Thursday, September 27, 2012

Berlayar dan belajar ke Pulau Onrust

Layar Terkembang


Perjalanan kali ini agak sedikit berbeda.  Bukan dengan menggunakan perahu bermesin melainkan menggunakan Perahu Layar !
Hari masih pagi di Marina Batavia.  Dari sinilah perjalanan kami dimulai menuju salah satu pulau di Kepulauan Seribu.  Tidak seperti perahu-perahu lain yang biasanya berangkat dari Marina Ancol ataupun dari Pelabuhan Muara Angke.

Candola!  Begitu nama Perahu Layar yang akan membawa saya, Sugi sebagai jurumudi ditambah 2 orang ABK (Anak Buah Kapal) dalam mengarungi Teluk Jakarta.  Perahu layar yang kami tumpangi itu tinggi tiangnya sekitar 14 meter dengan panjang perahu sekitar 30 kaki dan dapat menampung maksimal hingga 6 orang penumpang.  Kecepatan maksimal yang dapat dicapai maksimun hingga 10 knot.
Untuk keluar dari dermaga perahu ini memang masih membutuhkan dorongan dari mesin.  Namun beberapa saat meninggalkan pelabuhan maka layarpun mulai dibentangkan dan mesin pun dimatikan.  Menggunakan perahu layar adalah dengan memanfaatkan hembusan angin sebagai tenaga penggeraknya.

Akhirnya setelah memakan waktu selama 2 jam lebih 15 menit, perahu pun berlabuh di Pulau Onrust.  Pulau yang menyimpan begitu banyak sejarah di masa lalu.
Pulau dengan luas sekitar 5 hektar ini dinamai dari seorang Belanda yang datang ke pulau ini ratusan tahun lalu, Cornelis Van Der Walck Onrust.
Pada waktu itu, VOC menguasai Batavia (Jakarta) sekitar tahun 1615, mereka membangun dermaga dan galangan kapal di pulau ini hingga akhirnya berubah fungsi menjadi benteng pertahanan pada tahun 1656.
Namun disekitar tahun awal 1800-an tempat ini berhasil dihancurkan oleh Armada Inggris yang memang menjadi musuh Belanda saat itu.  Pada tahun 1816 Inggris pun meninggalkan pulau ini.

Sebelum pulau ini dihancurkan, konon pada tahun 1777, James Cook pelaut Inggris yang menemukan Benua Australia pernah singgah di pulau ini selama 8 hari untuk memperbaiki kapalnya.  Para pelaut dan petualang Eropa yang singgah di Onrust mencatat dan membuat lukisan situasi di pulau ini.  Karya mereka pula lah yang kelak menjadi sumber sejarah Onrust.
Diambil dari catatan dan lukisan para pendahulu, ada fakta bahwa di awal abad ke-17 Pulau ini mempunyai peranan penting dalam pelayaran niaga internasional. Pulau ini menjadi tempat persinggahan dan penampungan sementara komoditi-komoditi Asia yang akan dikirim ke Eropa.

Seiring berjalan nya waktu, tepatnya pada tahun 1911 pulau ini berubah fungsi menjadi asrama karantina bagi orang yang akan berangkat menunaikan ibadah haji, sampai akhirnya pada tahun 1933 dipindahkan ke Pelabuhan Tanjung Priok.
Semasa Perang Dunia ke II, tahun 1942, Jepang pun sempat menjadikan tempat ini sebagai penjara. Tepatnya tempat mengadu para tahanan.

Reruntuhan bekas bangunan, pondasi, artefak, meriam, merupakan peninggalan yang masih menjadi saksi sejarah di pulau ini.
Selain reruntuhan bangunan sebagai saksi sejarah, disana masih terdapat juga pemakaman Belanda yang dari inskripsinya, sebagian besar meninggal di usia muda dikarenakan penyakit tropis.  Bahkan istri dari Onrust, Johanna Kalf dimakamkan di pulau ini pada tahun 1719.
Bahkan ada salah satu makam yang ditulis (pada plang) sebagai makam keramat.  Menjadi rahasia umum bahwa makam keramat ini diduga adalah makam Kartosuwiryo, salah seorang tokoh DI/TII.

Sesungguhnya disana terdapat museum  berikut dengan beberapa peninggalan-peningalannya yang masih tersisa.  Namun sangat disayangkan, kondisi museum sangat tidak terawat.
Pada tahun 1972 pemerintah DKI Jakarta menetapkan pulau ini sebagai Suaka Purbakala, dan menetapkan nya sebagai Cagar Budaya pada tahun 1999.

Setelah makan siang, perjalanan berlanjut ke Pulau Kelor yang ukurannya lebih kecil dari Pulau Onrust dan berjarak sekitar 20 menit menggunakan perahu.
Karena tidak bisa merapat hingga di pinggir pulau, perahu kami jangkarkan sekitar beberapa ratus meter dari pulau.  Dengan menggunakan Rubber Boat akhirnya kami sampai di pulau yang juga meninggalkan bekas benteng Belanda pada jamannya.

Tak berlama-lama di Pulau Kelor, maka kami pun kembali ke dermaga awal, hingga tiba pada saat matahari sudah terbenam.

Selain mendapatkan suatu pengalaman menarik dengan ber-Perahu Layar, perjalanan kali ini  sekaligus mendapatkan sedikit pengetahuan sejarah masa lalu yang terjadi di kedua pulau ini.

Quote: "Ambition leads me not only farther than any man has been before, but as far as I think it possible for man to go"  -James Cook (British Explorer. 1728-1779)



Candola

Memompa perahu karet untuk mencapai Pulau Kelor

Kembali ke Perahu Layar

Pulau Bersejarah

Sisa-sisa reruntuhan bangunan (P. Onrust)

Meriam (P.Onrust)

Bagian dalam Benteng (P.Kelor)

Benteng VOC (P. Kelor)

Wednesday, September 19, 2012

Turnamen Foto Perjalanan

Dipangkuan Mama



Lembah Baliem adalah rumah bagi 3 Suku besar di Wamena, Papua yaitu Dani, Lani dan Yali. 
Di Desa Obia yang didiami oleh Suku Dani, saya menyaksikan suatu upacara yang mereka lakukan secara turun temurun, yaitu Bakar Batu.  Setelah selesai upacara mata saya tertuju pada gadis kecil yang cantik ini.  Ketika saya ingin memotretnya, diapun berlari dan duduk dipangkuan mamanya.  Tampaknya dia tidak mau untuk difoto sendiri, tapi dia ingin saya untuk memotretnya dengan senyuman manis sang Mama.

Keterangan: Turnamen Foto Perjalanan-Ronde 3 yg diadakan oleh Dina-Dua Ransel 


Say it with flowers
 
(Rangkaian) bunga sudah menjadi sesuatu yang lazim untuk mengungkapkan rasa sukacita, ucapan selamat, dukacita bahkan ungkapan kasih sayang dari seseorang kepada kekasihnya.  Di beberapa kotadi Indonesia biasanya pasar bunga mempunyai lokasi tersendiri (terorganisir), yang menawarkan bunga lokal maupun impor. 

Pasar Jibama di Wamena merupakan pasar tradisional terbesar di kawasan Lembah Baliem.  Pasar ini seperti menjajakan kebutuhan sehari-hari, seperti hipere (ubi), pinang, sayuran, ikan, kayu bakar, hasil kerajinan tangan hingga babi.  Namun uniknya selain beberapa dagangan tadi, di pasar tradisional di kota yang terletak di ketinggian 1600 mdpl ini, ternyata dijajakan juga hand bouquet flower.  Bunga-bunga khas wamena yang rangkum dan dibungkus kertas tersebut dapat bertahan hingga bertahun-tahun.  Bunga yang berwana-warni tersebut bukan dari jenis Edelweiss yang biasanya hidup gunung-gunung.  Orang sana menyebutnya dengan ‘Bunga Kertas’.


Jadi kalo kamu sempat berkunjung ke Wamena dengan pasangan atau gebetan, langsung aja beli bunga kertas tersebut dan berikan (dengan cinta) padanya...


Turnamen Foto Perjalanan Ronde 9 : Anak-Anak


"Now I see Now I see the secret of making the best person: it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth" (Walt Whitman)

Azzam (2,5 years) at Suryakencana, Mt. Gede
Dead Forest


Monday, September 17, 2012

Warna-warni Pangandaran



Kala Senja di Pangandaran


Setelah di pagi hari menyaksikan keindahan Green Canyon dengan stalaktit-stalaktit yang mengagumkan dan juga menikmati bermain-main dengan airnya yang dingin, kami pun bergegas kembali ke Pantai Pangandaran. 

Wow…terlihat ribuan orang sudah memenuhi Pantai Barat Pangandaran siang menjelang sore itu.  Setidaknya itu jumlah perkiraan yang saya dapatkan dari petugas penjaga pantai (Lifeguard) yang sedang mengawasi daerah tersebut.  Pantai memang masih menjadi primadona bagi orang untuk mengisi masa liburan.  Dan tampaknya pantai yang terletak di garis pantai selatan Pulau Jawa ini menjadi salah satu pilihan di masa liburan bulan Juli 2012 ini.

Melihat asyiknya orang-orang yang bermain bodyboard, 2 buah bodyboard berwarna pink dan ungu pun menjadi pilihan kami dari ratusan bodyboard yang dijejerkan disana.
Berjalan sedikit agak ke arah lautan, agar nantinya mendapat hempasan ombak dan bersiap meluncur dengan bodyboard…..Azzam serasa tak pernah puas untuk mengulang-ulang kegiatan itu, bermain dengan pecahan ombak, Seru ! Saya dan istri pun menikmatinya.  Sesekali Azzam terjatuh dan terpaksa menyeka mukanya yang terhempas oleh air laut.  Secara bergantian saya dan istri mengawasi dan menjaganya bermain ombak dari jarak yang dekat. Sesekali dia kepinggir pantai dan asyik bermain-main  timbunan pasir.

Prirriiittt….prriiiitttt….ditengah-tengah keasyikan orang-orang berenang, diselingi oleh suara sempritan dari petugas yang memberitahu jika ada perahu yang akan melaut ataupun yang akan berlabuh.  Cukup banyak perahu yang hilir mudik hari itu.
Perahu-perahu tersebut adalah perahu yang disewakan unutk mengantar orang-orang yang ingin mengunjungi atau bersnorkeling disana.  Perjalanan ke Pasir Putih yang terlihat dari Pantai Barat Pangandaran.  Pantai ini berlatar belakang Cagar Alam Pananjung, yang merupakan kawasan konservasi flora dan fauna.

Sekitar jam setengah lima sore, ada pemberitahuan dari petugas bahwa semua pengunjung diharapkan sudah tidak berada di pantai pada pukul lima, karena itu memang batas waku yang sudah ditentukan. Maka berangsur-angsur satu persatu para pengunjung meninggalkan pantai. Kami tak langsung kembali ke hotel, namun menunggu untuk menikmati terbenamnya matahari (sunset) di pantai itu.
Selain bermain di pantai, mengendarai ATV (All Terrain Vehicle), bersepeda dan menunggang kuda adalah kegiatan yang dapat dilakukan di Pangandaran.

Keesokan paginya, kembali kami bermain dipantai.  Tak sampai matahari tepat diatas kepala, orang-orang sudah mulai meninggalkan pantai.  Karena memang ini hari Minggu dimana orang-orang sudah bersiap untuk check-out dari hotel dan kembali ke tempat asal mereka.  Setelah beberapa saat bermain di pantai kami memutuskan untuk mengunjungi Pasir Putih.
Untuk menuju kesana  dapat dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri pantai dan memasuki kawasan Cagar Alam, pilihan lain selain menggunakan perahu.  Dan berjalan kaki menjadi pilihan kami. 

Sampai disana, sudah terlihat beberapa orang yang sedang berjalan-jalan dipinggiran pantai, beberapa sedang duduk sambil menggelar tikar dan ada juga yang sedang negoisasi dengan pihak penyewa perahu untuk diantarkan ke spot snorkeling. 
Bagi yang tidak membawa perlengkapan snorkeling, tak perlu khawatir karena bisa disewa ditempat penyewaan yang ada disana.
Tak salah jika pasir putih yang mempesona ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Pangandaran.

Setelah puas menikmati indahnya pasir putih yang elok itu, kami bersiap-siap meninggalkan pantai tersebut untuk makan siang, sebelum akhirnya menuju ke terminal bis Pangandaran untuk kembali ke Jakarta.

Inilah akhir dari perjalanan kami kali ini mengunjungi jalur selatan Pulau Jawa dan menyinggahi beberapa tempat wisata yang menarik.


Suasana ramai di Pantai Pangandaran

Penjaga pantai yang mengawasi

Bermain Pasir

Warna-warni Sepeda

Menuju Pasir Putih (foto oleh NZ Anastasia)

Berjalan di Pasir Putih (foto oleh NZ Anastasia)

Yeeeaaayyy..... (foto oleh NZ Anastasia)

Snorkle

Pintu Masuk

Tuesday, September 4, 2012

Kampung Naga dengan sejarahnya yang mungkin hilang



Kampung Naga

  

Lokasinya yang terletak di jalan raya yang menghubungkan antara Kota Garut dan Kota Tasikmalaya dapat ditempuh sekitar 1 jam jika berkendaraan dari Cipanas, Garut.  Kampung Naga ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya.
Letaknya yang berada di lembah dan di pinggir sungai CiWulan yang airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut membuat udara di kampung itu terasa sejuk.

Untuk menuju Kampung ini dari jalan raya, harus melewati ratusan anak tangga dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak sekitar 500 meter.


Menurut guide yang mendampingi kami hari itu, saat ini jumlah penduduk Kampung Naga adalah 314 jiwa.  Kampung ini mempunyai 113 bangunan di dalamnya sudah termasuk Mesjid, Balai Kampung dan lumbung padi umum.  Ada satu bangunan yang letaknya berada di atas, dinamakan Bumi Agung.  Bangunan tersebut biasanya digunakan untuk melakukan upacara adat pada saat-saat tertentu.


Bentuk Bangunan rumah-rumah yang ada disana terbuat dari kayu, anyaman bambu sebagai dindingnya dan beratapkan dari daun nipah atau ijuk sebagai bumbungan. Seluruh rumah disana harus menghadap ke utara atau selatan.

Diantara rumah-rumah penduduk, ada satu rumah yang ditempati oleh kuncen atau pemimpin tertinggi adat di Kampung Naga.  Masyarakat disini masih sangat kuat memegang teguh adat istiadat peninggalan leluhurnya.


Dengan luas wilayah sekitar satu setengah hektar dan dibatasi oleh pagar, masyarakat Kampung Naga melakukan kegiatan bertani dan memelihara ikan sebagai sumber kehidupan mereka.  Ada juga yang membuat beberapa jenis kerajinan tangan dari batok kelapa dan bambu untuk di jual kepada pengunjung yang datang.

Kampung yang asri ini tidak dialiri oleh listrik bukan karena belum adanya PLN, namun itu atas keinginan mereka sendiri.  Hingga kini untuk memasak mereka masih menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. 


Saat kami mengunjungi kampung yang rapih dan bersih ini, hanya terlihat beberapa penduduk, ibu-ibu dan anak kecil yang terlihat diluar rumah.  Pagi hari ini anak-anak sedang bersekolah, sedangkan para kaum dewasa sedang melakukan kegiatan pertanian mereka di akhir bulan Juni ini.

Cara hidup yang bersih penduduk kampung ini dapat dilihat dengan cara aturan mereka menempatkan kamar mandi/jamban (toilet) diluar area perumahan, sehingga jauh dari pencemaran.


Mengenai sejarah kampung ini, tak ada informasi yang jelas sudah berapa umur dari Kampung Naga ini, konon diperkirakan sudah sekitar ratusan tahun.  Tak ada pula catatan pasti yang tersisa tentang asal usul sejarah kampung ini.  Menurut cerita, akan sulit untuk mengkaji lebih dalam sejarahnya, karena peninggalan yang tersisa sudah ikut lenyap ketika kampung tersebut dihancurkan oleh pasukan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.  Sebelumnya ada buku tua yang berbahasa Sunda sekitar tahun 1927, namun itu pun dibawa oleh pemerintah Belanda sebelum banyak dipelajari banyak orang.


Pada saat sebelum memasuki Kampung Naga, tampak terlihat Tugu Kujang (Keris) yang terdapat di pintu masuk dan berukuran ‘raksasa’.  Menurut guide bahwa kujang tersebut di buat pada awal tahun 2009 lalu.

Ada keunikan pada Kujang tersebut, yaitu pembuatannya yang dikerjakan oleh 9 Mpu (pembuat keris) yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Kujang ‘raksasa’ itu merupakan hasil dari peleburan keris yang berjumlah sebanyak 900 keris.


Sampai di Gerbang keluar, kamipun meninggalkan kampung yang tenteram ini dengan segala sejarahnya yang mungkin terkubur. 



Selamat Datang


Alat penumbuk padi tradisional

Mesjid

Hasil kerajinan tangan

Rumah Sang Kuncen

Kamar mandi/jamban diluar area perumahan pagar)

Tangga akses menuju ke/dari kampung naga

Tugu Kujang Pusaka

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...