Friday, November 8, 2013

Dari Cikole Turun Ke Pasar Apung, Lembang



Diantara Hutan Pinus



Dari Bandung Selatan ke Bandung Utara.
Setibanya di Terminal Leuwi Panjang dari Ranca Upas, perjalanan berlanjut ke Cikole, Lembang.  Dengan menumpang angkutan umum tujuan Subang, kami berhenti tepat di Grafika Cikole.

Berbeda dengan di Kampung Cai Ranca Upas yang tidak menyediakan penginapan permanen (hanya tenda), di Grafika Cikole pengunjung yang berniat menginap dapat memilih beberapa jenis penginapan. Selain hotel, di area outdoor mereka juga menawarkan pondokan, rumah panggung dan tentunya tenda untuk camping.
Berbagai kegiatan dapat dilakukan selama berada di Grafika Cikole, dari mulai memetik strawberry (tentunya ada musimnya), fasilitas outbound, juga ada penangkaran Rusa Timor/Rusa Jawa. 

Setelah berkeliling melihat-lihat kawasan sekitar Grafika Cikole yang merupakan hutan pinus, kami menuju ke tempat pengangkaran rusa.  Ditempat ini rusa nya hanya berjumlah 5 ekor, tidak sebanyak seperti di Kampung Cai Ranca Upas yang jumlahnya belasan.
Menurut sang petugas, induk rusa yang ada disana hanya 1 kali melahirkan anak dan setelah itu belum pernah lagi.  Sore itu kami pun ikut memberi makan rusa-rusa tersebut dengan izin dari petugas.
Hari menjelang malam dan udara pun semakin dingin.  Kami kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk makan malam.

Keesokan harinya, rencana untuk mengunjungi Gunung Tangkuban Perahu terpaksa kami urungkan, dikarenakan status nya dalam keadaan siaga yang berarti tidak memperbolehkan orang mendekat dalam radius tertentu.  Jarak dari tempat ini sendiri ke pintu masuk Gunung Tangkuban Perahu adalah sekitar 1,5 kilometer.


Angkutan yang mengantarkan dari Ciwidey ke Bandung

Ngasih Makan Rusa Timor

Rumah Panggung, Pondokan dan Tenda

Hutan Pinus


Dikarenakan kondisi tersebut, maka kami putuskan untuk mendatangi Lembang Floating Market yang letaknya tak jauh dari Pasar Lembang.  Dari Grafika ke tempat ini berjarak sekitar 20 menit berkendaraan. 

Lembang Floating Market

Di depan gerbang, dengan membayar Rp 10.000 per orang sebagai tiket masuk, sudah termasuk kupon yang dapat ditukarkan dengan minuman seharga Rp 10.000.
Begitu melewati pintu masuk, terpampang danau dan taman yang tertata rapi dengan latar belakang pegunungan.

Tempat ini memang belum pernah kami kunjungi sebelumnya, hanya pernah mendengar namanya saja.  Pertama-tama dari namanya, yang terbayang adalah pasar terapung seperti yang ada di Banjarmasin.  Namun yang ada disini sedikit berbeda konsepnya,  di taman rekreasi ini beberapa jajanan mulai dari yang tradisional hingga modern dijajakan diatas perahu yang mengapung, namun pembelinya tetap berada di pinggir danau.
Setelah memilih dan membeli jajanan, pengunjung dapat menikmatinya sambil bersantai di kursi & meja yang disediakan di sepanjang pinggir danau.

Selain pasar mengapung tadi, terdapat berbagai wahana permainan, beberapa toko souvenir dan juga restoran untuk pengunjung yang datang.
Semua transaksi pembelian, menggunakan koin khusus yang sebelumnya kita tukarkan dengan uang terlebih dahulu.  Koin yang tersisa tak dapat ditukarkan uang kembali, namun tak perlu khawatir, koin tersebut bisa dipakai kembali kapan saja (tidak ada masa berlakunya).

Di Taman rekreasi ini jalur dari wahana ke wahan, toko dan yang lainnya di tata secara teratur.  Sehingga, pengunjung yang datang akan melewati semuanya hingga tiba di pintu keluar (sama dengan pintu awal masuk).


Maen ATV
  
Pasar Mengapung 





Jajanan Khas Lembang
 
Menikmati Jajanan








Thursday, November 7, 2013

Camping di Sejuknya Udara Ranca Upas



Danau

Hari sudah menjelang sore ketika kami sampai di terminal Leuwi Panjang, Bandung dan untuk mengisi perut yang mulai ‘protes’ karena memang belum makan siang, kami langsung menuju RM Ampera yang berada di seberang terminal.
Tak lama setelah selesai makan, hujan pun turun dengan derasnya.  Setelah agak mereda, barulah kami pergi sebuah toko untuk membeli payung yang memang belum kami bawa dari Jakarta.
Setelah bertanya-tanya ke beberapa orang, dari terminal Leuwi Panjang, ada 2 pilihan angkutan yang menuju Ciwidey, yaitu menggunakan bis ¾ atau kendaraan umum jenis colt. Kami memilih untuk menggunakan bis ¾ dengan pertimbangang akan berangkat duluan (sudah hampir penuh).

Akhirnya bis yang kami tumpangi tiba di perhentian terkahir setelah sekitar 3 jam perjalanan, lalu berlanjut dengan angkot yang mengantarkan ke Kampung Cai Ranca Upas, tujuan akhir kami hari ini.
Hari sudah gelap ketika kami sampai di pintu gerbang Kampung Cai Ranca Upas.  Setelah membayar izin masuk, langkah selanjutnya adalah makan malam di warung-warung yang ada didalam kawasan. Ketika menuju warung kami bertemu dengan salah seorang petugas pengelola dari tempat tersebut, Diki.  Kami mengutarakan niat untuk camping disana, dan terjadilah kesepakatan penyewaan tenda beserta perlengkapannya.

Malam itu tak terlalu banyak orang yang camping disana, yang terlihat hanya ada sekitar 2 atau 3 rombongan saja. Ini juga mungkin terjadi karena kami datang bukan di hari libur atau weekend di minggu kedua bulan oktober ini.
Setelah santap malam, bertiga kami menyalakan api unggun didepan tenda yang cukup lumayan untuk menghangatkan ujung jari.

Pagi harinya sebelum matahari beranjak tinggi, kembali menyalakan sisa kayu bakar semalam hanya untuk sekedar menghangatkan tangan sambil memasak air untuk sarapan.
“Kalau seperti tadi malam, ya sekitar 10 derajat lah” ujar Diki menjawab pertanyaan saya akan suhu udara semalam. Memang, udara yang kami rasakan malam harinya lumayan dingin. Wajar saja, Kampung Cai Ranca Upas yang terletak di Bandung Selatan ini berada diketinggian 1700 mdpl dan masih memiliki ekosistem hutan yang dikelola oleh Perhutani.

Setelah sarapan dan Azzam sempat bersepeda di sekitar kawasan sambil menunggu dibuka nya tempat penangkaran rusa.  Ya,tujuan pertama kami hari itu adalah penangkaran rusa yang merupakan salah satu daya tarik dari kawasan ini.  Begitu menaiki panggung yang disediakan untuk pengunjung, tampak belasan ekor rusa di padang rumput yang hijau. Diatas panggung tersedia wortel yang dijual untuk para pengunjung yang ingin memberi makan rusa.
Azzam dan bundanya tampak sangat menikmati melihat dan memberi makan rusa-rusa tersebut hingga berbungkus-bungkus.  Saat wortel dijulurkan dari atas panggung, maka rusa-rusa tersebut akan segera menghampiri.

Setelah puas memberi makan rusa-rusa, kami beranjak ke kolam renang yang berada tak jauh dari penangkaran rusa.  Sejuknya udara dan semilir angin di Ranca Upas tak menjadi masalah untuk menikmati aktifitas berenang.  Air di dalam kolam merupakan air panas alami yang bersuhu 36 derajat. Suasana yang tadinya cukup sepi, tampal mulai ramai oleh pengunjung yang mulai berdatangan di hari libur nasional ini  (bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha).

Selesai berenang, kami lanjut ke tempat fasilitas outbound, namun  karena tinggi badan yang belum cukup (sesuai aturan), Azzam hanya dibolehkan melakukan 1 kegiatan, flying fox.  Tak berhenti, aktifitas pun berlanjut dengan bermain ATV (All Terrain Vehicle) di trek yang sudah disiapkan.

Semakin sore, pengunjung yang tadinya ramai telah meninggalkan Kampung Cai Ranca Upas.  Tampaknya mereka hanya menghabiskan waktu seharian untuk menikmati berbagai fasilitas atau wahana permainan yang ada, tanpa menginap disana. Azzam pun kembali bersepeda dengan riangnya, sebelum kami akhirnya menikmati senja hari itu dengan duduk-duduk di pinggir danau.

Menjelang malam kami pun menuju tenda. Tampak hanya ada 2 tenda yang berdiri, selain tenda kami masih ada 1 tenda lagi yang didirikan disana.  Di malam kedua ini kami memindahkan lokasi tenda kami untuk mendapatkan view berbeda.
Setelah menyantap makan malam, kami melewati malam dengan keheningan di Ranca Upas sambil menyalakan api unggun di depan tenda.  Malam semakin larut dan dingin, tak kuasa menahan kantuk, kamipun lalu masuk ke dalam tenda untuk beristirahat.

Keesokan pagi harinya, Azzam kembali bersepeda sebelum akhirnya kami berkemas untuk meninggalkan Kampung Cai Ranca Upas dan bersiap ke Bandung Utara.


Rusa di Penangkaran

Ngasih makan rusa

Selamat pagi !

Bersepeda
 
Rumah Pohon

Menyiapkan sarapan ;)

Bersiap-siap meninggalkan Ranca Upas

Selamat tinggal Ranca Upas :)

Tuesday, October 22, 2013

Kampung Adat Ciptagelar, Dari Wayang, Tungku Hingga Ikat Kepala




 
“Kapan kita nyampe di Desa nya ?” seakan sudah tak sabar Azzam melontarkan pertanyaan itu untuk kesekian kalinya setelah beberapa saat kami meninggalkan Pelabuhan Ratu.
Memang seperti biasanya, ketika akan mengunjungi suatu tempat, kami selalu memberi tahu Azzam akan kemana, tempat nya seperti apa, akan ada apa saja, dan hal-hal lainnya.  Seperti kali ini kita memberitahunya akan mengunjungi Kampung atau Desa Ciptagelar.

Setelah memakan waktu sekitar 3 jam, akhirnya kami ber-enam sampai juga di Kampung Ciptagelar.  Selain saya, Nouf (istri) dan Azzam ada Frino yang setia menemani saya selama menyetir kemarin malam, Atre sang penulis lepas serta Udin sang kameramen yang sebelum sampai di Kampung Ciptagelar, sempat singgah di salah satu rumah penduduk untuk menyampaikan hasrat sakit perutnya yang tak tertahankan.

Semakin sore beberapa tamu yang dari luar kota tampak mulai berdatangan.  Diantara pengunjung tersebut ternyata ada teman-teman kami yang juga datang dengan tujuan yang sama, yaitu menghadiri upacara ritual Seren Taun yang ke 645 di tahun ini.  Ritual adat ini merupakan ucapan terima kasih atas panen padi yang melimpah.

“Kita nginap 3 hari ya, disini” ujar Azzam setelah beberapa saat disana.  Rupanya dalam waktu singkat dia sudah dapat merasakan senang berada di Kampung ini.  Ini adalah live-in Azzam yang pertama kali, dan dia cukup merasa senang dan nyaman dengan suasananya.
Lalu matanya tertuju pada kumpulan boneka wayang yang ada di area panggung.  Sayapun mencoba menirukan beberapa macam suara, ketika Azzam menanyakan beberapa dari tokoh wayang tersebut.  Itu membuatnya tertawa senang dan tampak rasa kagum di matanya.

Tak lama kemudian, kami menuju rumah Kang Yoyo, tempat semula kami berencana untuk menginap.  Ternyata di rumah Kang Yoyo, sudah banyak tamu dari rombongan lain yang akan menginap, kamipun disarankan menginap di rumah Aki Dai, salah satu warga di Kampung Ciptagelar yang juga kebetulan sebagai pemimpin rombongan pemain angklung. Kang Yoyo sendiri, saat ini bisa disebut sebagai Humas dari Kasepuhan Ciptagelar.

Dengan diantar oleh Kang Yoyo, kamipun berkenalan dengan keluarga Aki Dai sekaligus mengutarakan niat untuk menumpang menginap di rumahnya selama beberapa malam.  Sambutan hangat dan ramah kami dapatkan dari Aki Dai dan keluarga.
Setelah ngobrol beberapa saat, kamipun menuju kediaman Abah Ugi (pempimpin Kasepuhan Ciptagear) untuk memohon ijin datang dan mengikuti acara ritual Seren Taun ini. Ada juga beberapa orang lainnya yang sudah ada disana dengan tujuan yang sama dengan kami.

Dari rumah Abah Ugi, kamipun kembali ke rumah Aki Dai. Obrolan yang terjadi dari mulai yang serius hingga bercanda membuat suasana terasa semakin akrab, tak terasa, waktupun bergulir dengan cepat. Nini (istri dari Aki Dai) mengeluarkan beberapa kasur beserta selimut dan bantal untuk alas kami tidur.  “Wah, maaf nih, Ni sudah merepotkan” ujar Frino.  “Ah, gak apa-apa, kita juga minta maaf cuma adanya begini”, balas Nini.

Sabtu paginya, kami semua kembali ngobrol di dapur rumah Aki Dai, didepan tungku masak sembari menikmati teh, kopi dan panganan kecil khas buatan lokal.
Tak lama kemudian Azzam pergi ke rumah Kang Yoyo.  Sepertinya dia sudah “jatuh cinta” pada tungku masak di rumah Kang Yoyo.  Benda bernama tungku yang pertama dilihatnya memang di rumah Kang Yoyo, ia betah berlama-lama didepan tungku sambil ikut membakar leunca atau ikut menambah kayu bakarnya, sambil sesekali bertanya dan ditanya oleh orang yang ada didekatnya.  Dalam waktu singkat dia pun berteman akrab dengan Benhur, anjing kepunyaan Kang Yoyo.

Selama disana, pun Azzam pun tak lepas dengan ikat kepalanya, yang diketahuinya sebagai salah satu adat kebiasaan yang ada di Kampung itu, setelah ia bertanya.
Kunjungan kali ini, merupakan tambahan pengalaman dan pengetahuan baru bagi Azzam.  Selain belajar budaya yang dilihat dan dipertanyakan olehnya, dia juga belajar bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, orang baru sekaligus menginap di rumah orang, kebiasaaan makan yang piring nya harus selalu diletakkan di lantai (tidak diangkat).  Disini dia juga belajar bagaimana mempelajari dan menghargai budaya setempat.

Malam harinya, beberapa pertunjukan yang ditampilkan di panggung yang berbeda. Pertunjukan wayang, pementasan semacam drama dari penduduk dan anak-anak, tarian ditampijlan di panggung yang menghadap Imah Gede.  Sementara dipanggung lainnya ada pertunjukan dog-dog lojor dan jipeng. 

Hingga pada akhirnya tibalah pada acara puncak upacara ritual Seren Taun yang ke 645 yang jatuh bertepatan pada hari Minggu tersebut.  Ribuan pengunjung tumpah riuh di hari itu.
Hari berangsur siang, dan upacara ritual yang dipimpin Abah Ugi pun usai sudah. 

Sekitar pukul 2 siang, diiringi cuaca yang agak mendung kamipun meninggalkan Kampung Ciptagelar untuk kembali ke Jakarta.  Ingin rasanya suatu waktu nanti kembali kesini dengan waktu yang lebih lama.


Memainkan Wayang

 
Mencoba Gendang


Egrang

Bersama Aki Dai

Mendengarkan cerita dari sesepuh (Aki Dai)

Maen Bareng Benhur

Padi untuk acara ritual

Bersama Sang Pemimpin: Abah Ugi

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...