Tuesday, September 4, 2012

Kampung Naga dengan sejarahnya yang mungkin hilang



Kampung Naga

  

Lokasinya yang terletak di jalan raya yang menghubungkan antara Kota Garut dan Kota Tasikmalaya dapat ditempuh sekitar 1 jam jika berkendaraan dari Cipanas, Garut.  Kampung Naga ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya.
Letaknya yang berada di lembah dan di pinggir sungai CiWulan yang airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut membuat udara di kampung itu terasa sejuk.

Untuk menuju Kampung ini dari jalan raya, harus melewati ratusan anak tangga dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak sekitar 500 meter.


Menurut guide yang mendampingi kami hari itu, saat ini jumlah penduduk Kampung Naga adalah 314 jiwa.  Kampung ini mempunyai 113 bangunan di dalamnya sudah termasuk Mesjid, Balai Kampung dan lumbung padi umum.  Ada satu bangunan yang letaknya berada di atas, dinamakan Bumi Agung.  Bangunan tersebut biasanya digunakan untuk melakukan upacara adat pada saat-saat tertentu.


Bentuk Bangunan rumah-rumah yang ada disana terbuat dari kayu, anyaman bambu sebagai dindingnya dan beratapkan dari daun nipah atau ijuk sebagai bumbungan. Seluruh rumah disana harus menghadap ke utara atau selatan.

Diantara rumah-rumah penduduk, ada satu rumah yang ditempati oleh kuncen atau pemimpin tertinggi adat di Kampung Naga.  Masyarakat disini masih sangat kuat memegang teguh adat istiadat peninggalan leluhurnya.


Dengan luas wilayah sekitar satu setengah hektar dan dibatasi oleh pagar, masyarakat Kampung Naga melakukan kegiatan bertani dan memelihara ikan sebagai sumber kehidupan mereka.  Ada juga yang membuat beberapa jenis kerajinan tangan dari batok kelapa dan bambu untuk di jual kepada pengunjung yang datang.

Kampung yang asri ini tidak dialiri oleh listrik bukan karena belum adanya PLN, namun itu atas keinginan mereka sendiri.  Hingga kini untuk memasak mereka masih menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. 


Saat kami mengunjungi kampung yang rapih dan bersih ini, hanya terlihat beberapa penduduk, ibu-ibu dan anak kecil yang terlihat diluar rumah.  Pagi hari ini anak-anak sedang bersekolah, sedangkan para kaum dewasa sedang melakukan kegiatan pertanian mereka di akhir bulan Juni ini.

Cara hidup yang bersih penduduk kampung ini dapat dilihat dengan cara aturan mereka menempatkan kamar mandi/jamban (toilet) diluar area perumahan, sehingga jauh dari pencemaran.


Mengenai sejarah kampung ini, tak ada informasi yang jelas sudah berapa umur dari Kampung Naga ini, konon diperkirakan sudah sekitar ratusan tahun.  Tak ada pula catatan pasti yang tersisa tentang asal usul sejarah kampung ini.  Menurut cerita, akan sulit untuk mengkaji lebih dalam sejarahnya, karena peninggalan yang tersisa sudah ikut lenyap ketika kampung tersebut dihancurkan oleh pasukan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.  Sebelumnya ada buku tua yang berbahasa Sunda sekitar tahun 1927, namun itu pun dibawa oleh pemerintah Belanda sebelum banyak dipelajari banyak orang.


Pada saat sebelum memasuki Kampung Naga, tampak terlihat Tugu Kujang (Keris) yang terdapat di pintu masuk dan berukuran ‘raksasa’.  Menurut guide bahwa kujang tersebut di buat pada awal tahun 2009 lalu.

Ada keunikan pada Kujang tersebut, yaitu pembuatannya yang dikerjakan oleh 9 Mpu (pembuat keris) yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Kujang ‘raksasa’ itu merupakan hasil dari peleburan keris yang berjumlah sebanyak 900 keris.


Sampai di Gerbang keluar, kamipun meninggalkan kampung yang tenteram ini dengan segala sejarahnya yang mungkin terkubur. 



Selamat Datang


Alat penumbuk padi tradisional

Mesjid

Hasil kerajinan tangan

Rumah Sang Kuncen

Kamar mandi/jamban diluar area perumahan pagar)

Tangga akses menuju ke/dari kampung naga

Tugu Kujang Pusaka

1 comment:

  1. terima kasih kang Dedesukma artikelnya tentang kampung naga, memang saya belum pernah kesana, tetapi di televisi sudah beberapa kali saya nonton acara yang mengulas tentang kampung naga, selain cara hidupnya yang masih tradisional saya suka pemandangan alamnya yang eksotis di kampung naga tersebut

    ReplyDelete

Video - Exploring Sumba - Taman Nasional Matalawa #FamliyGoesToNationalPark Episode-5

Bulan Maret menjadi penjelajahan pertama #FamilyGoesToNationalPark kami di tahun 2017 sekaligus menjadi Episode yang ke 5. Pe...