Tuesday, April 16, 2013

Jogjakarta, Give Us Five !



Welcome To Jogyakarta


Hujan gerimis di awal tahun ini, menyambut kami setibanya di kota yang biasa disebut kota budaya atau kota pelajar, Jogjakarta. Hari ke 3 di tahun baru, ternyata banyak pelancong yang masih betah disana.  Ini ditandai dengan kesulitan yang kami dapatkan ketika mencari penginapan. Satu persatu penginapan di Jl. Dagen kami datangi, penuh.  Akhirnya kami berjodoh di salah satu hotel di Gg. Sosrokusuman, yaitu Hotel Puri.
Hotel yang letaknya cukup strategis ini (di belakang Malioboro Mall) terlihat nyaman dan bersih dengan harga kamar yang lumayan murah. Menurut cerita si pemilik hotel ini adalah salah satu dari 2 hotel tertua di kawasan Malioboro yang masih berdiri dengan bangunan asli.
Malam harinya kami habiskan berjalan-jalan dan makan di lesehan di sekitar Malioboro.  Suasana jalanan Malioboro malam itu sangat ramai sekali dan kemacetan pun tak terhindarkan.

Hari-hari berikutnya kami habiskan untuk mengunjungi beberapa spot wisata di Jogjakarta dan sekitarnya. Hujan yang turun setiap hari di Yogya saat itu tak menghalangi niat kami untuk mengeksplor kota Gudeg ini selama 5 hari.
Gunung Api Purba, Candi Prambanan, Candi Boko, Alun-alun Timur, Keraton, Air Terjun Sri Gethuk, Pantai Parangtritis dan Pantai Indrayanti hingga bertubing di Gua Pindul kami datangi.

Gunung Nglanggeran atau biasa disebut Gunung Api Purba merupakan salah satu kawasan alam yang litologinya disusun materi vulkanik tua tinggi. Berdasarkan penelitian, gunung api ini merupakan gunung berapi aktif  sekitar 60 juta tahun lalu. Banyak batu berukuran raksasa yang membuat takjub disana yang menurut cerita warga sekitar, tak jarang tempat ini dijadikan sebagai tempat pertapaan.  Perjalanan yang sedikit menguras tenaga akan terbayarkan ketika kita sampai di bagian atas dan melihat pemandangan sekeliling.


Di celah batu menuju puncak


Memanjat Batu

Selain melihat langsung kemegahan kompleks candi hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi, yaitu Candi Prambanan. Candi yang diperkirakan tempat persemayaman raja-raja ini dikenal sebagai salah satu ikon kebudayaan Indonesia. Walaupun hingga saat ini belum dapat dipastikan siapa yang memerintahkan untuk membangunnya. Perjalananan berlanjut ke Candi Boko yang berjarak sekitar 2 km dari Prambanan.  Candi dengan luas sekitar 250.000 meter persegi ini, menurut para ahli bangunannya berbentuk perpaduan antara unsur-unsur Hindu dan Budha.
Jika berdiri di area Plaza Andrawina, salah satu bagian dari candi ini pengunjung akan dapat melihat pemandangan Kota Jogyakarta dan Candi Prambanan dengan Gunung Merapi sebagai latar belakangnya.

Kompleks Candi Prambanan

 
Paseban di Candi Boko

Agak kurang sah sepertinya, jika ke Yogyakarta tidak sowan ke Keraton Kesultanan Jogjakarta.  Selesai menyisir pasar tradisional di Malioboro, Beringharjo maka kami langkahkan kaki menuju Keraton dengan menumpang becak. Setelah selesai mengagumi keindahan keratin dengan segala budayanya, kami menikmati waktu malam di Alun-alun utara dan merasakan beberapa permainan klasik yang memang sudah lama tidakdilakoni bahkan dilihat.  Seperti Kincir Angin atau ‘Tong Stand’, entah kapan terkahir kalinya saya menonton pertunjukan ini. Entah !

1928

 
Didepan Alun-alun Utara

Pertunjukan Tong Stand

Kincir Angin

Gua pindul, gua dengan aliran sungai bawah tanah kami telusuri selama sekitar 45 menit.  Dengan menggunakan ban dalam yang dipompa, menyusuri gua sepanjang sekitar 300 meter itu merupakan pengalaman yang berbeda.  Susunan skalaktit dan stalakmit yang tak beraturan, sampai dengan sarang burung walet.
Di ujung gua tempat keluar, ada bagian atas yang terbuka membuat matahari bebas menerjang dengan sinarnya.

Stalaktit di Gua Pindul

Siapa yang tak kenal Pantai Parangtritis ? kesana pula kami berkunjung.  Suasana sangat ramai dengan pengunjung yang berenang dibagian pinggir, bermain-dengan ombak yang menyapu kepinggir pantai atau sebagian lagi duduk bersantai menikmati pemandangan laut dengan jagung bakar ditangan.  Beberapa fasilitas yang tak kami lewatkan disana adalah ATV, berkuda dan naik delman.  Suasana yang beda saat tiba dikawasanpantai-pantai Gunung Kidul, hujan deras turun tak henti-hentinya.  Dikarenakan ombak yang masih tinggi di bulan Januari, maka para pengunjung tidak diperbolehkan mendekat kearah laut, dengan alasan keselamatan. 

Delman di Parangtritis

 
Paralayang di Parangtritis

Salah satu kendala yang mungkin masih terasa dalam urusan transportasi adalah, masih kurangnya angkutan umum yang dapat mengantarkan pengunjung untuk mendatangi ke tempat-tempat wisata yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota Jojya.
Tak ingin kehabisan waktu dan demi efisiensi, kamipun menyewa sepeda motor selama berkeliling disana.
Jogjakarta, masih menjadi salah satu primadona bagi wisatawan khususnya domestik dengan segala keramahan dan keunikannya. 

Sunday, April 14, 2013

Papandayan, Disaat Tuhan Tersenyum



Tegal Alun dengan kebun Edelweiss nya


Antrian panjang kendaraan yang memenuhi jalan tol cipularang dinihari itu akhirnya membawa kami sampai ke Kota Garut dalam waktu sekitar sembilan jam saja.  Memang, hal tersebut lumrah terjadi disaat lburan panjang (3 hari) diujung weekend Maret ini.
Setelah sarapan yang agak kesiangan sekitar jam 9 pagi, perjalanan berlanjut menuju Kecamatan Cisurupan sebagai pintu masuk untuk mencapai tujuan kami, Gn. Papandayan.  Setelah mengurus segala keperluan termasuk izin masuk dan menginap dikawasan, hujan rintik-rintik mengiringi keberangktan rombongan kami yang terdiri dari 5 orang dewasa dan 6 orang anak dengan ditemani oleh 3 orang porter.  Namun tak berapa lama hujanpun berhenti.

Sekitar 15 menit berjalan, aroma belerangpun mulai tercium.  Luar biasa ! Gn. Papandayan memiliki kawah yang jumlahnya belasan.  Tampak disana-sini kepulan asap yang keluar dari mulut kawah, baik yang berukuran besar maupun yang kecil.  Aroma belerang yang keluar tak begitu menyengat, karena terbawa hembusan angin yang lumayan kencang.

Setelah kurang lebih 1 jam setengah trekking, sampailah kami di ‘Hutan Mati’. Lagi-lagi, suguhan pemandangan eksotis di depan mata.  Pohon-pohon yang masih berdiri, namun sudah tak ditumbuhi daun lagi tampak bak lukisan maestro.  Sebenarnya Hutan Mati ini terjadi akibat terjadinya kejasian alam, yaitu erupsi pada tahun 2002.  Ini juga menjadi saksi betapa dahsyatnya letusan yang terjadi pada saat itu.  Tampak dari kejauhan, bukit laksana bersalju karena putihnya tanah disana.
Perjalanan ini tak terasa melelahkan bagi anak-anak.  Disepanjang jalan, mereka kerap bertanya tentang kawah, hutan mati dan hal-hal lainnya.

Waktupun berjalan, dan akhirnya dalam waktu kurang lebih 2 jam sampailah kami di tempat camping, Pondok Saladah di ketinggian 2288 mdpl.  Ketika kami memasuki area Pondok Saladah, keadaan disana cukup ramai dengan puluhan tenda yang sudah berdiri. Berpasang-pasang mata tertuju pada rombongan kami, mungkin karena adanya 6 krucil yang datang.
Setelah menditrikan tenda, para orang tua lanjut menyiapkan makanan sementara itu anak-anak asik bermain sebelum santap malam dan beristirahat.

Keesokan paginya, setelah sarapan kami bersiap-siap trekking menuju Tegal Alun.  Anak-anak begitu bersemangatnya. Kami kembali melewati hutan mati untuk menuju Tegal Alun. Ada persimpangan dimana pemisah antara kembali ke arah pulang dan yang menuju ke Tegal Alun.  Trek nya relatif sedang, namun ada sedikit jalur yang tanjakannya lumayan curam, disebut tanjakan mamang.  Sekitar satu setengah jam akhirnya sampailah kami di Tegal Alun.  Dengan luas sekitar 32 Ha, terpampang pemandangan luas taman edelweiss yang di bulan Maret ini belum saatnya mekar. 
Tempat ini menjadi salah satu tempat favorit orang untuk berfoto-foto dengan pemandangannya yang memang menakjubkan.  Setelah beberapa lama duduk, bermain-main dan mengambil foto kamipun turun kembali ke Pondok Saladah untuk bersiap pulang dan kembali ke Jakarta.

Dari yang telah kami lewati dalam 2 hari ini, secara trek dan jarak tempuh, Gunung Papandayan ini memang cukup ‘bersahabat’ untuk anak-anak selain pengetahuan tambahan yang bisa mereka dapatkan.  Tersembul niat untuk kembali lagi mengunjungi Gn. Papandayan yang menakjubkan ini, seperti kami mengunjungi Gn. Gede berkali-kali.

“Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan Garut”, kata seorang teman kepada saya suatu kali.  Ternyata itu suatu peng-analogian yang bukan sekedar omong kosong. Terbukti di dalam perjalanan dari Kota Garut hingga perjalanan mendaki Gn. Papandayan kita akan disuguhkan beraneka ragam pemadangan yang memang terbukti indah.


Kepulan asap dari kawah

 
Bersiap trekking ke Tegal Alun :)

 
Semangat Pagi ! :))

 
Di Hutan Mati
 
 
Yeeaayyy....We did it ! (di kawah. perjalanan kembali turun)


High Jump !



"Children are great imitators. So give them something great to imitate"

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...