Thursday, July 27, 2017

Mengintip Kakaktua di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti

Bukit Laybola
“Selamat pagi ?” ujar saya menyapa seseorang yang sedang duduk di teras rumah Raja Prailiu.  “Selamat Pagi” ba;asnya sambil tersenyum.  “Om Melky ya ?” lanjut saya dan ia pun mengangguk.  Saya lalu memperkenalkan istri dan anak saya.
Dua hari sebelumnya saya sudah sempat berbicara dengan om Melky namun belum bertemu langsung.  Om Melky lah yang akan mengantarkan kami untuk ke Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.
Tak lama kemudian, Mama Eta sang tuan rumah keluar lalu menyuruh kami untuk menyantap sarapan pagi sebelum meninggalkan Kampung Prailiu.

Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti yang akan kami kunjungi merupakan perwakilan semua tipe hutan di Pulau Sumba, termasuk hutan elfin yang jarang terdapat dan memiliki keanekaragaman jenis bernilai cukup tinggi terutama yang terdapat pada ketinggian 800 meter dari permukaan laut.
Gunung Wanggameti (1225 mdpl) yang masuk dalam wilayah Taman Nasional adalah titik tertinggi di Pulau Sumba, salah satu provinsi di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti merupakan bagian tak terpisahkan dari lingkungan sekitarnya dimana keduanya terjadi interaksi yang saling mempengaruhi. Oleh karena itu kelestarian yang menjadi prinsip pengelolaan kawasan konservasi harus mencakup tiga aspek yakni kelestarian ekologi, kelestarian ekonomi, dan kelestarian sosial budaya. 
Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti kera ekor panjang (Macaca fascicularis fascicularis), babi hutan,biawak, ular sanca Timor, dan ayam hutan. Selain itu, merupakan populasi utama burung walik rawamanu, punai Sumba dan berbagai jenis burung lainnya seperti gemak Sumba, kakatua cempaka, nuri, sikatan Sumba, kepodang-sungu Sumba, dan madu Sumba.  Kakaktua menjadi ikon dari Taman Nasional yang dijadikan Taman Nasional pada tahun 1998. 


Pintu masuk taman nasional Laiwangi Wanggameti

Pada awalnya ada 2 Taman Nasional di Pulau Sumba, namun pada tahun 2016 kedua taman nasional tersebut yaitu Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti disatukan dengan luas mencapai 90.142 hektar yang mencakup wilayah Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur.  Taman Nasional Laiwangi Wanggameti yang kami datangi ini berada di wilayah Sumba Timur.

Sekitar 45 menit berkendara dari Kota Waingapu sampailah kami di pertigaan KM. 45 meninggalkan jalan utama.  Jalanan masih beraspal namun sudah mulai mengecil.  Dengan kontur yang berkelok-kelok dan menanjak.  Terlihat om Melky sudah terbiasa dengan jalur ini dikarenakan dia adalah salah satu karyawan dari Kantor Balai Taman Nasional Matalawa (Manupeu Tana Daru dan Laiwangi Wanggameti), kendaraan yang kami gunakan pun merupakan bantuan dari Kantor Balai.

“ini dia pertigaan Tanimbang” ujar om Melky sesaat dia menghentikan mobil.  Rupanya dia mau membeli air minum dan rokok.  Saya pun turun ikut berbelanja.
Perjalanan berlanjut, tapi kini jalanan mulai medan tanah dan batu-batuan.  Makanya untuk ke taman nasional Laiwangi Wanggameti dibutuhkan kendaraan berpenggerak 4 roda (4 wheel drive) seperti yang kami gunakan.  Apalagi di akhir bulan maret ini, curah hujan masih lumayan tinggi.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, sampailah kami di Kantor Resort Praingkareha di Wudi pandak.  Kami disambut oleh Apollos dan satu orang lagi yang saat itu bertugas di kantor resort.  Begitu menurunkan barang kami memutuskan untuk segera menuju Laputi. 
Di Laputi kami pergi ke Danau Laputi, danau yang airnya sangat jernih berwarna biru kehijauan akibat pantulan sinar matahari yang mengenai dasar danau.  Teman-teman yang disana sempat bercerita tentang legenda Apu, yang berarti nenek.  Ada kepercayaan di nmsyarakat Sumba percaya bahwa Apu adalah nenek moyang mereka.  Disana kami sempat melihat beberapa ekor Apu.  “kalian beruntung bisa ketemu dengan Apu” ujar om Melky.


Danau Laputi

Perjalanan kami lanjutkan ke air terjun Laputi yang airnya mengalir ke danau tadi.  Pemandangan indah, air terjun yang bertingkat-tingkat terpampang didepan mata.
Disana kami memuaskan berenang di ari yang lumayan dingin, sekaligus menghilangkan keringat kami setelah trekking tadi.  Hari semakin sore, kamipun kembali ke kantor resort dimana kami akan bermalam.


Air Terjun Laputi

Bermain air

Jam 05 pagi kami sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Bukit Laybola.  Untuk menuju puncak bukit kami harus trekking selama sekitar 1 jam saja.  “Disini salah satu tempat pengamatan burung” ujar Apollos sambil mengunakan teropong (binacullar) nya. Kami pun diberikan kesempatan untuk melihat pemandangan sekitar dengan binacullar secara bergantian.  “Kelihatan pak burung-burungnya diatas pohon”, ujar Azzam.
Saat itu kami beruntung masih dapat melihat beberapa ekor burung yang berada di pohon-pohon tinggi meskipun dari kejauhan, seperti mengintip-intip. 


Trekking

Azzam mengintip Kakaktua

Matahari mulai meninggi, kami pun memutuskan untuk turun.  Selang beberapa puluh meter berjalan, awan yang mulai menggelap, diikuti oleh turunnya hujan.  Semua orang segera memakai jas hujan masing-masing untuk melanjutkan perjalanan.  Kami sempat berhenti di salah satu sungai kecil di dalam hutan. 

Sampai kembali di kantor resort, kami masih mempunyai waktu untuk mandi, membersihkan diri sebelum makan siang. Setelah pamit dan berterima kasih pada 2 petugas taman nasional yang sudah membantu selama disana, kami harus meninggalkan Taman Nasional ini untuk melanjutkan perjalanan ke Sumba Barat.


Di depan Kantor Resort

1 comment:

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...