Monday, November 21, 2011

Predator Dari Pulau Rinca


Sang Ora

 
Orang Manggarai menyebutnya Ora dalam bahasa mereka.  Hewan jenis kadal terbesar di dunia ini lebih suka hidup di dataran rendah sebagai tempat berlindung dan sabana untuk mencari makan.

Kadal besar dan gemuk ini adalah hewan predator dan juga pemakan bangkai.  Karena tubuhnya yang besar, hewan ini sering disebut juga Dragon. Predator ini adalah hewan penyendiri, dia hanya akan berkumpul ketika saat makan dan berkembang biak.
Dalam urusan berkembang biak selain hasil perkawinan normal antara jantan dan betina, Komodo betina juga dapat melahirkan anak tanpa harus dibuahi oleh pejantan atau disebut juga dengan partenogenesis.

Komodo adalah salah satu hewan langka yang harus jaga kepunahan nya.
Maka dengan tujuan melindungi dan menjaga populasinya, Taman Nasional Komodo diresmikan menjadi Taman Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1980.

Di kawasan Taman Nasional Komodo, NTT yang luas daratan nya sekitar 170,000 hektar, salah satu pulau yang menjadi habitat asli Komodo adalah Pulau Rinca, salah satu dari 3 pulau terbesar di kawasan TN Komodo.
Menurut hasil survey terakhir, populasi hewan ini di Pulau Rinca tinggal sekitar 1300-an ekor.  Jika tidak dijaga, jumlah ini akan berkurang dikarenakan adanya perburuan liar ataupun berkurangnya jumlah mangsanya, salah satunya rusa yang juga merupakan target para pemburu liar.

Dari Pos KPLP Loh Buaya, kami pun disambut  oleh pemandu yang bersenjatakan kayu bercabang dua diujungnya, yang biasa disebut magic stick.  Perburuan pun dimulai !
Setelah trekking beberapa puluh meter menuju Pos Ranger ,  saya  yang berjalan paling belakang melihat ada Komodo yang sedang berjalan sendirian, segera saya memanggil teman-teman yang berjarak 100 meter di depan  untuk kembali agar dapat melihat Komodo itu dari dekat.

Tiba di Pos Ranger kami pun mendapatkan briefing singkat mengenai trek yang akan dilalui, termasuk hal-hal yang tidak boleh dilakukan.  Lalu perburuan dilanjutkan.  Memasuki kawasan hutan, terlihat ada tali-tali yang berfungsi sebagai pembatas di sisi jalur yang dilalui.  Menurut pemandu, batas itu sengaja di buat sebagai pembatas untuk kawasan sarang bertelur komodo betina.

“Ketika menjaga telurnya, sang induk Komodo akan terus menerus berada di sarang nya selama 3 bulan, dan bisa tanpa memakan apapun”  ujar pemandu kami.  Tak heran jika ada yang mendekati sarangnya, mereka sang induk akan menjadi sangat agresif.  Sebagai catatan hewan ini dapat berlari hingga kecepatan 16-20 km/jam. 
Maka dari itu ketika berkunjung ke sana maka kita mesti waspada.  Jika ada komodo yang mengejar, tips nya adalah berlarilah secara zig-zag ketika dikejar komodo, karena mereka sulit untuk berlari berbelok-belok.
Memanjat Pohon salah satu cara lainnya untuk menghindari dari kejaran komodo.  Namun tidak berlaku jika kita dikejar oleh komodo yang masih kecil, karena mereka akan bisa memanjat pohon.

Predator ini mempunyai masa mengeram selama 8 sampai 9 bulan sebelum akhirnya telur nya menetas. Telurnya yang kira-kira seukuran telur kura-kura akan menghasilkan bayi komodo sepanjang sekitar 30 cm.
Hal-hal Itulah beberapa dari point penting yang disampaikan kepada kami pada waktu briefing singkat oleh pemandu.  Termasuk soal batas tali tadi sengaja dibuat untuk memperingatkan pengunjung.

Sedang asyik-asyik nya berjalan sambil mengobrol, tiba-tina kami dikagetkan oleh 2 ekor komodo yang sedang bertarung, ternyata ada seekor komodo yang mencoba memasuki sarang komodo lainnya yang sedang bertelur.  Kamipun tersontak kaget dan sontak menghentikan langkah.  Hingga akhirnya salah satu dari komodo tersebut menjauh mengalah, maka langkah pun kami teruskan.
Suatu suguhan yang menarik dan jarang terjadi, tanpa rekayasa tentunya.

Di suatu tempat lain yang kami lalui terlihat ada kubangan tempat dimana biasanya kerbau berkumpul.  Selain kerbau yang menjadi mangsa komodo, monyet dan rusa juga dapat ditemui disana.  Di Pos Ranger,  kami melihat beberapa sisa-sia tengkorak kepala hewan-hewan korban sang Ora yang sengaja dipajang.

Ukuran hewan ini ada yang beratnya mencapai hingga lebih dari 120 kg dan berukuran lebih dari 3 meter. Sedangkan untuk membedakan jenis kelamin komodo, dapat terlihat jelas dari ukuran tubuhnya.  Ciri yang paling terlihat jelas adalah komodo jantan tubuhnya jauh lebih besar dari betina.

Akhirnya kami pun sampai kembali ke tempat awal kami masuk setelah perjalanan mengitari pulau yang memakan waktu sekitar 1,5 jam.
Sebuah pengalaman yang menakjubkan berkesempatan melihat predator dari pulau Rinca dari dekat.

Bersandar di Pulau Rinca
 
Pintu Masuk Loh Buaya

Berjemur

Menghadang di Tengah Perjalanan
 
Sisa-sisa Korban Komodo


Monday, November 14, 2011

Caci. Satu Lawan Satu

Melompat...Memecut



Hujan deras yang mengguyur  Kampung Melo, Nusa Tenggara Timur di akhir oktober itu tak menghentikan mereka untuk memulai acaranya.  Para kaum perempuan pun mulai memainkan alat musik seperti gendang dan gamelan untuk meniringi permainan/tarian Caci yang akan segera dimulai.

Menurut Pak Joseph, tetua yang saya temui bahwa awalnya tarian caci ini adalah tarian/permainan yang dilakukan para pejuang perang untuk merayakan dan mengenang perang. Tarian ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih di lestarikan hingga saat ini.

Makna dari Tarian ini sendiri adalah rasa kepahlawanan ataupun keperkasaan pria Manggarai, untuk menampilkan sisi heroisme mereka.
Namun dewasa ini, tarian ini berkembang dilakukan juga pada saat upacara-upacara seperti untuk mensyukuri hasil panen, pentasbihan seorang imam, penyambutan tamu, dan lain-lain.

Kata Caci itu sendiri berasal dari Ca berarti satu, Ci berarti uji.  Jadi Caci itu bisa bermakna ujian satu lawan satu.  Pertarungan antara dua orang pria, satu lawan satu, saling pecut secara bergantian.  Suatu lambang Keberanian.

Dalam kesempatan kunjungan kali ini, saya mendapat kehormatan untuk memulai permainan caci ini.  Dengan dibekali pecut, saya pun melompat menyerang seorang pemuda yang berpakaian dan bersenjatakan lengkap sudah bersiap untuk menangkis serangan saya.  Suatu pengalaman baru dan sangat menarik bagi saya pribadi.

Biasanya larik atau pecut yang digunakan dalam permainan/tarian caci terbuat dari kulit kerbau yang telah dikeringkan, begitu juga dengan perisai untuk menangkis pukulan sang lawan juga terbuat dari kulit sapi.
Sedangkan pakaian yang digunakan adalah pakaian perang, dengan dada dibiarkan terbuka dan bagian kepala memakai semacam topeng yang menutupi muka.

Beberapa orang disekitar memberikan dukungan dengan tari-tarian dan nyanyian sambil menunggu giliran mereka, saat dua orang lainnya tengah bertanding. 
Rasa persaudaraan dan keakraban sangat terasa, karena si penyerang pun menyanyikan lagu-lagu dan menari nari sebelum memulai penyerangan.

Sementara itu ada orang-orang yang bertugas memberikan tuak, minuman khas yang selalu ada saat acara ini dilakukan kepada si pemain caci tadi.  Tuak ini tak lebih dari sekedar untuk membangkitkan semangat.  Apalagi dalam cuaca hujan seperti ini cukup lumayan untuk menghangatkan tubuh.

Tadi saya dan teman-teman pun sudah merasakan minuman tuak ini, ketika kami datang dan disambut di Kampung Melo ini.

Menari sebelum Menyerang

Penyerang dan Penangkis

Saling berhadapan

Saya berkesempatan bermain Caci. Foto oleh Ipung

Friday, November 11, 2011

Dari Sabolo Ke Seraya Kecil

Merapat Di Sabolo


Kapal bermesin 6 silinder itu membawa kami di pagi yang cerah menuju Pulau Sabolo, salah satu pulau di Kepulauan Komodo. 

Kapal bermotor ini mempunyai 6 kamar yang tiap kamarnya bisa diisi oleh 2 orang.  Yang mengejutkan atau diluar dugaan saya sebelumnya adalah selain dilengkapi fasilitas tv di geladak atas,  kapal ini juga berpendingin udara di tiap kamarnya.

Fadaelo, kapal yang kami tumpangi ini di kemudikan oleh Fadli seorang kapten keturunan Bugis dibantu oleh 2 orang anak buah kapal nya. 
Ya, Labuan Bajo selain didiami suku-suku dari Flores banyak terdapat keturunan dari suku Bugis.  Mengenai ini, ada sejarah panjang dimasa lalu, kenapa akhirnya orang dari suku Bugis cukup banyak mendiami daerah Labuan Bajo.

Setelah perjalanan sekitar kurang lebih 1 jam dari pelabuhan Labuan Bajo sampailah kami di Pulau Sabolo termasuk salah satu pulau kecil diantara gugusan pulau di kawasan TN Komodo.  Mata pun disuguhkan indahnya gradasi warna laut sekitar.
Namun pulau seluas kurang lebih 20 hektar ini merupakan pulau yang tidak berpenghuni. 

Pasirnya yang berwarna putih bersih dan menjadi salah satu tempat wisata snorkeling.
Jangkar kapal pun dilepas sekitar beberapa puluh meter dari pinggir pantai.
Kami pun tak sabar untuk menyeburkan diri.  Sebagian teman-teman pun mulai ber snorkeling agak ke tengah dan sebagian lagi berenang menuju pantai pulau kecil lainnya disekitaran.

Di pantai pulau ini, bisa kita temui pasirnya yang bercampur butiran-butiran merah, sama seperti yang terdapat di Pantai Merah (Pink Beach).  Ditemui juga pecahan-pecahan karang berwarna merah dari yang sebesar biji rambutan hingga yang berdiameter 5 cm.

Indah nya karang-karang dan beraneka jenis ikan-ikan di bawah laut membuat kami tak henti-hentinya berdecak kagum saat bersnorkeling. Kalau saja kami tak harus melanjutkan perjalanan ke tempat lain, pasti kami masih betah berlama-lama disana.

The Fadaelo

Setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit dari Pulau Sabolo, sampailah kami di Pulau Seraya.
Lalu dengan menggunakan perahu kecil berpenumpang maksimal 6 orang kami pun menuju ke tepi pantai.

Pulau Seraya Kecil ini letaknya di sebelah utara Labuan Bajo.  Lebarnya hanya sekitar 200 meter dengan panjang kira-kira 1,3 kilometer.  Bedanya dengan pulau yang sebelumnya kami kunjungi, pulau Sabolo, terdapat penduduk mendiami pulau ini walau hanya berjumlah tak terlalu banyak.

Pantainya yang putih, lautnya yang tenang dan karang nya yang indah menjadi tempat yang tepat untuk berenang maupun untuk snorkeling.

Di Pulau ini terdapat bungalow-bungalow yang disewakan untuk menginap, juga tersedia restoran untuk tempat makan dan minum bagi para pengunjung.

Saya dan beberapa teman langsung saja menyeburkan diri untuk berenang , dan ada juga yang ber snorkeling. Tidak terlalu lama disana kami pun harus kembali ke pelabuhan Labuan Bajo menjemput 4 orang teman kami yang baru tiba dari Denpasar untuk bergabung melanjutkan perjalanan mengeksplor ke pulau-pulau lainnya.

Pantai Di Seraya Kecil

Seraya Kecil Dari Jauh

Thursday, November 10, 2011

Merapat Di Pulau Yang Terbakar



Dari cerita seorang teman yang pernah ke pulau ini, maka saya pun tertarik untuk menyaksikan keunikan nya secara langsung.  “Gak semua tukang perahu tau tempat ini, De”. Begitu kata teman saya, Tegar tentang sebuah pulau karang di perairan Labuan Bajo ketika saya menceritakan bahwa saya berniat ke sana.  Akhirnya kesempatan itu datang juga.

Sebutan orang lokal untuk pulau karang itu adalah Nisa Purung yang berarti pulau yang terbakar. Sedangkan orang asing yang sempat singgah kesana menyebutnya Strawbery Sundae.

Ya, mungkin karena warnanya yang merah menyala, maka mereka menamainya seperti itu.

Berbekal dari informasi teman tersebut, saya pun menanyakan tentang pulau ini ke guide kami, Pak Mikael. Saya menuturkan informasi yang saya dapat dari seorang teman mengenai tempat ini. “wah, saya pun belum pernah mendengar tempat ini sebelumnya’ begitu kata Pak Mikael.

Tak lama kemudian Pak Mikael membawakan peta kawasan Taman Nasional Komodo. “Baik, nanti coba saya bicarakan dengan kapten kapal untuk mencapai lokasi ini, biar kita bisa kesana”, ujar Pak Mikael.  Sepertinya dari informasi yang saya sebutkan sebelumnya bahwa letak pulau ini dekat dengan Selat Molo dan Pulau Rinca.

Kemungkinan karena letaknya yang berada dekat dengan selat, mengakibatkan arus yang cukup sulit sehingga tak banyak perahu atau kapal apalagi yang berukuran kecil melewati tempat itu.  Bahkan menurut pak Mikael, setiap tahunnya pasti ada kapal atau perahu yang menjadi ‘korban’ di sekitar selat Molo.

Setelah perjalanan sekitar 2 jam dari pelabuhan Labuan Bajo, pulau itu pun mulai terlihat.  Lalu dengan menaiki perahu kecil dari Kapal yang di sauhkan beberapa puluh meter dari pulau, kami pun mulai memasuki pulau itu.

Tangan dan kaki kami banyak mendapat ‘hadiah’ kecil dari tumbuhan semak yang berduri di pulau berbentuk bukit tersebut.  Namun, rombongan perahu kedua bisa sampai di pulai itu tanpa goresan sedikitpun, ternyata pulau tersebut bisa dimasuki lewat sisi satunya lagi tanpa harus menembus tumbuhan berduri tadi.

Ketika berada diatas pulau karang itu, selain penuh decak kagum atas keajaiban ini,  kami pun sempat bertanya-tanya sendiri, proses apa yang pernah terjadi disini, hingga menyebabkan timbulnya karang unik ini beserta dengan segala pola diatas nya.  Namun semua itu belum lah bisa terjawab di saat itu.

Sebagai orang lokal yang berprofesi sebagai pemandu wisata, pak Mikael berterima kasih karena sudah diarahkan ke tempat ini. “Mungkin nanti bisa saya tawarkan kepada wisatawan yang tertarik untuk berkunjung kesini” ujarnya.

Saya pun merasa beruntung dan berterima kasih sudah dapat melihat satu lagi dari sekian banyak keajaiban alam di negeri Indonesia ini.




  


 



Cunca Rami



Cunca Rami Yang Indah



Jalan yang berkelok-kelok dan naik turun menuju air terjun Cunca Rami di Labuan Bajo, mengingatkan saya ketika perjalanan menuju Danau Maninjau di Sumatera Barat atau Danau Toba di Sumatera Utara.
Membuat isi perut turut di guncang dan perasaan mual tak terelak kan tentunya.

Setelah memakan waktu selama sekitar 45 menit perjalanan dengan mobil, kami pun tiba di Desa Wae Lolos.  Trekking menuju air terjun Cunca Rami pun dimulai dari jalan setapak yang berada di pinggir jalan utama.

Suguhan pemandangan indah dan udara segar menemani sepanjang perjalanan.  Mata pun dimanjakan oleh hijau nya pepohonan, memberikan kesan teduh dan sejuk. Pohon kemiri mendominasi trekking menuruni bukit kali ini.  Hamparan sawah yang hijau dan kerbau pembajak pun turut menemani perjalanan kami.

Berada di kawasan hutan Mbeling, Cunca Rami merupakan salah satu tujuan wisata bagi turis lokal maupun mancanegara dari beberapa air terjun yang terdapat di Labuan Bajo.  Selain karena debit airnya yang cukup besar, kolam atau danau yang tercipta di bawahnya menjadi daya tarik tersendiri untuk merasakan betapa nikmatnya udara dan air disana.

Berada di ketinggian 1200mdpl, air terjun dengan ketinggian sekitar 40 meter ini sudah kelihatan diantara bukit dan pepohonan hijau beberapa ratus meter dalam perjalanan menuju kesana.

Begitu tiba disana, kami pun tak sabar dan segera menyeburkan diri ke dalam ‘kolam renang alami’ tersebut.  Airnya yang sangat dingin membuat tak bisa berlama-lama berenang di dalamnya. 
Setelah beberapa meter berenang, harus menepi ke pinggiran dulu untuk sekedar menghalau dingin lalu  kemudian nyebur lagi.

Saya pun mencoba untuk berdiri dibawah guyuran air terjun yang besar itu dan serasa mendapat pijatan alami dari airnya. Sempat juga merayap di tebing vertikal di belakang air terjun ini, mendapati lubang semacam goa namun tidak saya teruskan untuk melihat lebih dalam lagi.

Puas berenang dan menghirup udara segar disana, kami pun harus mengisi perut  sebelum melanjutkan perjalanan menanjak menuju tempat semula yang memakan waktu sekitar 30 menit.  Ini saatnya untuk rela meninggalkan Cunca Rami yang eksotis.

Dari beberapa air terjun yang sudah saya kunjungi di daerah lainnya di Indonesia, Cunca Rami adalah salah satu air terjun yang cukup tinggi dan mempunyai debit air yang cukup besar.

 
Trekking Menuju Cunca Rami

Sawah Dan Pepohonan Kemiri di Hutan Mbelling

Kolam Renang Alami





Wednesday, November 9, 2011

Labuan Bajo


Bandara Komodo


Pesawat ATR akhirnya membawa kami sampai di Bandara Komodo, Labuan Bajo setelah sempat delay beberapa lama di Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Empat orang teman kami harus rela tinggal di Denpasar untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya menuju Labuan Bajo. Kondisi ini dikarenakan penuhnya kursi penerbangan yang meskipun sudah dicoba untuk dipesan jauh-jauh hari.  Jadilah hari itu hanya 7 orang dari kami yang meneruskan perjalanan pada hari yang sama.

Labuan bajo, merupakan ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Sebagai pintu gerbang bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Pulau Komodo, Pulau Rinca dan pulau-pulau lainnya di sekitar Labuan Bajo.
Sudah banyak tersedia penginapan disana, mulai dari kelas melati hingga hotel berbintang.

Labuan bajo dapat diakses melalui udara dan laut dari Denpasar atau Kupang.  Ada juga ferry dari Sumbawa sedangkan akses darat dapat melalui Ende dan Maumere.
Masyarakat disana juga beragam suku pendatang, diantaranya Sulawesi, Jawa, Bali dan Padang.  Bahkan Kabarnya orang Sulawesi atau tepatnya Nelayan Bugis sudah ada disana sejak lama dan juga menurut cerita merekalah yang memberi nama untuk kota Labuan bajo ini.

Setibanya di pelabuhan Labuan Bajo, kami langsung menuju restoran karena memang perut sudah harus diisi.  Kejutan pun datang.  Menu yang dipesan mungkin biasa cumi, ikan makarel dan kari ayam.  Namun porsinya yang besar akhirnya membuat perut kami terasa penuh.

Selesai menyelesaikan urusan perut, kami pun check-in di Hotel Boutique Hills tak jauh dari restoran tadi.  Menariknya, letak hotel ini tepat berada di depan pelabuhan Labuan Bajo. Waw, kami mendapatkan pemandangan yang indah dari hotel yang letaknya diatas, karena kontur tanah perbukitan di daerah ini.
Dari atas dapat terlihat juga beberapa pulau kecil, diantaranya adalah Pulau Monyet.

Sehabis menyegarkan tubuh dengan mandi di hotel kami pun melanjutkan perjalanan ke Panorama Hotel.  Menurut Pak Mikael guide kami, dari hotel Panorama tersebut kami bisa mendapatkan pemandangan Sunset yang menakjubkan.

Benar saja, begitu matahari membenamkan sinarnya, kami mendapatkan suguhan pemandangan yang indah. Ada beberapa kapal yang berlabuh menambah keindahan pemandangan disana bak lukisan seorang maestro.

Tentu saja momen ini tidak kami sia-sia kan begitu saja.  Sambil menyeruput kopi dan makanan ringan, kami pun mulai mengabadikan Sunset sore itu dalam kamera-kamera kami.


Makarel Hot Plate

Pelabuhan Labuan Bajo


Senja di Labuan Bajo

Selamat Pagi Labuan Bajo


Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...