Monday, October 10, 2011

Jibama, Pasar Jamaika di Wamena


Sejak tiba di Wamena, kami tidak membuang waktu percuma.  Selesai check in di hotel Pilamo, kami langsung berangkat memulai city tour. Bang Herman, guide andalan kami di Wamena membawa saya dan Ayos berkunjung ke Pasar Jibama.

Pasar ini merupakan pasar tradisional terbesar di Wamena. Segala rupa barang dan kebutuhan ada. Mulai dari sayur mayur, madu, sagu, buah merah, dan berbagai bunga. Pasar Jibama ini seperti Jamaika kecil, semua warna campur aduk penuh kontras.


Beberapa hal yang membuat saya semakin mengira bahwa Pasar Jibama ini di Jamaika adalah banyaknya paduan warna rasta; merah kuning hijau, di segala sudut.
 Anak-anak kecil yang mengenakan kaos Bob Marley, perempuan yang membawa noken (tas yang ditautkan ke kepala) berwarna sama, atau beberapa pria yang mengenakan topi dengan corak sama, lengkap dengan bordiran daun cannabis di tengahnya.

Saya pun berkeliling di temani Bang Herman, sedangkan wajah Ayos mulai pucat.
 Tampaknya di satu sisi ia ingin memotret banyak hal, di sisi lain ia takut seluruh orang di pasar akan memintainya uang. Tapi Bang Herman memang guide pujaan, setelah dia bercakap-cakap dengan bahasa lokal, penduduk setempat tidak keberatan untuk difoto. Ayos pun gembira, dan ia mulai lupa diri, sibuk bermain dengan DSLR-nya.

Di sebuah ujung los pasar, saya menemukan seorang penjual papeda, makanan tradisional yang terbuat dari tepung sagu. Karena penasaran, saya pun membelinya satu mangkok. Don Hasman, dalam sebuah kesempatan pernah berkelakar,"Makanan khas Papua itu lem sagu!" Saya hanya tertawa saja mendengarnya. Tapi tentu saja Don Hasman benar, papeda ini sangat kenyal dan sedikit lengket di lidah.


Penjualnya bernama Ratna, asli Banyuwangi, Jawa Timur. Dia kemari karena ikut suami, sejak empat tahun yang lalu. Saya meminta papeda saya dicampur dengan kuah gule ayam, pilihan lain untuk teman papeda adalah gule ikan. Menurut saya keduanya sama saja.


Setelah saya mencoba papeda, sekarang giliran Ayos mencoba kuliner ekstrim lainnya; pinang. Bagi penduduk Papua, buah pinang adalah camilan yang enak, cara makannya langsung dikunyah, ditambah bunga sirih dan kapur, itu adalah kudapan paling umum yang bisa ditemui di seluruh Wamena. Setelah dikunyah beberapa lama, mulut akan menjadi merah, sama seperti orang tua di Jawa yang suka mengunyah sirih dengan padanan tembakau.


Saat pertama makan pinangnya, Ayos masih baik-baik saja. Tapi kondisi berubah setelah potongan bunga sirih dimasukkan ke dalam mulut, wajah ayos berubah menjadi merah. Perutnya meledak-ledak, ia ingin muntah. "Gimana rasanya, Yos?" tanya saya menggoda, Ayos hanya menggelengkan tangannya saja. Lalu
byor, Ayos memuntahkan seluruh isi mulutnya. "Rasanya gila!" kata mahasiswa angkatan tua ini sambil tertawa.
Pasar Jibama tidak saja menjual sayur, di sudut lain ada pula bagian pasar babi dan ikan.

Setelah dari Pasar Jibama, kami menuju Jembatan Wesaput. Jarak antara keduanya tidak jauh, hanya beberapa kali tikungan saja. Tidak ada yang istimewa dari jembatan ini kecuali bentuknya yang berupa jembatan gantung dengan struktur besi dan tali baja. Jika kita melintas di atasnya, maka jembatan ini akan bergerak naik turun. Cukup mengerikan buat orang yang
phobia terhadap air, apalagi di bawahnya mengalir Sungai Baliem dengan lebar tiga belas meter yang tampak dalam.

No comments:

Post a Comment

Video - Exploring Sumba - Taman Nasional Matalawa #FamliyGoesToNationalPark Episode-5

Bulan Maret menjadi penjelajahan pertama #FamilyGoesToNationalPark kami di tahun 2017 sekaligus menjadi Episode yang ke 5. Pe...