) yang siap mengantarkan para calon penumpang keliling kota. 


Setelah ditimbang, akhirnya untuk menyingkat waktu, kami memutuskan untuk menggunakan jasa kereta kuda tersebut. Rp. 10.000 harga yang di sepakati untuk menggunakan alat transpotasi tersebut dari Jam Gadang ke Taman Panorama dan Lubang Jepang. Sebenarnya, kalau penduduk lokal, harga biasanya hanya Rp. 5000.


Taman Panorama dan Lubang Jepang. Gak sampai 10 kami sampai di depan pintu masuk Taman Panorama dan Lubang Jepang. Setelah membayar tiket masuk yang seharga Rp. 3000, beberapa guide lokal langsung menghampiri dan menawarkan jasanya untuk memandu kami pada saat masuk ke lubang. Tapi kami memutuskan untuk mengeksplorasi sendiri. Taman Panorama adalah sebuah taman yang memang di buat bagi para penikmat alam memandangi keindahan Ngarai Sianok dari atas Bukittinggi. Sungguh indah, dan ajaib. Di tengah kota Bukittinggi, begitu saja terdapat Ngarai nan indah di tengah tengahnya.
Lubang Jepang yang bersejarah ini berada di dalam area Taman Panorama. Seperti namanya, lubang ini merupakan peninggalan pada masa penjajahan Jepang. Lubang atau lebih tepatnya di sebut terowongan bawah tanah ini panjangnya ratusan meter yang ber liku-liku dan terdapat bermacam ruangan di dalamnya . Di pintu masuk, kita sudah dihadapkan pada anak tangga dengan kemiringan sekitar 45 derajat yang menurun sekitar 45 meter di bawah permukaan tanah Bukittinggi.
Setelah puas berputar putar di lubang Jepang, kita bergegas cari kereta kuda lagi sebagai transport untuk membawa kita ke tujuan berikutnya, Benteng Fort de Kock.


Benteng Fort de Kock. Hanya sekitar 5 menit, kita sampai di pintu gerbang lokasi Benteng Fort de Kock. Penasaran juga, seperti apa benteng tersebut. Eh, gak tahunya gak sebesar dan se spektakuler yang kami banyangkan. Tapi yang jelas mempnyai nilai sejarah. Benteng ini letaknya di puncak bukit di kota Bukit Tinggi. Benteng ini di bangun pada tahun 1825. Menurut info yang kami ketahui, benteng ini di buat pada waktu terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol dan Hariamau nan Salaban. Di sekitar benteng terdapat parit pertahanan Belanda dan meriam kono.
Setelah menyaksikan benteng bersejarah tersebut, kami pun mengeksplorasi lokasi sekitar benteng. Ternyata kami menemukan sebuah jembatan yang cukup mencolok dan unik selain karena warnanya yang ‘ngejreng’, jembatan ini menghubungkan 2 buah puncak bukit (bukan sungai kayak biasanya), jembatan Limpapen namanya.  Melewati jembatan tersebut atau di seberang benteng Fort de Kock itu adalah sebuah kawasan kebun binatang.


Kebun Binatang. Unik banget, karena letaknya yang berada di atas bukit. Namun agak diayangkan karena terlihat kurang terawat dan terkesan kumuh. Padahal dari lokasinya menurut kami sangat cantik. Karena letaknya di perbukitan, maka letak kandang-kandang tempat hewan-hewan tidak sejajar. Tapi ada yang di atas, ada yang lebih di bawah. Keren deh. Di dalam kebun binatang ini juga terdapat musium adat Minangkabau. Hanya bayar Rp. 1000,- kita bisa lihat-lihat beberapa peninggalan budaya Minangkabau. Mau lebih seru lagi? Dengan bayar Rp. 20.000,- kita bisa foto foto di pelaminan Minang sambil pake baju pengantin minang. Asik kan?

No comments:

Post a Comment

Video - Exploring Sumba - Taman Nasional Matalawa #FamliyGoesToNationalPark Episode-5

Bulan Maret menjadi penjelajahan pertama #FamilyGoesToNationalPark kami di tahun 2017 sekaligus menjadi Episode yang ke 5. Pe...