Tuesday, October 25, 2016

Video - Exploring Java -Taman Nasional Gn. Merbabu (Mt. Merbabu National Park) #FamilyGoesToNationalPark Episode -2



Merupakan Episode ke 2 dari penjelajahan keluarga kami ke Taman Nasional, #FamilyGoesToNationalPark.

Taman Nasional Gn. Merbabu menjadi pilihan kami setelah mendiskusikannya dan mempertimbangkan beberapa hal.
Di perjalanan kami kali ini, ada satu orang teman, Sugi yang turut serta.  Sementara 3 orang teman lainnya dari Sidoarjo juga mendaki pada hari yang sama bersama kami.

Pendakian ke gunung yang mempunyai ketinggian 3142 mdpl ini, kami sempat ditemani angin kencang, hujan dan kabut yang cukup tebal.

Setelah mendaki Gunung Merbabu yang berada di Jawa Tengah ini, kami sempatkan mampir di Kaliurang untuk bermain jeep di kawasan Merapi sebelum menuju Kota Jogyakarta dan akhirnya kembali ke Jakarta.

Here we are! The wind, fog and rain had been incredible. We are having the time of our lives... 

Thanks for watching :) 

#FamilyGoesToNationalPark
#EigerAdventure

Monday, October 24, 2016

Taman Nasional Gunung Merbabu – Disapa Kabut Selo (FamilyGoesToNationalPark)




“Here we are! The wind, fog and rain had been incredible. We are having the time of our lives...”

Sempat terpikir dan berdiskusi untuk menjelajahi Taman Nasional Baluran sekaligus Taman Nasional Merubetiri dalam satu perjalanan, namun setelah mempertimbangkan beberapa hal, kami putuskan untuk tidak melakukannya dalam penjelajahan #FamilyGoesToNationalPark kali ini.

Membolak-balik buku Taman Nasional yang saya punya dan juga melihat-lihat di internet, Taman Nasional Gunung Merbabu menjadi putusan kami.
Selain browsing di internet, saya juga menanyakan tentang Gunung Merbabu ini lewat FB serta japri ke beberapa teman.  Gunung yang mempunyai ketinggian 3142 mdpl ini bisa didaki melalui 4 jalur yang menurut informasi setiap jalur memiliki pemandangan alam dan tingkat kesulitan yang berbeda.  3 jalur lainnya adalah Kopeng, Wekas dan Suwanting.
Jalur Selo adalah yang kami pilih setelah mendapatkan informasi yang kami rasa cukup dan seperti biasa, kami diskusikan bertiga tentang lama perjalanan, medan dan hal-hal lainnya. Selain itu, kita juga selalu mempersiapkan fisik untuk melakukan olahraga yang juga sekaligus refreshing ini.

Selesai menjemput Azzam pulang dari sekolah, kami langsung menuju bandara Soekarno-Hatta. 
Sempat molor sekitar setengah jam, akhirnya kami tiba di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.  Mas dede, saya sudah diparkiran.  Itu pesan WA yang saya terima dari mas Gito.  Mas Gito adalah anak mantu dari Pak Parman, pemilik basecamp yang membantu kami dalam penjelajahan kali ini.

Satu orang teman, Sugi sudah tiba di Jogya sore tadi.  Sesuai janji dia menjumpai kami di bandara.  Segera kami berlima meluncur menuju Selo.
Tiba di basecamp Pak Parman sekitar pukul 11 malam, tampak ada beberapa orang pendaki yang sudah lebih dulu datang dari kami dan tampaknya mereka sudah lelap dalam tidurnya.
Basecamp Pak Parman bisa dikatakan adalah salah satu basecamp yang paling lama berdiri di jalur pendakian Selo.  Disanalah kami akan menginap malam harinya sebelum memulai pendakian keesokan paginya.

Sekitar pukul 7 pagi saya terbangun dan bertemu dengan Pak Parman yang memang tadi malam ketika kami tiba, beliau sudah tidur.  Sambil memperkenalkan diri, istri saya, Azzam dan juga Sugi, kami lalu memesan sarapan juga bekal untuk pendakian.
Setelah berpamitan ke Pak Parman dan istrinya, kami ber 4 beserta 2 orang porter yang akan menemani, mas Nang dan mas Agus berdoa bersama sebelum memasuki pintu masuk pendakian Taman Nasional Gunung Merbabu.

Siap Mendaki


Di perjalanan Azzam beberapa melantunkan nyayian yang saya sendiri belum pernah dengar sebelumnya.  Sesekali dia juga minta untuk berhenti, beristirahat.
“Paling kalo irama kita jalan begini, insya allah jam 12 kita sampai di Pos 2” ujar Mas Nang ketika saya tanyakan estimasi perjalanan ketika kami beristirahat di Pos 1.  Oiya, tadi kami memulai perjalanan dari bawah sekitar jam 9 pagi.

Jalan masih panjang :)

Beberapa meter sebelum memasuki Pos 2, “Mana raspberry nya?” ujar azzam setengah berteriak pada siapa saja yang ada disekitarnya.  Dia ingat pesan Pak Parman ketika masih di basecamp bahwa aka nada buah raspberry di Pos 2.  Mas Nang pun mengajak Azzam untuk memetik buah Raspberry yang membuat dia penasaran.
Meskipun rasanya sedikit asam, namun dia menghabiskan tak kurang dari 10 buah!


Istirahat di Pos 2

Meninggalkan Pos 2
 
Dengan bibir yang kebiru-biruan bekas menyantap raspberry, kamipun meninggalkan Pos 2.  Perjalanan berlanjut menuju Pos 3.  Ada tanjakan yang lumayan curam terakhir sebelum memasuki Pos 3.  “Ayo, Zam dikit lagi sampe nih”, ujar saya menyemangatinya dari atas.  Sambil menunggu Azam, istri saya dan Sugi, saya melihat sekeliling ada beberapa tenda didirikan disana.
“Udah makan mas?” tanya saya pada mas agus.  “udah mas” jawabnya yang sedang tidur-tiduran beralaskan matras. Sugi segera mengeluarkan trangia untuk memasak air, lalu membuatkan kopi dan teh.  Kami menyantap makan siang yang sudah kami bungkus tadi pagi di basecamp Pak Parman.


Tanjakan terakhir sebelum masuk Pos 3

Dari Pos 3 tampak bukit yang harus kami daki untuk mencapai Sabana 1 dimana kami berencana untuk mendirikan tenda malam nanti.  Selang 1 jam, setelah kami beres makan dan ngopi-ngopi, rombongan mas Juned memasuki Pos 3.  “wah, udah lama ya disini?” ujar mas Juned. 
Tak berapa lama kemudian kami ber 5 pamitan ke mas Juned cs untuk melanjutkan perjalanan.
Untuk menuju Sabana 1 dari Pos 3 dibutuhkan waktu sekitar 45 menit mendaki bukit yang lumayan menanjak jalannya.


Sabana 1 dilihat dari Pos 3
 
Ketika saya, istri dan Azzam tiba di Sabana 1, tampak mas Agus, mas Nang dan Sugi sedang memasang tenda.  Tampak ada beberapa tenda kelompok lain yang ada disana.  Jam masih menunjukkan pukul 3.30.  Kami pun segera berkeliling di sekitar Sabana 1, yang pemandangannya cukup cantik.

Keesokan paginya, sekitar jam 7 yang berniat untuk ke Puncak sudah bersiap-siap untuk berangkat setelah sarapan.  Azzam tidak berniat untuk ke Puncak yang berjarak sekitar 2 jam dari sabana 1.  “Kita disini aja ya, pak?” ujarnya. Jadilah saya menemani Azzam di sabana 1. Mas Nang akan menemani teman-teman yang ke puncak, sedangkan mas Agus akan bersama kami di sabana 1. 
Pagi yang dingin dan berkabut, tampak sedikit puncak Gunung Merapi dari depan tenda kami, namun tak berapa lama, Puncak Gn. Merapi tersebut tak tampak sama sekali, tertutup oleh kabut.
Saya dan Azzam hanya sampai di sabana 2.  Selanjutnya yang lain meneruskan perjalanan menuju puncak.  Angin yang bertiup cukup kencang menemani perjalanan saya dan Azzam kembali ke Sabana 1.


Menuju sabana 2.  Mengantarkan yang ingin ke puncak

Sekitar pukul 11, saya ditemani Wawan, anak dari Solo yang memasang tendanya dekat rombongan kami menuju Sabana 2.  Maksud saya untuk menjemput rombogan yang akan turun.  Namun tak begitu lama di kaki bukit Sabana 2, hujan kecil pun mulai turun.  Saya dan Wawan memutuskan untuk kembali ke tenda saja.
Menjelang tengah hari, satu persatu rombongan yang ke puncak sampai di sabana 1 ditemani kabut yang membuat jarak pandang hanya sekitar 10 meter saja.
Saya langsung membuatkan teh hangat untuk menyambut mereka, berlanjut dengan memasak makan siang.  Sekitar jam setengah dua siang, kami memutuskan untuk turun.


Menembus kabut
Setengah jam menuruni bukit dari Sabana 1 yang masih berkabut, dan bertemu dengan para pendaki yang baru naik hari sabtu itu ada salah seorang yang mengatakan kepada kami “di Pos 3 ada badai pasir”.  Tak lama kemudian ketika kami tiba di Pos 3 yang areanya cukup luas, namun dikarenakan kabut dan angin kencang, jarak pandang hanya sekitar 7 meter saja. 


Masih ditemani kabut
 
Tak berhenti di Pos 3, kami melanjutkan perjalanan dan hujapun makin besar.  Kami semua berhenti sebentar untuk memakai jas hujan.  Seperti biasa, saya selalu mengecek kondisi Azzam.  “Azzam kedinginan gak” tanya saya.  “Nggak pak” jawabnya.  “Itu bibir kamu kok biru?” spontan mata saya melihat ke bibirnya yang memang kebiru-biru an.  “kan ini bekas raspberry, pak” ujarnya setengah tertawa.  Wah iya ya, saya ingat ketika kami di tenda hal ini pun sudah kami bahas.
Jalanan yang licin dan menjadi jalur air, membuat kami harus ekstra berhati-hati.
Hingga kami tiba di basecamp, hujan tak kunjung reda.  


Diantara hujan dan kabut

Setibanya di basecamp, segera berganti pakaian lalu kami memesan soto dan teh manis untuk menghangatkan tubuh sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kaliurang.
Menembus hujan malam itu, saya, istri, Azzam dan Sugi diantarkan oleh mas Gito ke Kaliurang.  Tiba di Kaliurang kami ke warung sate, setelah menyimpan barang-barang di hotel.
Malam itu juga mas Gito kembali ke basecamp di Selo.


Azzam dan Pak Parman


Basecamp Pak Parman


Keesokan paginya, sesuai dengan janji kami menuju kawasan Merapi dengan menggunakan Jeep Willys keluaran tahun 1942.
Berwisata di kawasan merapi, kami menyinggahi beberapa tempat.  Diantaranya museum merapi, batu alien, bunker dan berakhir di sungai dimana jeep akan berputar-putar menerjang air hingga membuat para penumpang berteriak kegirangan.


Di kawasan Merapi


Byuuurrrr.....

Selesai ber jeep ria, kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap melanjutakan perjalanan ke Jogya.  Kami hanya mempunyai 3 jam sebelum harus check-in dibandara untuk kembali ke Jakarta.  Dengan waktu yang tak begitu lama, kami hanya menghabiskan waktu di kawasan Malioboro.
Jam 5 lebih sepuluh kamipun meninggalkan Malioboro menuju bandara, sementara Sugi masih akan menginap semalam disana sebelum kembali ke Jakarta esok harinya.

Menembus hujan yang membasahi Jogya dan sekitarnya malam itu, berarti juga kami harus mengakhiri perjalanan kami kali ini.

Sunday, August 14, 2016

Kemping Bersama Dru Di Camp Bravo




 
“Bagaimana caranya menyembunyikan pikiran?”
”Kamu ingin tahu caranya?” Cobalah mencurinya dari pikiran kami.”
“Bagaimana cara mencuri pikiran kalian?”
“Caranya ada di dalam pikiran kami”.
Dru Dan Kisah Lima Kerajaan (Clara Ng)


Begitu turun dari angkot yang membawa kami ke pintu masuk Camp Bravo, saya langsung menelepon mang ucup sang pengurus camp.  “Mang kami udah sampe nih?” ujar saya.  Mang ucup berjanji segera menuju ke tempat kami.
Azzam memilih untuk ikut bersama mang ucup dengan menggunakan motor sementara saya dan istri berjalan kaki.
Setelah berjalan selama sekitar 20 menit melewati kebun, sawah dan rumah penduduk sampailah kami di lokasi camping camp bravo dengan disambut oleh hujan sedang.

Perjalanan menuju camp bravo camping ground yang terletak di Desa Cidahu ini kami tempuh dengan menggunakan kereta jurusan bogor-sukabumi dengan jadwal keberangkatan pukul 13.40 dan tiba di stasiun Cicurug sekitar pukul 14.40, lalu berlanjut menggunakan angkot.

Di hari Minggu ini tak ada tamu lain selain kami di camping ground yang terletak di Desa Cidahu ini, begitu penjelasan mang ucup yang berarti hanya akan ada satu tenda kami selama 3 hari disana. 
Ada beberapa pilihan lokasi untuk memasang tenda disana, dan kami memilih lokasi yang dibawah didekat sungai.
Sesampainya di bawah, hal yang kami lakukan adalah memasang tenda, agar barang-barang bawaan dapat segera kami bongkar, dan mengantisipasi turunnya hujan.

Mendirikan tenda bersama
 
Sore itu seperti sudah tak sabar, Azzam langsung bermain di sungai sementara saya menyiapkan minuman hangat dan pisang bakar sebagai cemilan sore hari sebelum nantinya menyantap makan malam kami.

“Ayo, bun kita mulai baca Dru nya”, ujar Azzam pada bundanya.  Berbaring di dalam tenda, Bunda pun mulai membacakan Dru untuk Azzam dengan diterangi oleh senter di kepala.

…“Cahaya merembes masuk di antara pori-pori kayu, memperlihatkan suasana yang magis.  Kesimpulan itu membuat Dru semakin bertanya-tanya.  Benarkah ia sedang merangkak di dalam batang pohon? Apa yang terjadi dengan dirinya?  Bagaimana ia bisa berada di dalam pokok kayu? Setinggi apakah pohon ini?”...
“Baca Dru nya udah dulu ya, zam?” ujar istri saya pada Azzam karena memang hari semakin larut dan waktunya untuk beristirahat.

Ditemani Dru, sebelum tidur (di dalam tenda)
 
Kopi untuk saya, teh manis kesukaan bunda dan susu manis pilihan azzam menemani pagi hari yang cerah.  “sarapan dulu ya, zam sebelum kamu main di sungai biar gak kedinginan” seru bunda saat saya sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan pagi ini.  Azzam pun menuruti.

Selamat pagi.... :)

Tampak beberapa orang yang sedang bermain di sungai dekat dimana tenda kami berada yang sudah kami pindahkan beberapa meter dari lokasi hari pertama.   Memang, pintu masuk menuju lokasi kemping di bawah camp bravo ini tidak ditutup oleh pengelola, sehingga terbuka bagi siapa saja yang ingin bermain di sungai.  Sedangkan bagi orang yang ingin ke air terjun, otomatis akan melewati tempat ini.  

Airnya dingin :)
 
Setelah menghabiskan sarapannya, azzam segera menyeburkan diri kedalam sungai.
Hammock yang sengaja kami bawa, segera kami ikatkan diantara 2 pohon sedang yang dekat dengan sungai.  Bunda asyik membaca Dru di dalam hammock, ditemani sejuknya udara dan suara aliran air sungai dibawahnya dimana azzam masih bermain disana.  Nikmat mana lagi yang kau dustakan! Hahaha….

Santai di hammock
 
Sebelum hari beranjak siang, kami naik ke lokasi bagian atas.  Dari sana, terlihat lahan kemping Batu Tapak Camping Ground, yang memang kedua lokasi ini di batasi oleh sebuah sungai.  Kami sendiri sudah beberapa kali kemping di batu tapak.  Selama kami kemping di batu tapak, kami sudah tahu keberasaan camp bravo ini, namun baru kali ini kami memutuskan untuk mencobanya.

Sambil berjemur matahari dengan pakaian yang masih basah, bunda membacakan Dru untuk azzam.  Mereka duduk diatas batu yang lumayan besar, dan kemudian berpindah ke bawah pohon seri yang cukup rindang.  Di lokasi atas ada beberapa fasilitas yang disiapkan oleh camp bravo, diantaranya flying fox, kolam ikan yang diatasnya ada bambu dimana orang bisa bermain gebuk bantal dan juga saung untuk berkumpul jika ada pengunjung yang membutuhkan tempat berkumpul.

Mang ucup sedang mengawasi 2 orang pekerja yang sedang merenovasi tempat menyimpan barang-nbarng mereka.  Kami sempat bercakap-cakap dengan mang ucup sebentar sebelum akhirnya kembali turun ke bawah.
Oiya, menurut mang ucup malam hari ada satu petugas yang berjaga dan mengawasi lokasi pada malam hari.  Dari atas sini terlihat hanya satu tenda saja di bawah, yaitu tenda kami.

Hingga sore hari kami habiskan dengan bermain-main di sungai, bermalas-malasan di dalam hammock hingga sore hari menjelang.  Sebelum kayu bakar pesanan datang, saya membuatkan roti bakar coklat keju untuk kudapan sore itu, tak lupa ditemani kopi, the dan coklat hangat.

Enaaaakkkk....

Selepas maghrib hujan pun turun.  Di dalam tenda kami berharap agar hujan tak terlalu lebat dan lama, karena kami sudah merencanakan membuat api unggun.
Tak berapa lama, hujan berhenti dan kami memulai membakar kayu dan berada disekitar api unggun.  Belum habis semua kayu terbakar, hujan kembali turun hingga membuat kami terpaksa masuk ke dalam tenda.
Di dalam tenda kami bercakap-cakap dan kemudian bunda kembali melanjutkan membacakan Dru untuk azzam diantara suara hujan yang merdu didengar.

Waktunya api unggun-an bertiga

…..“Kerajaan apa ini ?” Akhirnya Dru menemukan suaranya lagi.  “Ditengah padang pasir sunyi seperti ini?”
“Ini adalah Kerajaan Logam”.  Tanti Pala mendesis dari mulutnya, yang terlijat selalu rapat.  Ia berutar mengelilingi Dru ketika berbicara.  “Dan ini bukan padang pasir, Nona Sok Tahu”.  Dru terdiam tak membantah.  “Ini adalah gumuk pasir”…

Bunda akhirnya menyudahi bacaannya untuk malam itu, karena memang malam sudah semakin larut.  Azzam tadi sempat memohon dan dikabulkan untuk menambah halaman bacaan dari yang sudah disepakati sebelumnya.

Pagi hari, tampak bekas api unggun dan sisa kayu yang masih utuh basah karena hujan tadi malam.  Hujan yang menemani kami ke peraduan hingga tengah malam.
Sambil menyeruput minuman hangat, saya mengolah pisang uli menjadi pisang bakar keju coklat untuk sarapan kami pagi itu.
Sarapan kami bawa ke seberang sungai menuju lokasi kemping yang paling ujung, menikmati gemericik air sungai dan dikelilingi oleh bunga-bunga terompet disekitar kami.
Kembali ke tenda, ada sekitar 6 orang anak yang sedang mandi di sungai.  Untuk menghabiskan bahan makanan yang kami bawa, saya menawarkan membuatkan roti bakar coklat keju untuk mereka.  Tanpa basa-basi, mereka pun menerima dengan senang hati.
 

Berbagi roti bakar
 
Mandi di sungai bertiga kami lakukan untuk membersihkan diri sebelum membereskan tenda dan barang-barang.  Hujan sempat kembali datang menemani makan siang kami.
Setelah hujan reda, kami naik ke atas untuk membayar biaya-biaya sekaligus pamit ke mang ucup.

Setelah sampai di jalan utama, saya menelepon angkot yang kemarin mengantarkan kami kesini untuk menjemput.  Kami memang sudah membuat janji 2 hari lalu.
Sambil menunggu angkot datang, bunda dan azzam memesan mie instant dan teh serta kembali melanjutkan membaca Dru.
“Nah, tuh angkotnya datang, yuk yuk” ujar saya.  Kami semua masuk ke dalam angkot yang akan mengantarkan kami ke stasiun kereta cicurug.  Sempat menunggu sekitar 1 jam, akhirnya kereta datang yang akan membawa kami sampai ke bogor, lalu kami lanjutkan tujuan menuju Depok untuk kembali pulang ke rumah… 

Masak apa dulu ya?
 
Bunga terompet

Bermain di sungai

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...