Tuesday, September 24, 2013

Seren Taun, Tradisi Luhur di Kasepuhan Ciptagelar



Leuit



Ritual Seren Taun di Kasepuhan Ciptagelar merupakan tradisi penting dan masih dilakukan hingga kini demi meneruskan apa yang telah dilakukan para leluhur. Upacara yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen padi ini hanya dilakukan sekali dalam setahun, yaitu antara bulan Agustus ataupun September. Konon, ritual ini telah digelar sejak tahun 1368.

Bagi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar padi bukan hanya sekedar komoditas belaka, tetapi merupakan simbol dari kehidupan. Salah satu yang ditunjukkan adalah dengan adanya tradisi yang tidak membolehkan untuk memperjual-belikan padi.
Rata-rata setiap keluarga di Kampung Ciptagelar memiliki lumbung padi yang berjumlah 3 sampai 4. Dikarenakan padi yang tidak diperjual-belikan maka tak heran, “Disini bahkan ada padi yang berumur 100 tahun masih tersimpan di leuit (lumbung)” Ujar Aki Dai, salah seorang tetua disana.

Ayunan alu yang dipukulkan berulang-ulang kedalam lesung oleh beberapa perempuan di alun-alun pagi hari itu, pertanda dimulainya acara prosesi Seren Taun di Kampung Ciptagelar yang ke 645 ini, bertepatan jatuh pada bulan September tahun 2013.
Iring-iringan yang terdiri mulai dari baris kolot, dayang-dayang, rengkong, angklung hingga debus serta rombongan yang membawa padi dan hasil pertanian lainnya mulai memasuki alun-alun. Tampak sang Pemimpin Kasepuhan Abah Ugi dan sang istri duduk di bagian depan teras Imah Gede didampingi oleh beberapa pejabat kampung.
Sementara itu masyarakat setempat telah berbaur semenjak pagi dengan para tamu yang berasal dari luar kampung hingga dari berbagai kota yang ingin turut menyaksikan ritual tersebut.

Setelah beberapa acara pertunjukan untuk menghibur para pengunjung ditampilkan, maka tibalah saatnya memasuki puncak acara. Padi yang dibawa tadi disiapkan untuk prosesi Ngadiukeun Pare di Leuit Si Jimat sebagai puncak dari ritual Seren Taun. Leuit berarti lumbung dalam bahasa Sunda.

Dari Imah Gede dengan di bentengi oleh barisan sepuh, Pemimpin Kasepuhan Ciptagelar yaitu Abah Ugi Sugriana Rakasiwi didampingi istrinya Emak Alit Destri Dwi Delianti menuju Leuit Si Jimat. Setelah do’a-do’a dipanjatkan yang intinya restu dari alam semesta dan dan juga pada leluhur yang telah menjaga Ciptagelar, satu persatu Sang Pemimpin dan Istrinya masuk ke dalam leuit untuk secara simbolis menyimpan padi di Leuit Si Jimat tadi. Suasana pun tampak khidmat selama prosesi berlangsung.
Setelah keluar dari Leuit Si Jimat, Abah Ugi dan istri pun kembali duduk di teras Imah Gede.

Dalam acara Seren Taun, para tamu yang datang di jamu bak tamu istimewa. Tak ada habis-habisnya, berbagai makanan dihidangkan dari yang utama, panganan aneka kue buatan setempat hingga minuman disajikan. Terbayang betapa sibuknya para ibu yang bertugas di belakang dapur sana dan juga petugas yang melayani tamu.
Untuk menghibur masyarakat dan tamu yang hadir sepanjang rangkaian acara Seren Taun, setiap malamnya dihadirkan acara hiburan di beberapa panggung berbeda. Acara hiburan tersebut mencakup pementasan kesenian tradisional seperti golek, angklung, jipeng, topeng, dan juga tari-tarian. 
Turut meramaikan para pedagang yang menjajakan dagangan dari mulai makanan hingga pakaian untuk pengunjung yang datang.

Kampung Ciptagelar yang berada dilembah pegunungan Halimun ini secara administratif termasuk di wilayah Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sebagai pemimpin adat, Abah Ugi menjadi pimpinan dari sekitar 568 kampung disekitar Pegunungan Halimun yang disebut masyarakat adat Banten Kidul dan secara turun-temurun tergabung dalam kekerabatan kesatuan adat Kasepuhan Ciptagelar.

Satu hal yang tampak jelas bahwa para leluhur Kampung yang berada di ketinggian sekitar 1200 meter diatas permukaan laut ini selain kearifan lokal pun telah meninggalkan ilmu tentang kemandirian ketahanan pangan pada para keturunannya.




Kampung Ciptagelar dari atas

Memukul Lesung
 
Pikulan Yang Berirama
 
Memikul Padi
 
Beberapa hasil pertanian lainnya
 
Do'a-do'a dipanjatkan sebelum memasukkan padi


Memasukkan Padi Ke Dalam Leuit

Leuit Si Jimat

13 comments:

  1. Whoaaaa asik banget bisa ngerasain tradisi Seren Taun. Ajak kami ke sana dong pas mudik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayuk! nanti kita kesana bareng. Soal cerita kunjungan kesana, ntar akan ditulis terpisah :)

      Delete
  2. cerita dan foto2nya sama2 menarik. suka :)

    ReplyDelete
  3. Baca ini kok ya jadi iri :D
    Mupeng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Kak :)
      Yang ini khusus ritual nya. nanti kunjungan keluarganya, ditulis terpisah :)

      Delete
  4. Liputan nya keren, tau gitu kmrn mau bareng ihik ihik. Mau kesini tapi temen2 gw pada kagak bisa, akhir nya gw males juga.

    tahun depan harus datang nich, acara nya seru :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah... situ sih :)) Iya masih ada tahun depan!

      Delete
  5. Untuk event tahun 2014 ini, kira2 kapan ya tanggal persisnya, ada infokah Pak Dede?
    Tertarik juga saya mau lihat langsung...
    Trims & Salam
    Amdani

    ReplyDelete
  6. @Amdani: coba ceek di situs www.ciptagelar.org

    ReplyDelete
  7. kang buat upacara seren taun di tahun 2015 sekrang, tanggal sama bulan berapa ya dilaksanakannya. hatur nuhun kang.

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. Makasih mas udah mampir di blog saya :)

      Delete

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...