Thursday, December 3, 2015

Pendakian Ke Gunung Prau Dalam Kabut Bulan November






Soto Sokaraja di Purwokerto menjadi pilihan kami untuk sarapan pagi di hari sabtu itu. Semua orang segera menyantap pesanannya masing-masing ketika mangkok-mangkok putih berisi soto mendarat di meja.
Setelah beres dengan urusan perut, dengan menggunakan 2 mobil rombongan kami yang kali ini terdiri dari 14 orang meluncur ke dataran tinggi Dieng setelah kemarin malam menuntaskan perjalanan dari Jakarta ke Purwokerto dengan menggunakan kereta api.

“jam berapa, bud?” tanya saya ke budi beberapa saat setelah kami sampai di area pintu masuk pendakian Gn. Prau.  “jam 2 kurang, de. Paling ntar kita mulai naik jam 3’, jawab budi sambil melihat ke jam tangan nya.
Beberapa dari kami, membeli beberapa makanan yang masih kurang sekaligus re-packing ransel yang kami bawa.
Mas Meno, yang membantu kami dalam perjalanan kali ini, langsung membagi tugas pada beberapa orang (porter) yang akan membawa ransel-ransel (besar) kami.
Sore itu, terlihat di pintu masuk pendaki-pendaki lain yang juga berencana melakukan pendakian ke Gn. Prau.

Baru saja beberapa menit kaki melangkah, hujan pun turun dan terpaksa semua orang mengeluarkan  jas hujan dan payung agar terlindung dari guyuran hujan.
Namun tak lama begitu lama, jas hujan di masukkan kembali ke dalam tas masing-masing setelah hujan berhenti.

Trek yang kami lalui dimulai melewati kebun penduduk hingga memasuki kawasan hutan Gn. Prau dimana jalanannya semakin menanjak.
Ketika sudah melewati Pos II, hujan yang lebat diiringi angin yang bertiup kencang sempat ‘menemani’ perjalanan kami yang sebelumnya kabut memang sudah mullai turun.
Beberapa saat kami sempat berlindung di balik pohon besar, namun sadar bahwa hujan yang tak kunjung henti dan tubuh akan semakin dingin jika kita hanya berdiam diri, kami pun menerabas hujan yang disertai angin di penghujung bulan November ini.

Saya pun sempat memakaikan jaket windbreaker ke Azzam sebagai tambahan jas hujan yang digunakannya, untuk menahan dingin nya cuaca.
“Azzam kedinginan gak?” ujar saya memastikan setelah menambahkan jaket tadi.  “udah enggak, pak!” sahutnya. 
“Azzam ingat kan, kalo kita harus terus bergerak dalam cuaca yang dingin”? Dia pun mengangguk tanda mengerti.  Berkalo-kali saya tetap mengingatkan pada Azzam untuk memberi tahu, jika ada hal yang kurang enak yang dia rasakan pada tubuhnya.  Untuk memastikan saja.
Tak ada keluhan atau rengekan darinya selama diperjalanan.  Azzam semakin mengerti manajemen dari sebuah perjalanan.

Tak bisa dipungkiri, Azzam memang semakin termotivasi dalam pendakian gunung, apalagi setelah dia menonton film Everest, yang merupakan kisah nyata perjalanan Rob Hall dan beberapa orang lainnya menuju puncak tertinggi didunia.
Seperti biasa, sepanjang perjalanan kami selalu ngobrol.  “Kenapa di Everest semua pake tongkatnya dua, pak?” (yang dia maksud adalah tongkat utk mendaki/trekking pole).  “kalau kita diam, bisa beku ya, pak?”. Hal-hal seperti itulah yang kita bicarakan.

Untungnya hujanpun reda sebelum kami tiba di pos III.  Saya dan Azzam lalu ditemani mas Rosid (salah satu porter) mengambil jalur yang keatas, sedangkan beberapa teman yang juga dalam rombongan paling depan, mengambil jalur bawah.  Memang untuk menuju pos III ada 2 jalur yang nantinya akan ketemu di ujung letaknya pos III.
Diatas, jalur yang disebut melewati tower (karena memang ada tower yang berdiri disana), kami sempat berhenti dan menikmati pemandangan indah bukit diseberang.  “bagus ya, pak liat dari sini?” ujar Azzam seraya menunjuk ke arah bukit diseberang.  “Iya, zam emang cakep pemandangannya’, balas saya.

Akhirnya kami tiba di Pos III dan bertemu dengan teman-teman serombongan.  Sambil menunggu rombongan yang berada paling belakang (termasuk bundanya Azzam), kami mengeluarkan dan menyantap snack (makanan ringan) yang kami bawa dalam ransel.


Setelah hujan reda


Perjalanan kembali kami lanjutkan.  “Sekarang jalannya sedikit aja nanjaknya, setelah itu akan datar kok sampai kita ke tempat nge-camp”, mas Rosid coba menjelaskan kepada kami. OK.

Sekitar 20 menit berjalan ditengah gerimis kecil, angin yang bertiup lumayan kencang dan kabut yang tebal membuat jarak pandang tak begitu jauh.  Di sebelah kiri kami saya melihat ada tenda yang terpasang dari rombongan lain.  Saya memutuskan untuk singgah ke tenda rombongan tersebut untuk memasangkan kupluk (agar dia merasa lebih hangat) ke kepala Azzam sambil menunggu teman yang berada di belakang kami.

Tak lama kemudian, tampak ada beberapa orang yang melewati tenda tadi, 1 porter, bunda nya Azzam, Sukma Ayu dan Alin.  Saya pun berteriak memanggil mereka untuk segera bergabung.  Tak lupa berterima kasih pada rombongan di tenda tempat kami menumpang sementara tadi.  Azzam tampak bersemangat meneruskan perjalanan.

Hari mulai gelap ditambah kabut yang memang sedari tadi cukup tebal, senter pun dikeluarkan untuk menerangi jejak langkah kami. 
Sekitar 10 menit berjalan, kami berbelok menurun ke kiri dan disanalah terdapat tenda-tenda dari rombongan kami yang lebih dulu sampai sudah berdiri tegak.

Malam itu di perkemahan, tak banyak kegiatan yang dapat kami lakukan diluar tenda karena dinginnya udara.  Sempat ngobrol-ngobrol sebentar di luar tenda, lalu setelah semua orang masing-masing menyantap makan malam, kali ini tubuh yang harus diistirahatkan.

Pagi harinya, kabut tampak masih cukup tebal menyelimuti area gunung dengan ketinggian 2565 mdpl tersebut.  Jarak pandang hanya sekitar 50 meter saja.
Masing-masing tenda mulai sibuk dengan kegiatan menyiapkan sarapan sambil mengobrol kesana-kemari. Tak lupa berfoto-foto pastinya. Bukit kecil disekitar tenda kami penuh dihiasi bunga daisy yang berwarna-warni.

Jam menunjukan sekitar pukul 9 pagi ketika kami memutuskan meninggalkan Gn, Prau untuk turun.  Matahari sempat mucul malu-malu diantara kabut yang masih setia menemani.
Beberapa ratus meter berjalan dari tempat kami berkemah tadi malam, tampak tenda-tenda yang masih berdiri dan orang-orang yang masih menikmati suasana disana.
Jalur turun yang kami pilih memang berbeda dengan jalur kami mulai mendaki kemarin.  Jalur dieng kami pilih untuk mulai mendaki dan jalur Patak Banteng untuk turunnya.

2 mobil sudah menunggu kami di jalanan utama. Satu persatu teman-teman yang lain akhirnya sampai dengan jeda waktu yang tak lama.
Setelah kami semua berkumpul, perjalanan kami lanjutkan menuju Purwokerto untuk kembali ke Jakarta dengan menggunakan kereta api.

Dalam perjalanan kali ini, beberapa dari kami sempat terbersit rencana untuk kembali ke Gn. Prau dengan waktu yang lebih lama karena ini memang pendakian pertama (khususnya keluarga kami) ke Gn. Prau. Ya, semoga nanti kami kembali lagi.


Pintu masuk pendakian jalur Dieng

Tenda-tenda kami

Foto Rombongan
 
Berdo'a sebelum turun

Pulang...

Jalur Patak Banteng

Berjalan bersama...














Friday, September 4, 2015

Gunung, Pantai, Tenun Hingga Tembakau Ada Di Pulau Lombok



Gunung Rinjani, sebagai gunung kedua tertinggi di Indonesia ini memang sangat terkenal dengan keindahan pemandangan nya. Bahkan masuk dalam daftar salah satu gunung berapi aktif terindah di dunia.

Gunung yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini banyak didatangi oleh para pendaki mulai dari  lokal  hingga pendaki mancanegara. Memang, dengan medan dan pemandangan nya yang bervariasi dari mulai sabana, hutan dan danau sangat memanjakan mata para penikmat alam.
Namun kali ini, sayangnya kedatangan saya dan beberapa kawan ke “Pulau 1000 Mesjid” ini bukan untuk mendaki Rinjani.   

Jalanan yang pas untuk 2 mobil membawa kami melintasi bagian Timur Pulau Lombok.
Bercanda, nyanyi hingga ngerjain teman sendiri kami lakukan didalam bus berukurang sedang tersebut untuk mengurangi rasa kantuk.
Setelah perjalanan hampir memakan waktu sekitar 2 jam kalau dihitung dari hotal dimana temoat kita menginap, terlihat disisi kanan jalan ada plang bertuliskan Pantai Kuta. “wah, nyampe juga nih kita”, ujar seorang teman dengan wajah sumringah.  Karena memang Tanjung Aan yang akan kami datangi letaknya tak jauh dari Pantai Kuta, Cuma sekitar 5 km saja. 

Matahari masih memancarkan sinar teriknya ketika kami sampai di Tanjung Aan.  Pantainya yang berpasir putih tampak menyilaukan mata. 
Begitu turun dari bis, tak ada seorangpun yang langsung ke pantai, tapi mencari tempat untuk berteduh sementara.
Beberapa ada yang menuju warung, ada juga yang ke pondokan yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun.
Selagi menikmati belaian angin sepoi, tak menunggu lama kamipun langsung di serbu oleh para penjaja kain khas lombok.  Ada sekitar 5 sampai 7 orang pedagang yang mendekati kami. Beberapa teman membeli lagi kain yang dijajakan walaupun sebagian besar dari kami sudah berbelanja tadi ketika singgah di Desa Adat Sade.  Mungkin karena memang warna warni kain tenun lombok ini sangat menarik dipandang mata.

Beberapa hari berada di Lombok kali ini, lumayan menambah pengetahuan saya.  Ternyata disamping efek dari pariwisata dan turunannya sebagai salah satu penghasilan dari para penduduk di Lombok, ternyata Lombok, khususnya Lombok timur dikenal juga sebagai salah satu tembakau terbaik di Indonesia.
Dari pembicaraan kami dengan para petani, ketika kami mampir di Desa Lekor bahwa adanya perubahan-perubahan yang dirasakan masyarakat.

“Dulu sekali, sering terjadi kejahatan di daerah sini, seperti perampokan ternak.  “Tempat saya ini malah pernah disambangi sekitar 20 orang rampok” jelas Pak Haji Sabarudin, salah seorang ketua kelompok tani di Desa Lekor. 
Namun setelah pertanian tembakau mulai menggeliat di akhir tahun 1986-an, daerah disana pun mulai ramai, jalanan lebih baik dan penerangan yang cukup.

“Bahkan ada mantan rampok yang kini setelah sadar lalu menjadi petani tembakau. Selain bertanam tembakau, Haji Sabarudin juga berternak sapi yang berasal dari Bali.
 Upaya yang dilakukan Pak Sabarudin memang tidaklah bisa dikatakan mudah.  Butuh waktu yang lumayan baginya untuk mengajak dan meyakinkan warga nya agar mau bertani tembakau yang kini hasilnya sudah dapat dirasakan oleh warga desa Lekor.
Hampir tak ada usaha yang tak pernah ada gagalnya.  Seperti yang pernah dialami oleh Pak Sabarudin dan warga desa Lekor. 

Di tahun 2010, mereka sempat bangkrut karena tahun itu curah hujan lumayan tinggi yang mengakibatkan gagal nya panen tanaman tembakau.
Tanaman tembakau memang salah satu tanaman yang cocok ditanam di daerah yang relatif kering, tentunya dengan beberapa persyaratan yang menjadi standar. 

Sempat mereka mencoba bertani tanaman lainnya seperti kedelai, namun hasilnya tak seberapa.  “yah, kita cuma bisa dapat balik modal aja”, ujar Pak Sabarudin.  Matanya menerawang, seperti mencoba mengingat peristiwa yang sempat menjatuhkan semangat mereka.
Selain bertanam tembakau, masyarakat Lombok Timur juga menanam padi dan cabai di lahan mereka.
Seiring informasi, bantuan modal, bibit, pelatihan dan pendampingan bagaimana cara bertani yang benar yang didapatkan dari pihak mitra, hari demi hari semakin baik pula hasil tani yang mereka tuai.

Pak Sabarudin melanjutkan ceritanya, “jadi disini, untuk melihat petani yang sudah berhasil sangat mudah sekali. Yang pertama naik haji, punya rumah dan yang ketiga...kawin lagi. Hahahaha..” ujarnya sambil tertawa. Beliau sendiri sudah pergi haji 1 kali.  “gak dikasih izin sama istri” jawab Pak Sabar sambil mesem, ketika ada seorang teman yang bertanya kenapa istri beliau cuma satu saja.
Pak Sabarudin sendiri kini memperkerjakan sekitar 50 orang di lahan yang dia punyai dengan luas lahan sekitar 75 are.  Total lahan tembakau di lombok sendiri sekitar 20.000 an hektar.

Seperti yang sudah saya sebutkan diatas tadi, selain pariwisata mungkin saat ini pertanian tembakau menjadi salah satu sendi kehidupan di kawasan Lombok Timur.
Dengan adanya peningkatan pendapatan, bertambah pula wawasan.  Anak-anak petani kini banyak yang bersekolah tinggi, bahkan beberapa diantara meneruskan usaha orang tuanya setelah menyelesaikan jenjang perguruan tinggi.
Harapan mereka mungkin sama dengan petani di daerah lainnya, yaitu tidak terjadinya gagal panen, harga jual yang baik dan adanya bantuan dalam berbagai bentuk baik dari pihak pemerintah maupun mitra swasta.

Hari keempat di Lombok, jam telah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya dan kawan-kawan bergegas menuju ke bandara untuk pulang ke tempat asal masing-masing.  Sampai jumpa lagi, Lombok!


Di Tanjung Aan

Penenun di Desa Sade

Haji Sabarudin

Di Kebun Tembakau

Monday, July 6, 2015

Body Rafting di Green Canyon, Pangandaran



 
dari atas


3 Tiket Kereta Api jurusan Bogor-Sukabumi (pulang-pergi) sudah ditangan.  Rencana awal kami untuk liburan kali ini sebelum puasa adalah camping di Situ Gunung. Tapi, sehari sebelum berangkat ketika membicarakan rencana lebih detail, berubahlah rencana untuk camping setelah menimbang beberapa hal, akhirnya tujuan kita alihkan ke Pangandaran.  Lumayan agak impulsif sih.

Ini  kali ke tiga kami liburan keluarga ke Pangandaran.  Sebagai tujuan wisata, bermain di pantai Pangandaran sudah semacam menu utama.  Kegiatan lainnnya yang sudah kami lakukan adalah berperahu di Green Canyon dan ke Pasir Purtih (snorkeling), mendatangi pantai batu hiu dan juga body rafting di Citumang.Nah, perjalanan kali ini kami rencanakan body rafting di Green Canyon yang katanya lebih menantang dari yang di Citumang.

Setelah sampai di terminal Pangandaran, dikarenakan masih terlalu pagi maka kami langsung mencari hotel untuk sekedar menitipkan barang bawaan yang tak akan kami bawa ke Green Canyon untuk body rafting.Dengan menaiki angkot, sampailah kami dipintu masuk Green Canyon lalu mencari warung untuk sarapan.  Tak menunggu lama, kami langsung didatangi oleh salah satu provider yang menawarkan paket body rafting.

“Paketnya sih 1 juta untuk 5 orang, kalo bapak Cuma bertiga bisa kita kasih 800,000 saja” ujar sang operator.
‘Wah lumayan juga sih kalo 800.000, kalo gitu kita tunggu aja deh ada rombongan lain yang bisa barengan sama kita, biar kita ikut yang 200,000/orang” ujar saya kepada dia.  Setelah saya berdiskusi juga dengan istri.

 Hampir satu jam dan akhirnya pihak operator  mendatangi kami yang sedang duduk-duduk di area pembelian tiket perahu.  “pak, ayuk kita ke base camp, udah ada barengan nya nih”.  Kami pun bergegas menyambutnya dan langung menuju mobil bak terbuka yang akan membawa kami menuju base camp Kali-Kali body rafting.  Ya, itulah nama operator tersebut.
Hanya memakan waktu tak lebih dari sepuluh menit, kami melihat ada 4 orang yang sudah bersiap-siap sedang mengganti pakaian ketika kami sampai di base camp.




pose sebelum pengarungan


Setelah semua orang dilengkapi peralatan untuk ber body rafting,  perjalanan menuju titik awal lagi-lagi menggunakan mobil bak terbuka. Oiya, menurut sang guide, operator mereka agak berbeda dengan operator laiinya, karena mereka meminjamkan pelingung dari dengkul hingga batas pergelangan kaki dan juga sepatu/boot selam.  Dan hal itu terbukti ketika kami berjumpa dengan rombongan lain di pengarungan.
Sesaat tiba di titik awal pengarungan semua berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari salah seorang guide.

Tak lupa berdoa, maka selanjutnya7 peserta dan 3 orang guide serta merta menceburkan diri kedalam air sungai yang lumayan dingin dan tampak berwaran ke tosca-an tersebut.  Perjalanan dimulai!


mendengarkan pengarahan


Dari mulai kedalaman air yang dapat membuat kami mengambang dengan santainya, kadang kami harus berdiri menapaki di pinggiran sungai yang berbatu.
Beberapa kali sang guide menunjukkan tempat-tempat untuk melompat dari ketinggian tertentu bagi peserta yang ingin mencoba melompat.

Ada kalanya kami bertemu jeram dan menghanyutkan diri didalamnya yang membuat perjalanan tidak datar-datar saja bahkan menjadi lebih seru!
“ini agak surut sih, biasanya kalo airnya banyak, lebih seru lagi” ujar sang guide.  Kamipun setuju dengannya.
Tapi tetap ada sih yang jeramnya membuat kita berteriak, saat kita masuk kedalamnya tubuh sempat tenggelam dalam hitungan 5 detik.  Lumayan ngagetin karena gak nyangkanya.

Selaiin hanya mengandalkan jaket pelampung, Azzam pun beberapa kali memasuki jeram dengan menggunakan ban yang memang sengaja dibawa oleh sang guide.  Setiap kali memasuki jeram, azzam berteriak kegirangan,. Seru banget katanya!


yeay! 


rombongan kami hari itu


Ketika memasuki kira-kira lebih dari setengah perjalanan, sampailah kami di "Rest Area”.  Setidaknya itu sebutan yang diberikan oleh operator kepada kami.
Di pinggir sungai, ada semacam warung yang siap-siap menghangatkan tubuh dengan suguhan minumam hangat, gorengan dan juga mie instant yang tinggal diseduh.  Sekaligus berjemur di bawah sinar matahari yang menghangatkan tubuh.
Disana, kami berkumpul dengan beberapa rombongan lain yang tentunya juga bermaksud yang sama dengan kami.

Perjalanan pun berlanjut, ketika perut sudah terisi dan tubuh mulai menghangat kembali.  Ada juga peserta yang sepertinya tak rela berhenti berjemur karena harus masuk kembali ke air sungai yang dingin.
Setelah pengarungan yang melewati jeram dan juga beberapa pancuran air yang jatuh dari air di batu-batu bagian atas bagaikan air hujan.
Tak terasa pengarungan dengan ber body rafting yang memakan waktu sekitar 3 jam sudah harus kami akhiri.


Halo!


Di garis akhir, para peserta di jemput oleh kapal yang akan membawa kembali ke base camp yang telah menyiapkan suguhan makanan dan minuman.  Saatnya pula kami berpisah dengan peserta rombongan yang lain.

Hari itu, kami bertiga langsung menuju pantai untuk menikmati senjanya.  Barulah keesokan harinya kami bermain dipantai hingga hari menjelang siang.  Sore harinya, kami berkemas untuk bersiap kembali pulang.

Sampai bertemu lagi Pangandaran!



di akhir perjalanan


body surfing

Senja di Pangandaran


Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...