Friday, July 28, 2017

Rafflesia Arnoldii, Si Cawan Hantu Dari Bengkulu




Apa yang ada di benak kamu kalau disebut kata “Bengkulu”? begitu pertanyan saya pada beberapa teman.  Jawabannya berbeda-beda, ada yang menjawab Sumatra, Melayu, hingga Tempoyak.  Ada sih yang menjawab Rafflesia, itupun karena memang sempat “googling” sesaat sebelum ke Bengkulu.
Hari itu adalah hari pertama saya menginjak tanah Bengkulu, daerah yang juga mempunyai tadisi budaya tabut yang diperingati setiap 1 sampai 10 Muharam.

Bersama dengan sekitar 30-an lebih travel blogger yang berasal dari berbagai kota, kami meninggalkan Bandara Fatmawati Soekarno untuk menuju ke daerah Curup yang merupakan ibukota kabupaten Rejang Lebong.  Kami berada di Bengkulu atas undangan dari Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu.

Di dalam bus setelah menyampaikan kata-kata sambutan, Mike sang guide mengingatkan kami bahwa kami akan melalui jalan berkelok-kelok yang dinamakan kelok Sembilan..  Dari namanya saja sudah terbayang jalanan yang berkelok-kelok seperti kelok 44 yang ada di Sumatra Barat.  Dan jangan tertipu oleh sebutannya yang sembilan, dari yang sudah kami lalui jalanan yang berliku-liku dengan tikungan tajam itu kalo dihitung-hitung bisa sekitar puluhan kelokan.

Selang sekitar 50 menitan setelah meninggalkan bandara, tiba-tiba saja bus yang kami tumpangi berhenti di pinggir jalan.  Mas Nody yang juga guide kami di hari itu, menyampaikan bahwa mereka mendapat informasi bahwa ada bunga Rafflesia yang sedang mekar di sekitar sini.  “Kita dapat informasi disini ada bunga Rafflesia yang sedang mekar nih.  Tampaknya in I hari keberuntungan kita” ujarnya.  Dan saat kami satu persatu turun dari bus, Nampak dipinggir jalan ada spanduk yang bertuliskan “Rafflesia Mekar” yang ditambahi dengan gambar bunga rafflesia seadanya. 
Tak semua orang yang datang ke Bengkulu bisa melihat secara langsung bunga ini ketika sedang mekar.  Bahkan ada yang mengaku orang Bengkulu, tapi belum pernah melihat bunga raksasa ini secara langsung.




Menurut info memang dari masyarakat lokal lah biasanya informasi dimana dan kapan bunga Rafflesia itu sedang mekar, atas usaha mereka biasanya pengunjung akan memberi semacam “sumbangan” sukarela sebagai timbal baliknya.

Jalan tanah setapak dan menurun harus kami lalui untuk menuju spot dimana bunga rafflesia yang sedang mekar.  Secara berbaris kami menjejakkan kaki di tanah yang untungnya tidak licin.  “Untungnya tidak hujan, kalo iya bisa agak susah nih jalannya” ujar mas Nody.  Saat itu kami berada di Hutan Lindung Liku Sembilan, kawasan Tabah Penanjung.
Saya berjalan di belakang fahmi, teman saya.  Sedangkan paling depan adalah warga lokal yang akan menuntun kami menuju dimana bunga Rafflesia berada.  Selang 10 menit berjalan, sampailah kami melihat bunga yang bagi sebagian orang masih di kira sama dengan bunga bangkai.  Satu persatu teman-teman bergantian memfoto atau berfoto bunga langka itu, seraya mengaguminya.

Padma Raksasa atau dalam bahasa latinnya disebut Rafflesia Arnoldii merupakan tumbuhan parasit yang terkenal karena memiliki bunga berujuran yang sangat besar.  Yang kami lihat disana saat itu, berdiameter sekitar 60 cm.
Bunga yang tidak memiliki daun ini, penamaannya tak lepas dari sejarah penemuannya pertama kali pada tahun 1818 di hutan tropis Bengkulu, disekitar Sungai Manna, kabupaten Bengkulu Selatan.  Seorang pemandu lokal yang berkerja untuk Dr, Joseph Arnold yang menemukan bunga ini pertama kali.  Dr. Joseph Arnold sendiri ikut dalam suatu ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.  Dari sinilah asal penamaan bunga raksasa tersebut.

Tumbuhan endemik di Pulau Sumatra ini sebenarnya sudah mempunyai nama dari masyarakat lokal.  Konon, suku Bengkulu yang menemukan bunga ini sebelum adanya ekspedisi yang dipimpin oleh Sir Stamford tadi, menamakan bunga ini sebagai bunga sekedei atau bokor setan dan sebagaian lagi menyebutnya ibeun sekedei atau cawan hantu.

Setelah semua orang mendapatkan waktu untuk melihat dan berfoto secara dekat bunga yang hanya mekar selama tujuh hari ini, kami pun harus kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Curup.





No comments:

Post a Comment

Rumah Pengasingan, Perjuangan Dan Cinta Bung Karno Di Bengkulu

Nama Soekarno memang dikenal harum di dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, dan kepiawaiannya dalam me...