Wednesday, April 27, 2016

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Bagian 2 - Merasakan Harmoni Alam Tangkahan (FamilyGoesToNationalPark)





Hari masih gelap, jarum di jam tangan menunjukkan pukul 05.20 tatkala alarm di handphone membangunkan saya.
Azzam dan bundanya masih tertidur pulas. Perlahan, saya membangunkan istri saya dan kemudian diapun bergegas untuk mandi.
Saya memilih untuk tidak mandi di pagi hari yang dingin itu, begitu pula dengan Azzam.

Sesuai dengan janji, kami akan berangkat dari Bukit Lawang jam 06.00, saya pun mengontak Bang Ucok yang akan membawa kami menuju Tangkahan. "Dimana, bang Ucok?" ujar saya.  “Udah dekat nih. Sori ya, tadi isi minyak dulu” balasnya. Kamipun segera memasukkan satu persatu ransel-ransel ke dalam mobil.
Deru mesin Diesel mobil Taft 4x4 membelah sunyinya Bukit Lawang dipagi itu. Perjalanan menuju Tangkahan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam dalam kondisi normal.  Saya membayangkan jika jalanan tanah berlobang dan bebatuan ini diguyur hujan, pasti akan sulit dilewati oleh mobil yang tak bergardan ganda.

“Saya disebelah sini, bang” jawab Kak Wiwin saat saya menelepon nya begitu kami sampai di depan kantor Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT).
Segera kami menurunkan ransel-ransel dari dalam mobil, kak Wiwin pun menghampiri saya seraya berkata “selamat datang di Tangkahan, bang….” Saya tersenyum membalasnya.
Setelah mengenalkan istri dan anak saya, kami pun mengkonfirmasi rencana yang telah kami bicarakan beberapa hari sebelum kami berangkat ke Medan.

Tangkahan yang terletak di Langkat, Sumatra Utara ini merupakan salah satu pintu masuk menuju TNGL.  Ketika menyebut Tangkahan, salah satu yang akan terngiang adalah ”Gajah”.  Gajah-gajah disana berada dalam pengawasan CRU (Conservation Response Unit).  Gajah-gajah ini digunakan untuk berpatroli di kawasan TNGL.  Dalam hal kegiatan pengunjung yang ingin memandikan gajah, LPT inilah yang berkerjasama dengan CRU. 

Pagi itu kami langsung dibawa ke kandang gajah.  Disana terlihat beberapa ekor hewan besar itu sedang menyantap sarapan paginya.  Ada 2 ekor gajah kecil yang masih berumur 2 tahun-an.  Gajah-gajah pun lalu digiring berbaris rapi menuju sungai.  Kami bertiga dan 1 keluarga lagi, pengunjung asal Amerika mengikuti dari belakang.
Disinilah aktifitas kami pagi ini dengan memandikan gajah.  Satu persatu gajah masuk ke dalam sungai lalu merebahkan badannya setelah diberi perintah oleh Mahout (pawang gajah). Para pengunjung yang telah dibekali sikat, boleh memilih gajah mana yang akan dibersihkan.  

memandikan gajah



Semua orang tampak excited dan senang dalam melakukannya.  Dengan aba-aba dari Mahout, si gajah menyemprotkan air dari belalainya ke arah pengunjung. Byuurrrr…….bagaikan di semprot selang besar, basahlah seluruh badan kami.  Jadilah pagi itu kami mandi bersama gajah-gajah sekaligus memberi makan dengan pakan yang sudah disediakan.


Dimandiin gajah :))
 
Bersama Mahout dan gajah


Setelah kegiatan memandikan gajah, kami check-in di Mega Inn (salah satu dari 20-an penginapan di Tangkahan) dan bertemu dengan Pandi sambil menyantap makan siang.  Pandi adalah guide yang akan menemani kami besok untuk trekking dan menginap di hutan.  “rencana mau ngapain lagi hari ini, mas?” tanya Pandi ke saya.  Saya balik bertanya padanya “kira-kira kita bisa kemana sampai sore nanti?”. Dari percakapan kami akhirnya kami putuskan untuk trekking menyusuri sungai.  “Kita bisa singgah di air terjun dan mandi-mandi di dekat penginapan Green Lodge sana” ujarnya
Sekitar 15 menit berjalan, sampailah kami di air terjun garut, sebuah air terjun kecil namun airnya cukup deras.  Kami bertiga mencoba duduk dibawah air terjun sesuai arahan Pandi.  “Lumayan kan? rasanya seperti di pijit?” ujarnya dan kami pun mengiyakan setelah merasakan jatuhan air ke punggung kami.  Setelah puas merasakan sejuk dan pijatan air terjun guntur, kami melanjutkan menyusuri Sungai Batang.
Di sungai batang yang bersih dan dingin ini, saatnya bagi kami untuk menyegarkan diri lagi.   


Sungai Batang

Setelah sekian lama bermain-main di sungai, hanya Azzam rupanya yang bertahan berlama-lama di air yang cukup dingin tersebut. Untuk menghangatkan tubuh, kami sepakat untuk mendatangi cafe green lodge yang letaknya agak keatas.  Mie goreng, kopi dan teh menjadi pilihan yang cocok rupanya untuk cuaca yang mulai mendung tersebut.  Ditambah pemandangan ke arah hutan TN Gunung Leuser yang indah.

“Yah, kan hujan deh” ujar Azzam yang sebenarnya masih ingin main di sungai, .  Namun dia bisa menerima penjelasan kami bahwa agak berbahaya untuk bermain di sungai saat hujan yang lumayan lebat.  
Ketika hujan mulai mereda dan hari semakin sore, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan mega inn yang berjarak sekitar 10 menit dari green lodge.


Pemandangan hutan Leuser dari cafe

Saya memesan secangkir kopi, istri memilih teh dan pisang goreng, sedangkan Azzam dengan susu dan pancake untuk sarapan kami pagi itu sambil menunggu Pandi yang akan menemani kami untuk menginap di hutan malam ini.
“selamat pagi” ujar Pandi ketika kami masih sedang menyantap sarapan.  “Pagi, udah sarapan?” tanya saya padanya.  “Sudah” jawabnya singkat.

2 ransel besar kami titipkan di penginapan, kami hanya membawa keperluan pribadi saja.  Dengan menaiki 2 sepeda motor, kami menuju tempat dimana untuk memulai trekking.
Dimulai dari melewati jembatan kayu sepanjang sekitar 100 meter yang kayu-kayunya berjarak lumayan jarang dan tampak sudah lama, kami harus ekstra hati-hati dalam melangkah sambil berpegangan pada tali yang dipasang sebagai pengaman.

Jembatan menuju hutan

Melewati jembatan, kami mulai memasuki wilayah ladang warga.  Ladang warga ini langsung berbatasan dengan wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Setelah berjalan sekitar 45 menit, kami sampai di sebuah sungai.  “Nah, kita tinggal menyeberang kesana, langsung masuk ke wilayah TNGL” ujar Pandi memberi tahu kami sambil menunjuk ke seberang sungai.  Dia pun mulai mengeluarkan tas kantong plastik ukuran besar untuk membungkus ransel, sepatu kami agar tidak basah ketika menyeberang.  Saya dan Pandi menyeberangi sungai sebatas dada dengan membawa barang-barang yg sudah dibungkus tadi.  Istri saya memilih menaiki ban dalam milik warga yang kebetulan bertemu disana.  Pandi mendorong ban dalam untuk menyeberangkan istri saya, sementara Azzam berenang disekitar ban dalam dengan girangnya.

Sambil menunggu 2 teman porter lainnya yang menyusul, kami menghabiskan waktu dengan berenang dan bermain di sungai dengan pemandangan yang memanjakan mata.
“Nah itu mereka datang” teriak Pandi saat terlihat 2 orang di seberang sungai dengan 2 ransel besar.  Jempol dan Doman itu nama mereka.  Sesaat sampai di tempat kami, mereka langsung menyiapkan makan siang kami. 
Selepas makan siang, kami bersiap-siap memulai trekking ke dalam hutan Taman Nasional Gunung Leuser. 

Tipikal hutan hujan tropis langsung terasa ketika kami masuk kedalamnya.  Hutan yang lebat dan rapat semakin indah ditambah suara burung-burung yang seakan-akan menyambut kedatangan kami. Taman Nasional Gunung Leuser sangatlah luas, mencakup hutan bakau, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah, hutan lumut, dan sampai hutan subalpine dengan berbagai ekosistem.

Hutan tropis Sumatra
Hutan tropis Sumatra

Menurut data yang pernah saya baca,  ada sekitar 130 spesies hewan dapat diidentifikasi di Taman Nasional Gunung Leuser, yaitu: harimau sumatera, gajah, badak, siamang, kera, macan tutul, reptil, ikan, dan juga 325 spesies burung di hutan yang maha luas ini.  Betapa luasnya taman nasional ini.  Bahkan beberapa teman mengomentari foto yang kami unggah.  "Kalian ketemu Leo gak?" yang mereka maksud adalah Leonardo DiCaprio, sang aktor pemenang Oscar 2016 yang kebetulan juga sedang berada di kawasan TN Gunung Leuser.  Dia masuk lewat bagian Provinsi DI Aceh, sedangkan kami dari Sumatra Utara.


Trekking

“Dulu illegal logging semacam menjadi mata pencaharian masyarakat disini.  Namun seiring berkembangnya wisata disini, banyak yang menjadi pemandu dan porter.  Maka masyarakat turut punya andil dalam menjaga kelestarian hutan di TNGL, sebagia juga kembali menyuburkan ladang-ladang mereka yang sempat agak ditinggalkan” terang Pandi pada kami.  “Wah, bagus dong” ujar saya.
Memang di beberapa tempat yang kami lewati, masih ada sisa=sisa pohon berukuran besar yang sudah diselimuti oleh lumut yang tampaknya dulu bagian dari pembalakan liar.
Para pekerja wisata disana bahkan sudah terkordinir hingga menjadi lebih teratur oleh Lembaga Pariwisata Tangkahan.

Azzam tampak ceria dan menikmati selama trekking di hutan yang memang tak dapat disangkal keindahannya.  “Gak ada sampah nya ya, pak ?” ujar Azzam yang mungkin membandingkan dengan tempat lain yang pernah dia datangi.
Sesekali kami beristirahat sambil dan minum, kami pun berpose bertiga untuk difoto pastinya. 


Pose dulu ah...
"Gak ada sampah" kata Azzam.  Cuma daun-daun kering

Setelah berjalan sekitar 4 jam di kontur yang menanjak dan menurun, akhirnya kami sampai di depan sebuah pohon tumbang yang berdiamter sekitar 1 setengah meter.  Setelah melewati pohon tersebut tampak di depan kami sebuah gua.  Nah, inilah Gua Kambing, dimana kami akan bermalam.
Hijaunya pepohonan, kicauan burung, suara hewan-hewan lainnya dan air terjun yang tumpah dari atas goa merupakan paduan yang nyaris sempurna yang disajikan alam kepada kami. 

Tempat kami bermalam

Tadinya di malam hari kami rencanakan untuk melakukan “eksplorasi malam”, namun niat itu terpaksa kami urungkan karena hujan deras yang mengguyur sejak sore tadi hingga pukul 10 malam.  “lagian, pacetnya makin banyak” Jempol disela-sela pembicaraan tentang eksplorasi malam.
Wah iya, sore tadi ketika sampai di gua kambing, beberapa pacet yang sudah gemuk memang masih menempel di kaki-kaki kami.  Mungkin mereka sudah disana sejak trekking di dalam hutan tadi.  “Kaki bapak kayak abis tabrakan motor aja ” ujar Azzam yg melihat kaki saya yang disinggahi 5 ekor pacet. Hahahaha…. Sementara dikaki dan pundaknya pun tak luput dari pacet.
Malam harinya kami lewatkan berkumpul dengan bercakap-cakap, main tebak-tebakan, main kartu hingga akhirnya semua orang mengambil posisi masing-masing untuk beristirahat.

Terbangun di pagi hari yg cerah dengan alunan musik dari air terjun didepan mata, membuat suasana pagi begitu menyenangkan dan menenangkan. Jempol dan Doman tampak berada di ‘dapur’ menyiapkan sarapan.
Duduk sambil menyeruput teh dan kopi dengan pemandangan dan suasana luar biasa didepan mata, karena bukanlah hal yang bisa kami dapati sehari-hari.

Sarapan dengan ayam bakar, sayuran, sambal dan tak lupa buah nenas dan semangka utk pencuci mulut sudah dihidangkan.  “Makan yang banyak, Zam. Biar trekking nya kuat” ujar saya pada Azzam.  Diapun mengangguk mengiyakan.
2 porter kami sudah tampak menunggu di area yang sedikit luas ketika saya, bunda, Azzam dan Pandi sudah berjalan sekitar 30 menit dari gua kambing.  Kami berempat memang mengambil jalan yang sedikit memutar lebih masuk kedalam hutan.

Istirahat

“Kok gak berdarah ya?” ujar Azzam sambil membiarkan pacet yang dia biarkan bermain melompat-lompat di tangannya ketika sedang duduk beristirahat.  “Lah, kan dia gak abis hisap sesuatu, zam”, terang saya.  Dia juga menemukan lagi semut raksasa (giant ant) disekitaran tempat itu.

Perjalanan pun berlanjut hingga akhirnya kami sampai di pinggir sungai ditempat kami memulai trekking memasuki kawasan TNGL kemarin.
“Yeeeaaa….” teriak Azzam seakan tak sabar untuk lagi bermain di sungai.  Sementara makan siang di persiapkan, kembali kami bermain di sungai.  Kali ini bunda ikutan, tidak seperti kemarin.  Sehabis makan siangpun, Azzam kembali bermain di sungai, seperti tak terhentikan kenikmatan bermain di sungai merupakan bonus baginya.

Matahari sudah meninggi.  Saatnya semua orang naik ke atas ban dalam masing-masing. Jempol dan Doman menaiki beberapa ban dalam yang sudah dijadikan satu, sekaligus bersama ransel-ransel yang sudah di packing dalam kantong plastik besar.

Semua senang......

Begitu tau perjalanan pulang dengan menggunakan ban dalam (tubing), Azzam berteriak “seruuuuu….” Teriaknya.
Ditengah riak air yang sedang dan kadang ada yang agak tenang akhirmnya kami sampai di ujung perjalanan, tepat di dekat tempat kami menginap.
Dalam perjalanan kembali yang memakan waktu sekitar 45 menit, Azzam beberapa kali dengan  sengaja melompat dari ban dalam dan berenang girang.

Setelah mengucapkan terima kasih pada Jempol dan Doman yang sudah menemani masuk ke dalam hutan, kami masih lanjut bermain-main di sungai.  Bahkan setelah makan siang, kami kembali ke sungai dimana kami bermain beberapa hari yang lalu, menghabiskan waktu hingga sore hari menjelang.

Hari terakhir di Tangkahan, Mega sang pemilik penginapan sempat menemui kami.  “Sampai ketemu lagi ya, dan beritahu teman kalian yang lain untuk kesini” ujarnya.  “Pastinya, bang!” balas saya sambil menjabat tangannya.
Dalam hati, saya pun berharap kami dapat kembali ke tempat ini dalam waktu yang lebih lama.  Semoga….

Mobil yang sudah terparkir sejak pagi tadi, mengantarkan kami ke Medan.  Sebelum pulang ke Jakarta, kami msempat enghabiskan semalam menginap di Kota Medan.
Terima kasih Tangkahan, terima kasih teman-teman yang sudah membantu kami selama disana.  Sampai bertemu lagi….

9 comments:

  1. Replies
    1. jangan om... mending kita dukung dan lanjutkan hahaha

      Delete
  2. Eh foto dan cerita nya ada disini. Keren mandiin gajah, aku kmrn juga mandi ama gajah di sungai nya.
    Gigitan pacet nya nyebelin banget yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. mandi sama gajahnya, sempakan? hahahaha

      Delete
  3. Kerenn banget cerita dan fotonya. Kedua anak saya suka banget sama gajah..kalo mereka udah gedean dikit mau tak ajak kesini ah..thanks for sharing mas sukmadede dan salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas Indra...wah semoga anak2nya segera bisa ketemu gajah di alam terbuka.
      makasih sudah mampir, mas. salam kenal juga :))

      Delete
    2. Alhamdulillah ,
      senang membaca dan mengikuti perjalanan Keluarga Mas Sukmadede.
      ikutan Bangga.
      Indonesia memang harus diexplore lebih jauh lebih dalam.
      menularkan kebiasaan baik kepada alam memang harus dari keluarga.
      Semoga selalu diberi kemudahan untuk setiap petualangannya.....

      Delete
    3. Alhamdulillah kalau apa yang kai share bisa bermanfaat atau menginspirasi orang lain. Terima kasih untuk doanya dan sudah mampir di blog saya :)

      Delete
  4. wow keren ya! Indonesia memang penuh dengan keanekaragaman, cek disini Beautiful Indonesia untuk lihat keanekaragaman Indonesia lainnya ya

    ReplyDelete

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...