Thursday, January 24, 2013

Menjaga sejarah dan karya seni para leluhur Asei



Melukis Diatas Kulit Kayu



Jika Danau Toba punya Pulau Samosir, Danau Sentani punya Pulau Asei.  Danau terbesar di Papua ini terletak tak jauh dari Bandara Sentani, Jayapura dengan jarak tempuh sekitar 20 menit berkendaraan motor.

Siang itu, saat kami tiba di dermaga kecil di Danau Sentani, tampak serorang wanita paruh baya yang duduk di atas perahu motor nya dan menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke Pulau Asei.  Setelah menyepakati harga kami pun menaiki perahu tersebut dan dalam waktu sekitar 15 menit sampailah kami di Pulau Asei.

Begitu masuk ke pulau ini, tampak sebuah Tugu berbentuk salib yang menandai masuknya Injil di Kampung Asei pada tahun 1928 yang juga menandakan masuknya misionaris dalam menyebarkan ajaran Kristen. Terdapat sebuah gereja yang dibangun pada saat penyebaran agama disana dan masih digunakan masyarakat hingga kini.
Tak jauh dari Tugu tersebut juga terdapat kuburan tua yang diatasnya terdapat guci cina yang menandakan orang tersebut dahulunya berasal dari keluarga yang cukup berada.

Saat itu suasana kampung cuku sepi, karena memang kami berkunjung bukan di hari libur.  Sebagian masyarakat pulau ini mencari nafkah di luar pulau dan sebagian lainnya meneruskan tradisi turun-temurun dari sejak dahulu, yaitu membuat lukisan diatas kulit kayu disamping juga mencari ikan di danau. 
Mengelilingi sebagian pulau asei, kami bertemu dan juga bercakap-cakap dengan beberapa penduduk yang sedang melukis maupun yang menawarkan hasil lukisan yang di pamerkan di teras depan rumah mereka.

Ray, salah seorang pemuda yang kami temui sedang melakukan keahliannya menyapu kuas diatas lembaran kulit kayu yang sudah dikeringkan dan sebelumnya sudah di sketsa dengan pensil. Keahlian Ray dalam melukis diajarkan  oleh dari ayahnya, yang mendapatkan keahlian itu dari kakeknya.  Begitulah keahlian itu secara turun-temurun diteruskan hingga seperti menjadi warisan.
“Dulu, kulit kayu Khombouw ini dipakai sebagai penutup tubuh atau pakaian oleh masyarakat pulau asei”, kata Ray menambahkan.

Proses lukisan kulit kayu itu sendiri dimulai dari mengambil batang pohon, mengelupas kulitnya lalu ut direndam/dilunakkan, dipukul-pukul dengan besi diatas batu hingga menjadi seperti lembaran kanvas, dikeringkan/dijemur, dan kulit kayu pun siap untuk dilukis.
Untuk bahan kulit kayu nya, masyarakat Pulau Asei hanya mengambil nya dari jenis pohon khusus yang disebut  Pohon Khombouw.

Setelah men-sketsa dengan pensil, untuk menjaga keaslian dari lukisan kulit tersebut, masyarakat Pulau Asei tidak menggunakan pewarna dari bahan kimia, melainkan dengan pewarnaan alami.  Kapur sirih digunakan untuk warna putihnya, arang untuk warna hitamnya, dan tanah merah untuk warna merahnya. Namun ada juga beberapa pengrajin yang sudah menggunakan cat sebagai bahan pewarnanya.

Motif lukisan Pulau Asei sangat khas dan menggambarkan keseharian hidup penduduk maupun budaya yang tinggal di sekitar Danau Sentani.  Seperti Ikan, buaya, alam, filosofi hidup hingga mitos yang pernah hidup disana. 

Satu lukisan yang telah jadi, dihargai mulai dari Rp 20,000 hingga ratusan ribu rupaih.  Kini, lukisan kulit kayu pulau asei ini dapat dengan mudah kita jumpai disetiap hotel yang ada di Jayapura sebagai bagian dari dekorasi hotel.  Hasil karya seni ini juga menjadi cinderamata yang dibeli bagi para pengunjung yang datang ke Jayapura.


Tugu Salib

Kulit Kayu Yang Dipukul besi

Menjemur Kulit Kayu Yang Sudah Di Lukis

Menjajakan Lukisan

Penombak Ikan Di Danau Sentani

1 comment:

Video - Exploring Sumba - Taman Nasional Matalawa #FamliyGoesToNationalPark Episode-5

Bulan Maret menjadi penjelajahan pertama #FamilyGoesToNationalPark kami di tahun 2017 sekaligus menjadi Episode yang ke 5. Pe...