Wednesday, February 26, 2014

Saat Imlek di Gn. Papandayan , ada Hujan, Ultah dan Kecombrang



 
Hutan Mati

“Ngapain sih musim hujan naek gunung?, emang gak ribet apa?” begitulah pertanyaan yang muncul dari beberapa teman ketika tahu bahwa kami berencana untuk hiking ke Gn. Papandayan.
Sebenarnya pertanyaan ini sama saja jika ditanyakan kepada para penggiat hobi apapun yang lain, tentunya dan sudah semestinya mempersiapkan segala sesuatunya sebagai langkah antisipasi. Seperti rombongan touring sepeda motor dari kota lain yang kebetulan berpapasan dengan kami diperjalanan. Bagi orang lain, mungkin akan timbul pertanyaan: “ngapain sih jauh-jauh naik motor, hujan-hujan lagi”.

Yang terpenting adalah, setiap yang melakukan perjalanan sudah memikirkan  segala sesuatunya.  Gak ada juga orang yang niatnya menikmati perjalanan, nyari-nyari susahnya kan? Hehehe.

Rencana kami hiking ke Gn. Papandayan kali ini memang bertepatan dengan Imlek yang jatuh pada tanggal 31 Januari tahun 2014 ini.  Imlek sendiri merupakan Tahun Baru bagi orang Tionghoa dan seperti yang sudah-sudah, biasanya beberapa hari sebelum dan juga pada saat Imlek hujan akan turun. Konon, masyarakat Tionghoa percaya bahwa hujan pada saat Imlek akan membawa berkah.

Hari Jum’at sekitar jam 6 pagi, kami ber 6 (2 keluarga) meninggalkan Jakarta, sedangkan Budi bersama rombongan keluarganya sudah lebih dulu berangkat kemarin malam menuju Garut.
Sesampainya di Cisurupan, saya dan John langsung mengambil barisan di dalam mesjid untuk menunaikan Sholat Jum’at. Sementara para istri dan anak-anak menunggu di parkiran mobil.

Selesai sholat jum’at, Mang Cecep yang memang sudah saya hubungi sebelumnya menemui kami di mesjid dan kamipun bergegas menuju rumahnya.  Setelah santap siang dan membereskan beberapa bawaan, perjalanan  berlanjut ke parkiran bawah pintu masuk Gn. Papandayan dengan menggunakan mobil pick-up (bak terbuka).  Di rumah Mang Cecep lah mobil kami titipkan.  Jalanan menuju parkiran pintu masuk Gn. Papandayan yang lumayan rusak, memang membuat kami berfikir untuk tidak membawa mobil sampai kesana.

Sampai di parkiran dengan ditemani hujan rintik-rintik, pendakian pun dimulai.  Mang Cecep sekalian mejadi porter bagi keluarga John, sedangkan keluarga saya memutuskan kali ini tidak menggunakan bantuan porter.
Sekitar satu jam perjalanan hujan turun semakin deras.  Namun dengan jas hujan yang sudah disiapkan Azzam dan Hanif tampak  tetap ceria dan menikmati sambil sesekali bermain air yang menggenang di tanah.
Ini merupakan hiking yang pertama bagi Hanif.  Sedangkan Azzam ini kali kedua dia ke Gn. Papandayan setelah pendakian pertamanya pada  bulan Maret tahun lalu.

Selain Hanif, sebenarnya masih ada satu anak lagi yang juga merupakan pendakian pertamanya, Amel. Namun Amel sudah lebih dulu berangkat dengan rombonga Budi (bapaknya) dan keluarga yang lain.

Sekitar 2 jam perjalanan, sampailah kami di Pondok Saladah dimana kami akan mendirikan tenda. Rombongan Budi dan keluarga yang sudah sampai disana lebih dulu menyambut kedatangan kami. Setelah mendirikan tenda dan memberesan barang bawaan, kamipun mengganti semua pakaian yang basah dengan yang kering.

Malam harinya saat menyiapkan makan malam seperti janji saya pada istri, saya meramu sayur-sayuran untuk membuat pecel.  Yang spesial pada pecel ini adalah selain  terdiri dari beberapa jenis sayuran, pecel ditambah dengan honje atau kecombrang yang disukai oleh Nouf.  Masakan spesial untuknya karena dalam hitungan beberapa jam lagi, adalah hari ulang tahun nya. Selamat ulang tahun, Nouf.

Keesokan paginya, setelah sarapan roti bakar, seluruh rombongan trekking ke Tegal Alun.  Tegal Alun merupakan padang terbuka yang ditumbuhi oleh Edelweiss.
Beberapa saat disana, kamipun kembali turun menuju Pondok Saladah yang sejak kemarin dipenuhi oleh puluhan tenda .  Sesampai di perkemahan setelah mengisi perut lagi dengan makanan kecil, kamipun membereskan tenda dan barang-barang untuk turun dan kembali ke Jakarta.
Alhamdulillah, tidak seperti kemarin hujan tak turun selama perjalanan kami dari Pondok Saladah ke parkiran bawah.

"Children are great imitators. So give them something great to imitate" -Anonymous
So we bring them to the mountain ! 


Ceria dan semangat!
  
Menuju Tegal Alun

Di Tegal Alun

Ini dia pecel spesial nya :)


3 Keluarga

Seluruh Rombongan





7 comments:

  1. asik bisa hiking bareng keluarga gituh...salam kena ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga. terima kasih sudah mampir di blog :)

      Delete
  2. paling suka ma gunung mati eksotis

    ReplyDelete
  3. Tanjakan mamang seperti di tanjakan cinta yak ....

    ReplyDelete

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...