Tuesday, April 26, 2016

Taman Nasional Gunung Leuser ( Bagian-1) - Menyapa Orangutan Di Bukit Lawang (FamilyGoesToNationalPark)



Ibu dan anaknya



Taman Nasional

Gagasan dari sebuah taman nasional pertama kali muncul pada awal abad ke-19. Pada 1810 puitris Inggris William Wordsworth menggambarkan Danau District sebagai "sebuah bagian dari hak milik nasional di mana setiap orang memiliki hak bagi yang memiliki mata untuk menerima dan sebuah hati untuk menikmati".

Usaha pertama oleh pemerintah untuk menetapkan tanah terlindungi tersebut dilakukan oleh Amerika Serikat, ketika Presiden Abraham Lincoln menandatangani "Act of Congress" pada 30 Juni 1864, menetapakan Lembah Yosemite dan Mariposa Grove di Giant Sequoia (pusatnya akan menjadi terkenal ke seluruh dunia Taman Nasional Yosemite) kepada negara bagian California.
Namun, visi Taman Nasional belum lengkap di Yosemite, dan membutuhkan usaha dari John Muir untuk memberikan hasil. Yosemite tidak menjadi taman nasional secara legal sampai 1 Oktober 1890.
Pada 1872, Taman Nasional Yellowstone diresmikan sebagai taman nasional pertama di dunia.  Langkah pemerintah Amerika Serikat ini kemudian diikuti oleh negara-negara lainnya di dunia.

Di Indonesia sendiri, menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Nasional salah satunya didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Taman Nasional Leuser sebagai salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia mempunyai luas 1.094.692 Hektar yang secara administrasi pemerintahan terletak di dua Provinsi Aceh dan Sumatra Utara. 
Secara yuridis formal keberadaan Taman Nasional Gunung Leuser untuk pertama kali dituangkan dalam Pengumuman Menteri Pertanian Nomor: 811/Kpts/Um/II/1980 tanggal 6 Maret 1980 tentang peresmian 5 (lima) Taman Nasional di Indonesia, yaitu; TN.Gunung Leuser, TN. Ujung Kulon, TN. Gede Pangrango, TN. Baluran, dan TN. Komodo.
Hingga saat ini terdapat 51 Taman Nasional di Indonesia, yang pengelolaannya di bawah Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Nah, itu sekilas informasi singkat awal pembentukan Taman Nasional di dunia maupun di Indonesia.

Saya dan istri kebetulan mempunyai minat yang sama, yaitu jalan-jalan. Bahkan sebelum menikah,  kami sudah traveling bersama ke beberapa tempat. 
Pada dasarnya kami selau senang dan antusias mendatangi tempat-tempat baru yang belum kami datangi, merasakan atau menikmati alam nya, budaya nya, hingga makanan nya.  
Namun kami memang lebih sering memilih jalan-jalan ke alam.  Tak jarang kami mengunjungi tempat yang sama hingga lebih dari 5 atau 10 kali, bahkan lebih. Untuk beberapa tempat memang dapat membuat kami merasa nyaman dan rindu karenanya.
Nah, hobi inilah yang kami kenalkan ke anak sejak dia masih kecil. Bahkan perjalan pertamanya ke alam (camping) saat usianya masuk 15 bulan.

Bicara soal wisata alam, saya dan istri, sudah sejak lama mempunyai keinginan untuk meng-eksplor Taman-Taman Nasional di Indonesia.  Apalagi ketika hadirnya Azzam, anak laki-laki kami, keinginan itu bertambah kuat. 

Tujuan keluarga kami dalam menjelajah Taman Nasional adalah selain sebagai rekreasi keluarga, juga tentunya ingin memberikan edukasi (terutama kepada anak kami) sebagai generasi penerus.  Kami berharap pengetahuan dan pengalaman yang dia dapatkan akan membuat dia lebih bisa untuk menghargai dan mencintai alam, yang sekaligus akan memperluas  wawasannya.
Earth and sky, woods and fields, lakes and rivers, the mountain and the sea, are excellent schoolmasters, and teach some of us more than we can ever learn from books. John Lubbock
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/j/johnlubboc122570.html
Earth and sky, woods and fields, lakes and rivers, the mountain and the sea, are excellent schoolmasters, and teach some of us more than we can ever learn from books. John Lubbock
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/j/johnlubboc122570.html
Earth and sky, woods and fields, lakes and rivers, the mountain and the sea, are excellent schoolmasters, and teach some of us more than we can ever learn from books. John Lubbock
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/j/johnlubboc122570.html

Selain selalu berbagi atas apa yang kami ketahui, yang kami inginkan juga untuk anak kami adalah memberi dia kesempatan untuk melihat dan merasakan nya langsung. Kesempatan baginya tidak hanya tahu Taman Nasional, hutan dan segala yang ada didalamnya hanya melalui cerita, foto yang ada di buku/majalah ataupun melalui chanel-channel tv dan internet.  




"Earth and sky, woods and fields, lakes and rivers, the mountain and the sea are excellent schoolmasters, and teach some of us more than we can ever learn from books".
(John Lubbock)



Penjelajahan keluarga yang kami mulai di bulan Maret 2016 ini kami beri slogan/tagline #FamilyGoesToNationalPark yang didukung oleh #EigerAdventure.  Tentunya sesuai tagline nya, ingin mengajak keluarga-keluarga di Indonesia untuk menjelajahi Taman-Taman Nasional di Indonesia yang sangat kaya akan ilmu.
Kami akan mencoba berbagi apa yang kami rasakan, lihat dan alami dan berharap dapat bermanfaat bagi orang lain.


#FamilyGoestoNationalPark

Setelah membuat beberapa survey melalui tulisan, video di internet dan juga berbicara pada beberapa kawan, akhirnya kami memutuskan Taman Nasional Gunung Leuser sebagai tujuan pertama dalam misi kami untuk menjelajahi Taman-Taman Nasional di Indonesia.  Meskipun dalam perjalanan sebelumnya kami sudah pernah mengunjungi beberapa Taman Nasional di Indonesia.  
Taman Nasional Gunung Leuser sendiri mempunyai beberapa pintu masuk, karena memang wilayahnya yang mencakup provinsi Aceh dan Sumatra Utara.    

Sekitar 2 jam lebih 10 menit kami terbang dari Jakarta ke Medan dengan Citilink.  Di pintu kedatangan, tampak seseorang dengan kertas bertuliskan nama saya.  “Mas Bibit, ya?” ujar saya.  Dia mengangguk.  Mas Bibit inilah yang akan membawa kami ke Bukit Lawang di hari pertama ini.
“nanti jalanan nya agak sedikit rusak dan berlobang, mas”, ujar mas bibit kepada saya di tengah-tengah obrolan kami di dalam mobil. Menurut mas Bibit, jalanan yang rusak menjadi salah satu alasan wisatawan dari Kota Medan ke Bukit Lawang.  Medan adalah kota besar yang lumayan dekat dari Bukit Lawang, dapat menjadi pengunjung lokal yang potensial.

Kira-kira 3 jam perjalanan akhirnya kami sampai di Bukit Lawang.  Bang Zefri dari Ecolodge, tempat kami akan menginap, tampak berdiri menyambut kami di parkiran.
Setelah check-in, kami lalu dikenalkan dengan Putra.  Putra inilah yang akan menjadi guide kami untuk masuk ke dalam kawasan TNGL. 
Besok adalah rencana kami untuk trekking kesana, maka hari ini kami putuskan unutk mengekspor daerah sekitar, sekaligus sebagai pengenalan.

“kita ke sungai landak aja, disana bagus untuk berenang, main air. Sepi juga” ujar Putra.  Sepakat dengan usulannya, kamipun ke sungai landak dan sampai disana dalam waktu sekitar 45 menitSaat kami tiba, tampak hanya ada 2 orang disana yang sedang berenang.  Kami pun segera ikut menyebur kedalam sungai sekaligus membasuh badan yang memang berkeringat setelah trekking menuju sungai ini.
Tak peduli dengan dinginnya suhu air di tempat ini, azzam seakan tak mau keluar dari dalam sungai yang bening dan bersih itu.  Apa daya, berlama-lama di air akhirnya membuat perut kami terasa lapar.  Teh dan kopi hangat juga mie rebus telah menyambut dipinggir sungai. 
Sore itu hujan sempat turun sebentar menemani perjalanan kami kembali ke penginapan.


Main air...

Keesokan harinya sekitar pukul 8 pagi, kami memulai perjalanan ke TNGL.  Putra, sang guide membawa satu orang kawannya untuk ikut menemani kami, Rudi namanya.
Welcome To Gunung Leuser National Park. Begitu tulisan yang terpampang di gapura sebagai tanda kami akan memasuki wilayah Taman Nasioanal Gunung Leuser.


Sumatran Orangutans are critically endangered !

Welcome To Gunung Leuser National Park
  
“Nah, ini Zam giant ant (semut raksasa).  Yang ini betina, kalo yang jantan kepalanya lebih besar lagi” ujar Putra sambil menunjukkan seekor semut berukuran sekitar 3 cm yang diletakkan di telapak tangannya.  “wah, besar ya semut hutan”, sahut Azzam yang langsung memotret semut tersebut dengan kameranya.
Iguana, monyet ekor panjang dan thomas leaf monkey dan orangutan termasuk hewan-hewan yang juga kami jumpai selama trekking

“Mana Orangutan nya ?” tanya Azzam pada Putra.  “Sebentar lagi mungkin kita ketemu mereka. Berdoa aja” jawab Putra.  Memang, untuk bertemu Orangutan agak sedikit butuh keberuntungan, karena memang cara hidup mereka yang berpindah-pindah.  Tak hanya di satu tempat saja.
Selang beberapa puluh meter berjalan, kami melihat beberapa orang sedang melihat ke arah atas.  Nah rupanya di area ini ada Orangutan nya.  Kami pun berhenti di tempat itu.
Satu persatu pengunjung berdatangan di tempat itu.  Semuanya berhenti, melihat takjub, dan tak lupa mengabadikan Orangutan itu dengan kamera-kamera mereka.
Di Indonesia Orangutan Sumatra merupakan spesies mamalia yang dilindungi.  Hewan yang termasuk dalam spesies langka ini masuk dalam program konservasi di TNGL, namun ketika mereka sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya, mereka akan dilepas ke alam bebas. 


Sang Raja Kawasan

Tuh zam, liat gak ada yang bareng anaknya . Lucu ya ? ujar istri saya sambil menunjuk ke salah satu pohon.  Azzam pun memandang ke atas menuju arah yang ditunjuk bundanya.
“Yang itu namanya si Pesek” ujar Putra menjelaskan.  Rupanya tiap-tiap Orangutan yang ada di kawasan ini diberikan nama ketika.
Seekor Orangutan jantan turun dari atas pohon dan kemudian berjalan di tanah. Para guide pun menginstruksikan pada para pengunjung untuk menjaga jarak aman dengan primata tersebut.  
Setelah beberapa lama disana, kamipun melanjutkan perjalanan.

Selang setengah jam berjalan, saatnya kami berstirahat. Rudi yang menemani dengan sigap mengeluarkan buah semangka dan nenas dari dalam tasnya lalu memotong-motongnya untuk disantap.  Nikmat rasanya menyantap pisang dan nenas setelah trekking.  Menikmati buah-buahan segar sambil menikmati pemandangan hutan yang indah.  Merasa sudah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.  


Istirahat dulu...

Sedang asyiknya kami menikmati trekking, tiba-tiba Rudi mencoba memberi tahu kami yang berjalan didepan “Tuh, ada si Wati diatas” ujarnya setengah berteriak.  Ternyata ada lagi Orangutan yang kami temui.    Mengambil posisi masing-masing, kamipun melihat tingkah Wati si Orangutan yang bergelantungan diatas pohon.  Dia berpindah-pindah dari satu batang pohon ke batang lainnya.  Selang 20 menit, perjalanan kami teruskan, rupanya wati si Orangutan sempat mengikuti kami dari atas pohon sejauh beberapa puluh meter.

Trekking

Akhirnya sampailah kami dipingir hutan dan memasuki jalanan yang merupakan tumpukan batu-batu berukuran sedang.  Di sebelah kanan sudah terdengar riak Sungai Bahorok.  Perjalanan kami trekking di hutan TNGL yang memakan waktu sekitar 3 jam akan kami lanjutkan dengan menilkmati sejuknya suhu air Sungai Bahorok yang bersih dan jernih.  Badan kami yang sudah berkeringat, terasa kembali segar ketika menceburkan diri kedalam sungai.  Azzam menikmati sungai dengan berendam, berenang, menyeberang sungai yang arusnya lumayan deras.  Putra dengan setia selalu menemaninya.  Dalam hal bersosialisasi dengan orang yang baru dikenalnya, Azzam termasuk cepat beradaptasi.  Mungkin ini juga karena sejak kecil dia sudah terbiasa bertemu orang-orang baru yang bukan dari lingkungan dekatnya.


Gembira....

Dipinggir sungai ada seseorang yang sedang menyatukan ban-ban dalam yang berukuran besar dengan tali.  Rupanya orang tersebut yang nantinya akan membawa kami kembali ke bawah dengan mengarungi sungai bahorok.
Setelah menghabiskan makan siang dipinggir sungai dan masih merasa belum puas bermain air, kami semua kembali kedalam sungai ditengah-tengah cuaca yang memang cukup panas.
“Ayok, udahan. Kita pulang ya?” ujar saya.  Sambil mengkerutkan mukanya Azzam berkata “Yah, udahan ya?” “Ntar di bawah sana masih bisa main air lagi kok, zam” saut Putra.  Rupanya omongan Putra itu cukup menenangkan Azzam.  Kami semua naik ke atas ban dalam termasuk perlengkapan bersiap untuk mengarungi sungai.

Tak terasa sekitar setengah jam, melewati beberapa jeram kecil dan juga air yang tenang akhirnya kami tiba diakhir perjalanan hari ini.  Sepanjang pengarungan, tampak terlihat para pengunjung yang menikmati menghabiskan hari Minggu mereka disana.
Di garis akhir perjalanan tubing, azzam masih menghabiskan waktu hingga sore, bermain-main di sungai sebelum akhirnya kami kembali ke penginapan. 
Malam harinya, kami kembali membereskan segala perlengkapan kami, karena besok akan meneruskan perjalanan ke Tangkahan.

6 comments:

  1. Huahuahua; seru kalau main abreng keluarga, apalagi adeknya sudah kuat jalan sendiri :-D

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. wah, kalo salam kita harus balik lagi nih keknya :))

      Delete
  3. Asik banget Bang Dede jalan-jalan keliling Taman Nasional. Kalau aku masih di Bali dan lagi di Taman Nasional Bali Barat, jangan lupa info-info yaaa.. Siapa tahu aku bisa nebeng haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih kak first, akhirnya bisa coba kita mulai penjelajahan tamn nasional nya. semoga bisa terus dan semesta mendukung! Sip2 akan berkabar :))

      Delete

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...