Sunday, October 9, 2011

Udang Monster Ala Wamena


 
Jika ada makanan lain yang paling diinginkan oleh para pelancong di Wamena, maka pasti itu bukanlah hipere (ketela rambat), melainkan Udang Baliem (Cherax sp) yang unik. 
Makanan ini yang saya santap bersama Ayos selama beberapa hari ketika kami berkunjung ke Wamena tahun lalu.

Bentuk udang ini sangat memuaskan, tiga kali lebih besar daripada ukuran udang biasa. Badannya tertekuk 360 derajat, cangkangnya sangat keras, kaki-kakinya jenjang dan dan tegas. Tapi yang paling menggoda adalah dua buah capit besar di ujung tangannya. Seperti ketam.
Dari sepasang capit inilah banyak orang yang lebih suka menyebutnya sebagai Udang Selingkuh. Konon, spesies ada karena hasil selingkuh antara udang biasa dengan ketam. Ada-ada saja memang. Tapi itu sudah, orang Wamena sangat suka dengan mop, lelucon sederhana yang kadang garing, kadang juga bikin ketawa sampai menangis.
Sebetulnya, ini bukanlah udah biasa. Secara biologis udang ini bisa dikelompokkan sebagai jenis lobster air tawar (Cherax sp). Habitatnya tersebar di sepanjang Sungai Baliem. Setidaknya hingga saat ini ada delapan buah jenis lobster air tawar di Lembah Baliem yang sering dikonsumsi masyarakat.
Tapi tak usahlah kita membicarakan bentuknya yang aneh. Karena masih banyak hal yang bisa kita ulas dari hewan yang sangat trilobite ini.


Bagi penggemar kuliner, tentu saja udang endemik ini sudah seperti legenda. Dari beberapa orang yang saya tanyai tentang “10 Hal yang Tidak Boleh Dilewatkan Selama di Wamena”, udang ini pasti masuk di dalamnya. Jadi, hukum untuk mencoba udang ini saat berkunjung ke Wamena adalah wajib ain.


“Pokoknya kalau ada tamu, pasti kitong punya tamu minta disediakan udang selingkuh,” kata Meylan, seorang pramusaji di Hotel Baliem Pilamo. Gadis Cina-Manado ini juga bercerita tentang cara menangkapnya,”Bisa dipancing atau dijaring, ada pula yang diternak, tapi biasanya itu udang punya rasa bisa berubah jika sudah diternak,” jelas Meylan.


Menurut pengamatan lidah saya, Udang Baliem ini dagingnya bertekstur lebih lembut dibandingkan udang air asin. Rasanya pun sangat gurih. Sungguh berbeda dari udang atau lobster biasa. Cara menikmatinya pun tidak seperti kita memakan udang air asin, kulit kerasnya harus dikupas terlebih dahulu untuk menikmati dagingnya yang manis.
Banyak cara memasak udang selingkuh ini. Sampai meninggalkan Wamena, setidaknya saya sudah mencoba beberapa variasi; udang asam manis, udang oseng mentega, dan digoreng biasa. Semua sajian akhirnya habis di meja makan, saya memang tergolong omnivora yang rakus untuk urusan makan enak.


Jika ingin membeli udang ini sebagai oleh-oleh, silahkan mencarinya di pasar tradisional seperti Jibama. Meskipun, sepengetahuan kami tidak banyak orang yang menjualnya.
Suatu saat kami bertemu dengan seorang pria yang membawa dua kantong plastik besar di ruang tunggu Bandara Wamena, ternyata di dalam kantong plastik itu berisi Udang Baliem. Ia menjual seharga 200.000 rupiah untuk setiap setengah kantung plastik. Saya taksir beratnya sekitar tiga kilogram.
Sekedar informasi, para penjual di Wamena tidak terbiasa dengan hitungan kilogram. Mereka lebih familiar dengan perhitungan fisik; segenggam, seikat, atau setengah noken. Jangan panik, sistem purba ini memang menjadi sebuah daya tarik yang sudah jarang ditemukan di tempat lain.


Saat berbelanja di Wamena, silahkan menawar dengan harga pas, karena agak susah bagi para pedagang tradisional untuk membayangkan bilangan cacah seperti; dua puluh tiga ribu enam ratus lima puluh rupiah misalnya, jika Anda menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan, akan sulit bagi mereka untuk menghitung kembalian.


Tawar juga dengan harga yang pantas, jika Anda tidak ingin disabet dengan kapak batu.
Rekomendasi kami untuk merasakan Udang Baliem dengan cara yang instan ada di Restoran Hotel Baliem Pilamo. Seporsi Udang Selingkuh Asam Manis yang dihidangkan sekitar 15 ekor dijual dengan harga Rp 95,000.

No comments:

Post a Comment

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...