Sunday, April 14, 2013

Papandayan, Disaat Tuhan Tersenyum



Tegal Alun dengan kebun Edelweiss nya


Antrian panjang kendaraan yang memenuhi jalan tol cipularang dinihari itu akhirnya membawa kami sampai ke Kota Garut dalam waktu sekitar sembilan jam saja.  Memang, hal tersebut lumrah terjadi disaat lburan panjang (3 hari) diujung weekend Maret ini.
Setelah sarapan yang agak kesiangan sekitar jam 9 pagi, perjalanan berlanjut menuju Kecamatan Cisurupan sebagai pintu masuk untuk mencapai tujuan kami, Gn. Papandayan.  Setelah mengurus segala keperluan termasuk izin masuk dan menginap dikawasan, hujan rintik-rintik mengiringi keberangktan rombongan kami yang terdiri dari 5 orang dewasa dan 6 orang anak dengan ditemani oleh 3 orang porter.  Namun tak berapa lama hujanpun berhenti.

Sekitar 15 menit berjalan, aroma belerangpun mulai tercium.  Luar biasa ! Gn. Papandayan memiliki kawah yang jumlahnya belasan.  Tampak disana-sini kepulan asap yang keluar dari mulut kawah, baik yang berukuran besar maupun yang kecil.  Aroma belerang yang keluar tak begitu menyengat, karena terbawa hembusan angin yang lumayan kencang.

Setelah kurang lebih 1 jam setengah trekking, sampailah kami di ‘Hutan Mati’. Lagi-lagi, suguhan pemandangan eksotis di depan mata.  Pohon-pohon yang masih berdiri, namun sudah tak ditumbuhi daun lagi tampak bak lukisan maestro.  Sebenarnya Hutan Mati ini terjadi akibat terjadinya kejasian alam, yaitu erupsi pada tahun 2002.  Ini juga menjadi saksi betapa dahsyatnya letusan yang terjadi pada saat itu.  Tampak dari kejauhan, bukit laksana bersalju karena putihnya tanah disana.
Perjalanan ini tak terasa melelahkan bagi anak-anak.  Disepanjang jalan, mereka kerap bertanya tentang kawah, hutan mati dan hal-hal lainnya.

Waktupun berjalan, dan akhirnya dalam waktu kurang lebih 2 jam sampailah kami di tempat camping, Pondok Saladah di ketinggian 2288 mdpl.  Ketika kami memasuki area Pondok Saladah, keadaan disana cukup ramai dengan puluhan tenda yang sudah berdiri. Berpasang-pasang mata tertuju pada rombongan kami, mungkin karena adanya 6 krucil yang datang.
Setelah menditrikan tenda, para orang tua lanjut menyiapkan makanan sementara itu anak-anak asik bermain sebelum santap malam dan beristirahat.

Keesokan paginya, setelah sarapan kami bersiap-siap trekking menuju Tegal Alun.  Anak-anak begitu bersemangatnya. Kami kembali melewati hutan mati untuk menuju Tegal Alun. Ada persimpangan dimana pemisah antara kembali ke arah pulang dan yang menuju ke Tegal Alun.  Trek nya relatif sedang, namun ada sedikit jalur yang tanjakannya lumayan curam, disebut tanjakan mamang.  Sekitar satu setengah jam akhirnya sampailah kami di Tegal Alun.  Dengan luas sekitar 32 Ha, terpampang pemandangan luas taman edelweiss yang di bulan Maret ini belum saatnya mekar. 
Tempat ini menjadi salah satu tempat favorit orang untuk berfoto-foto dengan pemandangannya yang memang menakjubkan.  Setelah beberapa lama duduk, bermain-main dan mengambil foto kamipun turun kembali ke Pondok Saladah untuk bersiap pulang dan kembali ke Jakarta.

Dari yang telah kami lewati dalam 2 hari ini, secara trek dan jarak tempuh, Gunung Papandayan ini memang cukup ‘bersahabat’ untuk anak-anak selain pengetahuan tambahan yang bisa mereka dapatkan.  Tersembul niat untuk kembali lagi mengunjungi Gn. Papandayan yang menakjubkan ini, seperti kami mengunjungi Gn. Gede berkali-kali.

“Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan Garut”, kata seorang teman kepada saya suatu kali.  Ternyata itu suatu peng-analogian yang bukan sekedar omong kosong. Terbukti di dalam perjalanan dari Kota Garut hingga perjalanan mendaki Gn. Papandayan kita akan disuguhkan beraneka ragam pemadangan yang memang terbukti indah.


Kepulan asap dari kawah

 
Bersiap trekking ke Tegal Alun :)

 
Semangat Pagi ! :))

 
Di Hutan Mati
 
 
Yeeaayyy....We did it ! (di kawah. perjalanan kembali turun)


High Jump !



"Children are great imitators. So give them something great to imitate"

14 comments:

  1. Ngajakin anak ke gunung menjadi salah satu keinginanku juga. Gak harus yang hiking beneran sih. Ke Bromo pun jadi, hehe. Mudah2an ntar pas sekalian mudik lebaran sempet ke Bromo :)

    Nice post. Makasih udah share cerita menyenangkan :D

    ReplyDelete
  2. Iya, Mbok. Semoga suatu saat bisa terlaksana. Semoga lancar mudik dan mampir ke Bromo nya nanti. Eh, mbok semoga dilancarkan juga ya umroh nya Mei nanti :) semoga juga aku cepat nyusul. Aamiin.
    Makasih atas comment nya

    ReplyDelete
  3. Terima kasih sharingnya mas. Semoga beberapa tahun lagi bisa ajak anak2 ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mas, Iman. Makasih sdh mampir. Kita tunggu kok :))

      Delete
  4. Mantapppp!!!! Garut Pangirutan #GarutEndah #ILoveGRT

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Riparhand: Memang mantap, mas :). Makasih udah mampir

      Delete
  5. kayaknya pernah ketemu deh di gede sama om ini ...

    ReplyDelete
  6. @#gembelpacker: Hehehehe... Iya mungkin aja. Kalo ke gede kita lumayan rutin. Anak saya aja udah 4 kali kesana :D
    Salam Kenal, ketemu di twitter juga boleh di @sukmadede

    ReplyDelete
  7. Seruuu! Libur lebaran kemarin batal ke Papandayan -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. @rumahhijaubelokiri: Ayo... direncanain lagi :)

      Delete
  8. duh mau kesini gak jadi-jadi terus gue om :))

    ReplyDelete

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...