Sunday, October 9, 2011

Kau Mati, Aku Potong Jari



Saat wanita lain sedang sibuk mengangkuti batu panas dengan sebuah bilah kayu yang yang dibelah, nousa (ibu tua) itu tampak diam saja. Dia sebetulnya sangat ingin ambil bagian dalam acara pesta ini, tapi sudah tidak mungkin lagi baginya untuk mengangkat banyak hal. Tangannya cacat, hampir seluruh jemarinya hilang. Jika saja tidak disisakan seiris jempol di kedua tangannya, maka sulit bagi kita untuk menerka itu adalah tangan manusia.

Jemari buntung nousa yang kesepian itu adalah sebuah sejarah panjang tentang kehilangan. Tentang orang-orang tersayang yang pergi, menyisakan sang nousa sendiri.

Cacat tangan itu memang sesuatu yang disengaja. Disebut ikipalin (adat potong jari), jika ada seseorang yang kau sayangi mati, maka potonglah jarimu satu dua biji. Itu melambangkan sebuah duka yang mendalam. Rasa sakitnya ditinggal pergi ibaratnya sampai ujung jari. Daripada sakit terus menerus, maka lebih baik dihilangkan saja, dipotong dengan kapak batu yang tidak terlalu tajam, namun bisa membuat ujung jari remuk remas jika dihunjamkan.

Saya tidak bisa membayangkan sakitnya. Jika pada abad pertengahan,  manusia di Eropa sudah mengembangkan guillotine (alat penggal kepala) untuk meminimalisir rasa sakit. Maka itulah hebatnya Suku Dani, yang hingga hari ini tidak memiliki evolusi berarti untuk sekedar alat potong jari.

Darah yang mengucur dari ujung jari yang terpotong dibebat dengan daun yang sebelumnya sudah diolesi dengan ramuan tradisional. Menghilangkan rasa nyeri juga risiko terinfeksi dan borok jika dibiarkan terbuka.

Sebuah lukisan realis di lobby hotel Baliem Pilamo mengandaikan proses ini dengan sangat menarik. Lukisan kisah penciptaan dalam Bibel yang terkenal digambar ulang. Tampak dua tangan milik Adam dan Tuhan yang bersatu, seperti lambing connecting people milik Nokia. Hanya saja telunjuk Adam hilang terpotong dan diperban dengan daun dan kulit rotan. Ini adalah mop, lelucon khas Papua, dalam bentuk yang lebih filosofis. 

“Dua jari ini hilang karena adik saya mati dalam perang,” kata nousa menunjuk jari manis dan kelingkingnya. “Kalau dua ini saya potong karena suami saya meninggal, saya sedih sekali,” lanjutnya memperlihatkan telunjuk dan jari tengahnya.

Tradisi yang mengerikan ini memang sudah berjalan selama ribuan tahun. Bisa jadi suatu saat para arkeolog masa depan banyak menemukan tulang jari tanpa tangan di bawah lapisan tanah Wamena. Sebagai bukti peradaban Suku Dani pernah tinggal di atasnya. Saya pikir, dengan banyaknya jumlah perang suku yang terjadi selama ini, pasti banyak sekali ibu dan istri yang potong jari.

Cara lain untuk mengutarakan kesedihan pada Suku Dani adalah dengan melumuri tubuh dan wajah dengan lumpur sungai. Bang Herman, sang guide menunjukkan saya seorang wanita yang mukanya penuh lumpur berwarna kuning saat upacara bakar batu,”Suaminya baru saja meninggal,” kata Bang Herman menjelaskan.

Bagi keluarga yang sedang berduka, maka pantang untuk pergi jauh dari desa. Masa berkabung ini hanya diisi dengan mendekam diri selama seminggu dua minggu atau lebih. Minggu selanjutnya sudah bisa keluar kampung, tapi dengan tujuan yang tidak jauh. Dilakukan bertahap hingga rasa sedih benar-benar hilang dan sudah bisa beraktivitas lagi dengan normal.

Begitulah tata cara berbela sungkawa pada Suku Dani. Maka jika aku mati, silahkan kau potong jari.

No comments:

Post a Comment

Video - Exploring Sumba - Taman Nasional Matalawa #FamliyGoesToNationalPark Episode-5

Bulan Maret menjadi penjelajahan pertama #FamilyGoesToNationalPark kami di tahun 2017 sekaligus menjadi Episode yang ke 5. Pe...